“Aduuh kok anakku nggak bisa diam ya? Anakku sulit banget diajak untuk fokus ke satu kegiatan. Ia juga aktif sekali, suka jumpalitan kemana-mana. Apakah ia hiperaktif?” Pertanyaan tersebut mungkin kerap kali terlintas di benak orang tua, tak terkecuali saya. Mendengar istilah hiperaktif, mungkin hati orang tua sudah mencelos sedikit. Nah, tahukah kamu bahwa ciri-ciri yang disebutkan di atas adalah sebagian dari gejala ADHD.

Pengertian

Dilansir dari Gneagles.com.sg, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah kelainan perilaku yang mempengaruhi perilaku atau perkembangan pada anak kecil. Anak-anak yang menderita ADHD menunjukkan tanda-tanda ketidakpedulian, terlalu aktif atau impulsif.

Secara umum, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kontrol diri. Meskipun umumnya menyerang pada usia anak-anak, namun akibat yang ditimbulkannya dapat menetap hingga dewasa.

Pada umumnya, orangtua tidak menyadari bahwa anak mengidap ADHD. Terkadang, orangtua berpikir “Ah, namanya juga anak-anak. Mungkin wajar dia seperti ini.”. Orangtua mungkin berpikir bahwa anak tersebut hanya berperilaku buruk dan bisa ‘sembuh’ dengan sendirinya.

Namun, apabila perilakunya sudah sampai membuat orang tua terganggu, putus asa, hingga berdampak negatif pada kehidupan anak, maka orangtua dapat curiga bahwa anak menderita ADHD.

Gejala

Apa saja gejala ADHD pada anak? Menurut Kidshealth.org, ciri-ciri anak dengan ADHD dapat dikelompokkan dalam 3 kategori.

Anak dengan ADHD umumnya sangat aktif dan tidak bisa diam. Photo by Allen Taylor on Unsplash

Oleh karena konsentrasi mereka mudah terganggu, anak dengan ADHD mungkin menunjukkan ciri-ciri tidak pernah mendengarkan orang lain, kesulitan memperhatikan sesuatu, tidak mengikuti arahan dengan baik, pelupa, dan memiliki performa yang buruk di sekolah.

Baca juga:  Penderita Endometriosis Juga Bisa Hamil!

Karena mereka hiperaktif, anak dengan ADHD mungkin menunjukkan perilaku terlalu aktif dan tidak bisa diam, selalu terburu-buru, ceroboh, dan tidak teratur.

Anak dengan ADHD cenderung impulsif, mungkin menunjukkan perilaku selalu menyela ucapan orang lain, bertindak tanpa berpikir, melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan, tidak bisa menunggu giliran atau berbagi dengan orang lain, dan memiliki kontrol emosi yang buruk.

Pentingnya Diagnosis dan Penanganan yang Tepat

Menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam TheAsianParent.co.id, bila anak dengan ADHD tidak ditangani dengan baik, secara umum mereka akan mendapatkan label anak nakal. Padahal, pada umumnya anak dengan kelainan ini memiliki potensi yang besar dengan kemampuan di atas rata-rata.

Hal ini menyebabkan, apabila anak tidak segera didiagnosis dan ditangani dengan baik, maka perilakunya akan semakin tidak terarah. Tentu hal tersebut akan berdampak pada kehidupan sosial anak serta performa belajar anak di sekolah.

ADHD pada anak harus segera ditangani karena mempengaruhi performanya di sekolah. Photo by Jerry Wang on Unsplash

Akan tetapi, diagnosis ADHD baru dapat diberikan setelah anak berusia 3 tahun ke atas, sebab anak berusia 2 tahun masih mengalami periode sensitif pada gerak sehingga cenderung tidak bisa diam dan memiliki rentang waktu konsentrasi yang pendek.

Baca juga:  Menunda Menstruasi Saat Berhaji, Perlukah?

Penyebab, Cara Pencegahan dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab dan cara pencegahan ADHD belum diketahui. Beberapa sumber menyebutkan bahwa perilaku ADHD mungkin disebabkan oleh genetik dan ketidakseimbangan senyawa kimia di otak.

Baca Juga: Penderita Endometriosis Juga Bisa Hamil

Namun, bagi anak-anak dengan berat badan lahir rendah, prematur, serta anak yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki kehamilan bermasalah memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap ADHD. Selain itu, ibu yang melahirkan pada usia di bawah 20 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan ADHD.

Penanganan

Mungkin banyak orantua merasa, memiliki anak dengan ADHD adalah sebuah aib yang memalukan, sehingga membiarkan anaknya tidak didiagnosis dan ditangani oleh ahlinya. Akan tetapi, hal tersebut dapat mengakibatkan sindrom pada anak semakin parah.

Yang perlu dilakukan orangtua ketika melihat gejala ADHD pada anak adalah segera berkonsultasi kepada dokter spesialis tumbuh kembang atau psikolog agar anak segera mendapatkan penanganan dengan tepat.

Untuk langkah awal, bagi orangtua yang masih segan untuk membawa anak dengan gejala ADHD ke rumah sakit, apalagi dengan kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, dapat melakukan konsultasi online dengan psikolog via aplikasi Halodoc.

Halodoc merupakan sabuah aplikasi layanan kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya melalui 4 fitur unggulan, yaitu Tanya Dokter, Beli Obat, Rumah Sakit, dan Cari Dokter. Hal ini tentu memudahkan pengguna untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas dan terpercaya.

Baca juga:  Vaksin Anak di Rumah Bersama Prostasia Klinik

Kamu dapat melakukan konsultasi secara online dengan dokter umum dan spesialis, serta psikolog melalui aplikasi Halodoc. Apabila membutuhkan obat serta vitamin, kamu dapat memesannya via Halodoc dan langsung diantar ke tempatmu. Kamu juga dapat melakukan pencarian rumah sakit dan dokter, hingga membuat janji/ appointment dengan dokter langsung via aplikasi. Praktis banget ya, dan tentunya hemat waktu serta tenaga.

Akhir kata, jangan ragu untuk melakukan konsultasi terhadap kecenderungan ciri-ciri ADHD pada anak agar dapat segera ditangani dengan baik oleh ahlinya. Semoga sehat selalu!

Referensi:

  1. Gneagles.com.sg – Kelainan Hiperaktif Karena Kurang Perhatian – sumber
  2. Kidshealth.org – Parenting a Child With ADHD – sumber
  3. TheAsianParent – Ini Ciri Anak ADHD, Jangan Sampai Salah Diagnosis, Parents – sumber
  4. Tirto – Mengenal ADHD dan Bagaimana Cara Mengatasi – sumber
Share it: