DIANISEKARING investigasi kecelakaan pesawat

Bagaimana Proses Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara Dilakukan? – 9 Januari 2021, dunia penerbangan Indonesia kembali berduka. Pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ 182 rute Jakarta – Pontianak hilang kontak 4 menit setelah lepas landas. Diketahui, pesawat tersebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Di tengah kondisi duka tersebut, muncul para aviation expert dadakan yang membuat analisis penyebab jatuhnya pesawat SJ 182 berdasarkan data penerbangan yang tercatat di Flight Radar. Padahal, untuk menentukan penyebab sebuah kecelakaan pesawat dibutuhkan investigasi panjang oleh ahli yang kompeten di bidangnya.

Tujuan Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara

Berdasarkan Document 9756 International Civil Aviation Organization (ICAO), organisasi penerbangan sipil internasional yang berjudul Manual of Aircraft Incident and Accident Investigation, tujuan dari investigasi kecelakaan pesawat udara adalah untuk pencegahan kejadian serupa terulang di masa depan.

Ilustrasi kabin pesawat. Photo by Suhyeon Choi on Unsplash

Tujuan dari investigasi kecelakaan pesawat udara bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah. Apabila terdapat tindakan hukum yang diambil, hal tersebut merupakan bagian terpisah dari investigasi dimaksud.

Investigasi harus dapat mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya kecelakaan pesawat udara, baik yang berhubungan secara langsung maupun tidak. Rekomendasi akhir hasil investigasi bertujuan untuk menghindari dan meminimalisir korban jiwa dalam kecelakaan pesawat di masa yang akan datang.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Duduk di Kursi Dekat Pintu Darurat Pesawat

Siapa yang Melakukan Investigasi?

Berdasarkan panduan dari International Civil Aviation Organization (ICAO), lembaga di bawah PBB yang mengawasi penerbangan sipil/ komersial, investigasi kecelakaan penerbangan dilakukan oleh negara tempat kecelakaan terjadi.

Di Indonesia, lembaga yang melakukan investigasi kecelakaan transportasi adalah KNKT/ Komite Nasional Keselamatan Transportasi. KNKT bertugas untuk melakukan investigasi kecelakaan transportasi darat, laut, dan udara serta memberikan rekomendasi agar kecelakaan yang sama tidak terulang di masa depan.

Tahapan Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara

Pesawat udara. Photo by John McArthur on Unsplash

Secara umum, berdasarkan panduan KNKT, investigasi kecelakaan pesawat udara terbagi menjadi 2 tahap. Tahapan pertama yaitu pengumpulan data dan fakta mengenai pesawat udara, informasi dari para saksi di lapangan, kondisi lingkungan dan alam, serta hal-hal lain yang terdampak dari kecelakaan dimaksud.

Tahapan kedua, yang merupakan bagian paling kompleks, adalah analisis dan interpretasi data. Dalam tahapan ini, semua data, fakta, dan informasi yang telah terkumpul diuji untuk menentukan kesimpulan dan faktor yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi.

Baca juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Pesawat Lepas Landas

Pemberitahuan Kecelakaan Pesawat Udara

Umumnya, yang pertama kali mengetahui adanya indikasi kecelakaan pesawat udara adalah petugas Air Traffic Controller (ATC)/ pengatur lalu lintas udara yang memantau melalui radar.

Apabila terjadi kecelakaan pesawat udara, maka pihak yang menjadi saksi mata harus segera menginformasikan kejadian tersebut kepada otoritas terkait (Kementerian Perhubungan, KNKT, polisi/ militer, SAR, dll). Informasi kecelakaan harus ditanggapi sesegera mungkin, sebelum barang bukti rusak maupun hilang.

KNKT sebagai pihak yang bertugas untuk melakukan investigasi kecelakaan pesawat menerima Laporan Awal yang meliputi data sebagai berikut:

a. Nomor registrasi, tipe, dan operator pesawat udara
b. Hari, tanggal, waktu dan lokasi kejadian
c. Ringkasan kejadian
d. Akibat kecelakaan dan jumlah korban
e. Rute penerbangan
f. Jumlah awak pesawat dan penumpang
g. Informasi tentang lokasi kejadian
h. Informasi tentang adanya muatan barang berbahaya (dangerous goods)

Selanjunya, notifikasi disampaikan oleh KNKT kepada negara tempat pesawat terdaftar (State of registry), negara operator (state of operation), negara tempat pesawat dirancang (state of design), negara tempat pesawat diproduksi (state of manufacture) dan kepada ICAO untuk pesawat dengan berat di atas 2.250 kg.

