vaksin anak di rumah dianisekaring

Bagi orangtua yang memiliki anak bayi hingga toddler, masa pandemi ini benar-benar membuat hati ketar-ketir. Bagaimana tidak, bayi dan toddler memiliki jadwal vaksin yang tidak boleh terlewat untuk membentuk kekebalan tubuh dari penyakit. Sementara, membawa anak ke rumah sakit sangat riskan karena rentan akan penularan penyakit. Solusinya: vaksin di rumah aja!

Mengapa Vaksin di Rumah?

Semenjak pandemi COVID-19 ini, saya maju-mundur saat hendak memvaksin anak saya. Harusnya, di bulan Juni kemarin saat berusia tepat 2 tahun, ia diberikan vaksin typhoid, Hepatitis A, serta Japanese Encephalitis. Namun, sungguh saya parno banget membawa anak ke rumah sakit.

Di rumah sakit, umumnya ruang tunggu pasien tidak dipisah antara pasien sehat dan sakit, sekalipun itu di rumah sakit khusus ibu dan anak. Selain itu, antrean dokter juga mengharuskan kita untuk menunggu lebih lama di tempat umum. Riskan, walaupun sebenarnya bisa sih menunggu di kendaraan.

Rasanya saya nggak tega untuk membiarkan anak berlama-lama menunggu di tempat umum. Apalagi, daerah tempat tinggal saya di Tangerang Selatan merupakan zona merah COVID-19.

Baca Juga: Birth Story Nabhan

Selain itu, entah kenapa jadwal dokter anak selalu kurang pas dengan jadwal kami. Ketika kami tidak berhalangan, tiba-tiba dokternya membatalkan praktek karena alasan tertentu. Ketika dokternya bisa, kami yang tidak dapat hadir. Oleh karena hal tersebut, saya putuskan untuk memvaksinasi anak saya di rumah saja.

Perbandingan 3 Provider Layanan Vaksin di Rumah

Vaksin di rumah
Layanan vaksin di rumah. Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Sebelum memutuskan untuk menggunakan layanan Prostasia Klinik, saya terlebih dulu googling layanan vaksin onsite dan menemukan 3 provider, yaitu ProSehat, Medicall, dan Prostasia. Berikut adalah perbandingannya.

Baca juga:  Penderita Endometriosis Juga Bisa Hamil!

1. ProSehat

Prosehat adalah aplikasi marketplace jasa dan layanan kesehatan, mulai dari vaksinasi hingga visioterapi. Melalui websitenya di www.prosehat.com, kita dapat melihat secara jelas rincian harga masing-masing produk layanan kesehatan. Seperti saat membuka Shopee/ Tokopedia.

Area layanan Prosehat sampai saat ini belum saya ketahui. Saya coba cek di website-nya namun informasi tersebut belum ditemukan.

Untuk pertanyaan dan informasi, pengguna diarahkan untuk menghubungi asisten virtual ProSehat (bot). Setelah saya klik dan chat, ternyata lumayan repot juga harus memasukkan berbagai data diri secara lengkap (data anak dan orangtua) satu persatu. Jadi, tidak saya lanjutkan.

2. MediCall

MediCall adalah penyedia layanan kesehatan yang dapat langsung dipanggil ke rumah. Beberapa jasa yang ditawarkan diantaranya adalah dokter, perawat, bidan, fisioterapi, dan vaksin.

Area layanan MediCall sudah tersedia di 20 kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, hingga Bali.

Jujur, hal pertama yang saya rasakan ketika membuka website-nya (www.medi-call.id) adalah bingung. Navigasi dan tampilannya kurang user friendly. Akhirnya, saya menemukan link untuk menghubungi via Whattsap. Sayang, respon admin agak sedikit lambat dan kurang memuaskan. Akhirnya, tidak saya lanjutkan.

3. Prostasia Klinik

Prostasia adalah klinik penyedia jasa layanan kesehatan yang terletak di Summarecon Serpong, Kab. Tangerang, Banten. Sebelumnya, suami saya sudah menggunakan jasa klinik ini untuk vaksin meningitis di awal tahun 2020. Menurutnya, pelayanannya sangat baik dan kliniknya cukup bagus. Selain itu, lokasinya masih terjangkau dari tempat tinggal saya di Tangerang Selatan.

Baca juga:  Nujuh Bulan Studio: Childbirth Education Center di Bintaro

Informasi lengkap mengenai vaksinasi onsite dapat diakses melalui website www.prostasia.id. Area layanan vaksinasi onsite Prostasia Klinik saat ini mencakup Jakarta dan Tangerang.

Saya mencoba menghubungi admin dan langsung mendapatkan jawaban dengan cepat. Saya diarahkan untuk mengisi data diri secara lengkap, serta mengirimkan foto buku riwayat vaksinasi anak. Segera setelah hal tersebut saya kirim, admin mengatakan bahwa untuk proses selanjutnya dokter vaksinator yang akan langsung menghubungi saya.

Hari-H Vaksin

ilustrasi vaksin di rumah
Ilustrasi vaksin. Photo by CDC on Unsplash

Tak lama kemudian, dokter vaksinator yang bernama dr. Fransisca Linda menghubungi saya untuk verifikasi data. Dr. Linda menjelaskan bahwa untuk anak usia 2 tahun, lebih baik vaksin Hepatitis A dan typhoid terlebih dahulu. Vaksin flu dan Japanese Encephalitis bisa dilakukan 1 bulan setelahnya.

Jadwal vaksin disepakati pada hari Senin, 10 Agustus 2020 jam 12.00 siang. 30 menit sebelumnya, ternyata dr. Linda sudah datang. Dr. Linda mengenakan faceshield dan masker medis, serta mencuci tangan saat memasuki rumah saya.

Segera, pemeriksaan awal dilakukan dan alhamdulillah anak saya dinyatakan sehat dan siap untuk divaksin. Vaksin dilakukan di lengan kanan dan kiri. Alhamdulillah, anak saya nangis dengan sukses, hehehe.

Baca Juga: Yuk, Kenali Gejala ADHD Pada Anak

Dr. Linda sangat ramah dan dengan sabar menjawab seluruh pertanyaan saya tentang tumbuh kembang anak. Ia juga membantu merekap riwayat vaksin anak saya. Suatu hal yang mungkin tidak akan dilakukan oleh dokter di rumah sakit yang terkedang selalu terburu-buru karena banyaknya antrean pasien. Alhamdulillah, saya sangat puas menggunakan layanan vaksin di rumah dari Prostasia Klinik.

Baca juga:  Gara-Gara Corona

Kelebihan dan Kekurangan Vaksin Anak di Rumah

(+) Kelebihan

1.Praktis

Tidak perlu bermacet-macetan ke rumah sakit. Tinggal duduk anteng di rumah, dokternya datang. Pembayaran juga dilakukan via transfer setelah tindakan selesai sehingga tidak membuat rempong.

2. Aman dan Nyaman

Vaksin di rumah sakit lebih beresiko karena anak dan orangtua dapat terpapar virus. Dengan vaksin di rumah, resiko tersebut bisa diminimalisir. Selain itu, anak akan lebih rileks karena berada di rumah sendiri.

(-) Kekurangan

1.Lebih mahal

Ini jelas pasti, karena kita membayar jasa dan transportasi dokter. Sebagai informasi, untuk biaya vaksinasi onsite Prostasia Klinik yang saya ambil kemarin adalah Rp 545.000 (typhoid) dan Rp 775.000 (Hepatitis A), all in.

2. Tidak Diperiksa oleh Dokter Spesialis Anak

Umumnya untuk layanan vaksinasi onsite, tindakan dilakukan oleh dokter umum. Mungkin, ada yang lebih sreg apabila langsung dengan spesialis anak. Namun, pengalaman saya kemarin, dr. Linda malah jauh lebih informatif dibandingkan dengan dokter spesialis anak yang biasa kami kunjungi.

Nah, begitulah pengalaman saya saat melakukan vaksin anak di rumah. Mungkin, selama pandemi ini saya akan terus menggunakan jasa layanan vaksin onsite tersebut. Lebih praktis, aman, juga nyaman.

Apakah ada yang sudah pernah menggunakan layanan serupa? Ditunggu ceritanya ya di kolom comment.

Share it: