Menjadi Influencer yang Bertanggungjawab

Menjadi Influencer yang Bertanggungjawab

Disclaimer: Tulisan ini mungkin dapat menyinggung beberapa pihak. Mohon untuk dapat dibaca dengan seksama dan hati yang jernih 🙂

Buka Instagram. Scroll scroll, wah si A lagi paid promote ini. Scroll lagi, wah si B lagi nge-endorse produk kecantikan baru. Scroll lagi, wah si C lagi ikutan campaign promo produk finansial terkini.

Di era 4.0 ini, pengalaman tersebut mungkin bukan suatu hal yang asing untuk kita semua. Pergeseran paradigma marketing dari yang menggunakan iklan di media massa seperti TV, radio, majalah, billboard, menjadi marketing yang bersifat personal turut menumbuhsuburkan so called influencers.

Pasalnya, di era media sosial kini orang akan lebih terpengaruh untuk membeli atau melakukan suatu tindakan setelah melihat orang dalam circle atau following list-nya meng-influence untuk melakukan hal tersebut. Coba, siapa yang mendadak kepingin mencoba produk kecantikan A, B, C karena di-endorse oleh Tasya Farasya?

Apa Itu Influencer?

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti kelas online #MOMIBelajarbareng dari Mom Influencer Indonesia. Pada kesempatan tersebut, kami membahas A-Z tentang influencer marketing bersama Mas Bogie Satriyonegoro, Head of Social Media CPXI Asia (digital agency).

Menurutnya, influencer adalah orang-orang yang bekerjasama dan memiliki kesadaran untuk bisa mengubah lingkungannya menjadi lebih baik. Dengan kata lain, influencer harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi circle-nya ke arah yang lebih baik.

Baca juga:  5 Cara Produktif Isi Waktu Luang Saat #DiRumahAja

Kunci utama dari influencer adalah be responsible and be true. Bertanggungjawab, dan juga jujur terhadap diri kamu sendiri serta orang lain.

Jenis-Jenis Influencer

Berdasarkan skalanya, influencer terdiri dari 4 jenis, yaitu:

1. Brand Ambassador, yaitu orang atau public figure yang memiliki pengaruh sangat besar dan di-hire untuk mempromosikan brand tertentu. Contoh: Agnez Mo yang kini brand-nya lekat dengan Madu TJ, Anggun dengan Pantene, dll.

2. Key Opinion Leader (KOL), yaitu orang yang sangat menguasai suatu topik tertentu dan menjadi panutan publik atas ke-expert-annya. Misalkan: Alm. Pak Bondan yang sangat expert di bidang kuliner, Darwis Triadi yang expert di bidang portrait photography, atau Trinity Traveler, seorang travel blogger yang expert di bidang traveling hingga keliling dunia.

3. Influencer, yaitu orang yang sekadar meng-influence circle-nya, namun mungkin belum seterkenal dan se-expert Key Opinion Leader. Contohnya, ya mungkin kita-kita ini, hehehe.

4. Buzzer, yaitu orang yang di-hire untuk ‘ribut’ di media sosial menyuarakan tentang brand. Contohnya, sekelompok buzzer pada waktu dan jam yang telah ditentukan, aktif menyuarakan hashtag sehingga menjadi trending topic dan membuat orang lain penasaran akan hal tersebut.

Baca juga:  Gara-Gara Corona

Influencers vs Talent

Oke, mungkin sekarang kamu berpikir bahwa, kayaknya gue influencers deh. Tapi, jangan sedih bahwa ada influencers yang ternyata hanya sekadar talent.

Maksudnya?

Maksud dari talent adalah, orang yang sekadar membuat konten tanpa memikirkan dampaknya. Gampangnya, semacam numpang foto doang bersama produk, akan tetapi tidak bisa memberikan impact, dan tidak bisa membuat orang menjadi tertarik atau mengambil decision terhadap sebuah brand.

Contohnya?

Ada influencer A posting konten foto di Instagram bersama vitamin X. Captionnya, “Semenjak aku pakai vitamin x uhhh wajahku jadi cerah merona dan glowing, badanku segar dan makin fit. Wajibb banget cobain dehh..” (padahal baru 1 kali minum). Tak berselang lama kemudian, ia posting lagi foto bersama vitamin Y yang notabene adalah brand competitor dari vitamin X. Captionnya, “Memang ya vitamin Y itu bagus banget untuk menjaga daya tahan tubuh.. dari dulu aku selalu minum vitamin Y ini” (padahal sebenarnya nggak pernah).

Yang terjadi adalah, ia tidak bersikap jujur (true) dan bertanggungjawab kepada audiensnya. Dengan kata lain, ia menjadikan konten-konten di feed Instagramnya seperti billboard iklan. Segala macam brand ada di situ.

Ia hanya memikirkan bahwa ia akan mendapatkan fee dari brand X, Y, Z tanpa memikirkan apa dampak dari konten tersebut kepada audiens. Audiens mungkin kemudian akan merasa bosan dan melakukan mute/ unfollow karena mulai paham bahwa si influencer hanya sekadar mempromosikan brand saja demi mendapatkan uang.

Baca juga:  Dunia Tanpa Jeda

Hasilnya? ya zonk.. mau promosi ke siapa coba kalau ternyata semua audiens-nya nge-mute? Satu lagi, menerima seluruh tawaran paid promote akan merusak branding kamu selaku influencer. Jadi kayak nggak punya jati diri.

Paid Promote untuk Memperkuat Branding-mu

Biasanya, kalau saya lihat orang di list following saya terlalu gencar melakukan paid promote, akan saya mute. Saya buka media sosial buat refreshing kok, bukan buat melihat iklan. Apalagi dengan caption-caption yang terkesan dipaksakan dan ‘nggak jujur’.

Akan tetapi, saya apresiasi juga akun-akun yang bisa melakukan paid promo secara natural dan jujur sehingga tidak terkesan iklan. Ingin saya belajar seperti mereka.

Contoh salah satu akun yang melakukan paid promote dengan baik menurut saya adalah @grace.melia, seorang parenting blogger. Ia memiliki value dan trademark yang jelas sehingga hal-hal yang ia promote justru memperkuat branding-nya selaku parenting blogger.

Akhirnya, kembali lagi ke konsep dasar pengertian influencer yang telah saya sampaikan di atas, yaitu: mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik, jujur, dan bertanggungjawab. Jadi, sudah siapkah kamu menjadi influencer yang bertanggungjawab?

Share it:

This Post Has 4 Comments

  1. mega

    Kalau saya lihatnya malah, “talent” yang asal-asalan itu ‘pasar’nya masih banyak, makanya masih ada aja.

    Kadang, kalau bukain instagram “talent” asal-asalan — alias yang kayak mbak contohkan di atas, mengendorse semua demi fee — saya mikiiir… iya gitu, banyak yang percaya sama endorse-an begitu? nggak jelas, semua diambil,malah kemungkinan ada yang berpotensi penipuan.

    Nyatanya, banyak banget nama-nama dengan followers ribuan atau puluhan ribu, yang menerapkan hal seperti itu, dan ditelan mentah-mentah juga sama followersnya. si “talent” tahu apa yang dia omongin bakal ditelan bulat-bulat, jadi dia cuek aja pasang gaya ‘influencing’ begitu.

    Ada yang bilang jadi followers harus selektif, tapi berhubung pasar seperti itu masih ada, emang harus dari sisi influencer yang menaikkan tanggung jawab untuk mengedukasi followernya. Uang mungkin nggak hilang meskipun ngepost asal-asalan, tapi ya ituuu, bakal kebawa dosa nggak ya kalau ada follower yang kena sial lantaran pakai barang endorse-an abal-abal?

    jadi ngalor ngidul aja komennya. hehehe. nice article mbak, salam kenal ya.

    1. Betul juga Mba, apalagi so-called selegram-selebram besar yang asal posting produk pemutih-pelangsing- peninggi dan kosmetik palsu yang gak jelas kredibilitasnya kemudian diikuti oleh para followersnya.

      Saat dikonfrontasi, para selebgram ini malah berdalih “Setiap orang kan punya kemampuan sendiri-sendiri, mungkin gak mampu beli kosmetik asli bla.. bla.. bla..”.

      Ya sebenarnya itu faktor kesehatan dan keamanan juga sih, kalau followersnya kenapa-kenapa apa iya mereka mau bertanggungjawab? Semoga yang seperti itu segera disadarkan dan segera bersikap jujur baik ke diri sendiri maupun ke audiensnya. Terima kasih sudah mampir ya Mbak 🙂

  2. Hastira

    makasih sharingnya

Leave a Reply