Tim Investigasi Terdiri dari Para Ahli di Bidangnya

kecelakaan pesawat dianisekaring
Proses investigasi kecelakaan pesawat SJ182 oleh KNKT. Foto: EPA. Sumber

Tim investigasi KNKT dibentuk dari para ahli di berbagai bidang untuk mendapatkan laporan hasil akhir yang komprehensif. Bidang tersebut adalah:

a. Operasi
b. Air Traffic Controller (ATC)
c. Meteorologi
d. Human factors
e. Struktur pesawat
f. Sistem pesawat
g. Powerplants/ mesin pesawat
h. Pemeliharaan pesawat
i. Aspek penyelamatan (survival factors)
j. Performa pesawat
h. Flight Recorders
(Flight Data Recorder/ FDR dan Cockpit Voice Recorder/ FDR atau yang dikenal dengan istilah “black box”)
l. Metalurgi
m. Kebandarudaraan
n. Organisasi dan Manajemen

See, Bund? Banyak banget kan bidangnya?

Jadi ya menurut saya sotoy banget orang yang menganalisa penyebab kecelakaan pesawat cuma dari data penerbangan yang ada di FlightRadar. It’s very disrespectful, bukan hanya kepada para korban dan kru pesawat, tapi juga pada industri penerbangan dan masyarakat.

Initial Action di Lokasi Kecelakaan Pesawat Udara

aircrash lion dianisekaring
Kecelakaan pesawat Lion Air di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, 2013. Sumber: Associated Press

Sebelum petugas datang, lokasi kecelakaan pesawat udara harus steril dari gangguan, seperti yang diungkapkan oleh ICAO dalam Document 9756 sebagai berikut:

The wreckage should be left undisturbed until the arrival of the investigation team. It should be emphasized to the police and rescue services that the bodies of persons killed in an accident involving a large aircraft should, where practicable, be left in situ for examination and recording by the disaster victim identification team, as well as by the investigation team. Similarly, personal belongings should remain untouched as their location may assist in the identification of the victims. In general, disturbance of the wreckage shall be limited to that necessary to rescue survivors, extinguish fires and protect the public.

International Civil Aviation Organization (ICAO)

Apabila memungkinkan, jenazah korban beserta puing-puing pesawat dan barang pribadi korban harus dibiarkan pada tempatnya sebelum dicatat dan direkam oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) dan tim investigasi.

Selanjutnya, tim investigasi melakukan pengumpulan data dan informasi, mencari dan mengamankan flight recorders/ black box, dan melakukan pencarian dokumen terkait investigasi. Seluruh data dan barang bukti yang dikumpulkan dalam proses investigasi harus dijaga kerahasiaannya dan hanya boleh diakses oleh pihak yang berwenang.

Pencarian Flight Recorders

flight recorders dianisekaring
Flight recorder. Sumber: DW

Setelah menemukan lokasi kejadian impact/ tumbukan pesawat udara, maka barang yang pertama kali harus dicari oleh investigator selain puing-puing pesawat adalah flight recorders atau yang dikenal oleh masyarakat awam sebagai black box (padahal tidak berwarna hitam :D). Flight recorders terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Terkadang, proses pencarian flight recorders ini bisa memakan waktu berhari-hari hingga berbulan-bulan, khususnya apabila pesawat jatuh di lautan. Apabila terendam oleh air, maka perangkat ini akan memancarkan sinyal frekuensi khusus yang dinamakan Underwater Location Beacon (ULB). Semakin lama flight recorders/ black box menghilang, maka probabilitasnya untuk ditemukan akan semakin kecil.

Baca juga: 7 Fakta Penting Black Box Pada Pesawat

Setelah ditemukan, maka data yang terdapat dalam flight recorders akan diunduh oleh investigator. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, kepada Asumsi.co menyatakan bahwa proses pengunduhan data yang terekam dalam Flight Data Recorder (FDR) dapat memakan waktu 2 – 5 hari.

Penanganan Khusus Cockpit Voice Recorder

dianisekaring cockpit
Kokpit pesawat. Photo by Caleb Woods on Unsplash

Khusus untuk Cockpit Voice Recorder (CVR), terdapat protokol yang sangat ketat mengenai siapa yang boleh mendengarkan, seperti dikutip dalam The Conversation sebagai berikut:

In the case of the cockpit voice recording, there are strict protocols on who can listen. This is partly to protect the pilots, as the recording is solely for safety purposes and should not be used as evidence against them. This is a principle established because many pilots feared the recorder would be a “spy in the cockpit”. Another reason for limiting who listens to recordings is that they may contain very traumatic sounds associated with the last moments of those on board.

The Conversation

Akses ke Cockpit Voice Recorders (CVR) sangat dibatasi. Salah satu alasannya adalah untuk melindungi pilot. Rekaman yang terdapat dalam CVR ini hanya boleh dipergunakan untuk tujuan investigasi, bukan sebagai alat untuk menuntut pilot ke ranah hukum. Alasan lainnya adalah karena CVR mengandung suara traumatis dari saat-saat terakhir kecelakaan pesawat. Oleh karena itu, rekaman ini terlarang untuk diakses publik.

Evakuasi Jenazah dan Puing-Puing Pesawat

dianisekaring kecelakaan pesawat
Evakuasi korban SJ 182. Sumber: Tempo

Segera setelah lokasi kecelakaan pesawat ditemukan, jenazah beserta puing-puing pesawat dievakuasi ke tempat yang aman oleh SAR/ otoritas terkait. Jenazah kemudian diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), dan puing-puing pesawat apabila memungkinkan dibawa oleh tim investigasi sebagai barang bukti untuk analisis dan penyusunan laporan kecelakaan pesawat.

Saat mendengar berita tentang kecelakaan pesawat udara, tentu kita sering mendengar istilah ante mortem dan post mortem. Dikutip dari Halodoc, post mortem dan ante mortem merupakan istilah untuk data-data yang dikumpulkan untuk proses identifikasi korban kecelakaan pesawat.

Ante Mortem

Ante mortem adalah data sebelum korban meninggal. Data ante mortem didapatkan dari pihak keluarga, meliputi visual korban sebelum kecelakaan. Data ante mortem dapat berupa pakaian yang dikenakan, aksesoris, tato, tanda lahir, bekas luka, DNA keluarga kandung, bentuk gigi, dan sidik jari.

Post Mortem

Setelah data ante mortem didapatkan, maka selanjutinya tim DVI akan mencocokkan dengan data setelah korban meninggal dievakuasi. Data post mortem meliputi sidik jari, DNA, golongan darah, pakaian yang dikenakan saat kecelakaan, bentuk gigi dll. Apabila data post mortem dan ante mortem cocok, maka korban dinyatakan teridentifikasi dan selanjutnya diserahkan ke pihak keluarga.

Penyusunan Laporan Investigasi

Laporan investigasi kecelakaan pesawat udara terdiri dari laporan awal (preliminary report), draft final report, dan final report. Laporan awal (preliminary report) dipublikasikan maksimal 30 hari setelah kejadian dan hanya memuat informasi faktual serta rekomendasi yang bersifat segera. Sebagai informasi, preliminary report SJ182 bisa diakses di sini.

Draft final report disusun untuk disampaikan kepada regulator, maskapai, dan pihak yang terlibat dalam investigasi untuk mendapatkan tanggapan dalam waktu 60 hari. Apabila tidak ada tanggapan, maka pihak yang berkepentingan dinyatakan setuju dengan draft laporan dimaksud.

Yang terakhir adalah final report atau laporan akhir. Laporan ini berisi seluruh temuan dan interpretasi data yang komprehensif, serta harus diterbitkan selambat-lambatnya 12 bulan setelah kejadian.

Menurut ketua KNKT, rata-rata diperlukan waktu 12 bulan sampai faktor yang menyebabkan kecelakaan pesawat udara terungkap. See? Proses investigasi kecelakaan pesawat udara adalah proses yang sangat panjang dan melelahkan.

Maka, sungguh tidak bijak apabila ada pihak-pihak yang tidak berkompeten di bidangnya memberikan analisis berdasarkan data yang sangat terbatas. Sebagai masyarakat awam, sudah sepantasnya kita untuk menghargai jalannya proses investigasi.

Gimana, sekarang sudah lebih paham kan tentang proses investigasi kecelakaan pesawat udara? Kita diskusi yuk, di kolom comment.

Have a safe flight!

Referensi:

  1. Asumsi.co. 2021. Butuh Waktu Berapa Lama Hingga Hasil Investigasi Kecelakaan Pesawat Terungkap?. Sumber
  2. Conversation, The. 2019. Here’s How Airplane Crash Investigations Work, According to an Aviation Safety Expert. Sumber
  3. Halodoc. 2021. Ketahui Perbedaan Post Mortem dan Ante Mortem untuk Identifikasi. Sumber
  4. ICAO. 2015. Doc 9756: Manual of Aircraft Accident and Incident Investigation. Sumber
  5. Kementerian Perhubungan RI. 2017. Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 74 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 830 (Civil Aviation Safety Part 830) tentang Prosedur Investigasi Kecelakaan dan Kejadian Serius Pesawat Udara Sipil. Sumber
  6. KNKT. 2014. Buku Saku tentang Petunjuk Pelaksanaan Investigasi Kecelakaan Transportasi Udara. Sumber
  7. Tempo.co. 2021. Jokowi Instruksikan Percepat Evakuasi Sriwijaya Air SJ 182. Sumber
Share it: