DIANISEKARING HAMIL

Sudah beberapa hari ini menstruasi saya terlambat. Padahal, biasanya mens saya selalu tepat waktu, bahkan maju dari jadwalnya. Iseng saya meminta suami beli test pack. Ketika dicoba.. hyaaaa… 2 garis merah alias positif hamil!

Saya terkekeh dengan suami. Ya Allah, tepat di waktu 2 minggu Ayahanda kami Engkau panggil, kau kirimkan malaikat kecilmu sebagai gantinya 🙂

Riwayat Endometriosis Bilateral

Sebenarnya, saya tidak menyangka kehamilan kedua saya terjadi secepat ini. Pada sebelum kehamilan pertama, saya menderita endometriosis bilateral (kista cokelat) yang cukup besar (6 cm dan 4 cm) sehingga mengakibatkan mens saya sangat menyakitkan. Dahulu, saya sering pingsan dan tidak bisa beraktivitas pada saat mens. Bahkan, saya sempat didiagnosis akan sulit memiliki anak. Untuk mengetahui kisah saya dan endometriosis, bisa baca ini:

Baca Juga: Penderita Endometriosis Juga Bisa Hamil!

Saat operasi kistektomi (pengangkatan kista), dr. Hertia Triarani Sp.OG yang menangani saya berkata, “Ini kistanya nggak diangkat semua ya, karena khawatir sel telurnya habis,” ujarnya. Setelah proses kelahiran pun, saya tidak dianjurkan menggunakan KB oleh dr. Hertia karena menurutnya, “Ibu bisa hamil dengan kista sebegitu besarnya sudah merupakan mukjizat dari Allah Swt, jadi nanti kalau hamil lagi, ya sudah biarin aja”. Masya Allah.

Menurut dr. Hertia, ada kemungkinan saya akan sulit untuk hamil anak kedua pasca operasi pengangkatan kista tersebut. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain.

Hasil USG Kehamilan saya

Saat ini, awal Maret 2020, usia kandungan saya Insya Allah sudah 8 minggu. Untuk kehamilan kedua ini, saya kontrol ke dr. Okky Oktavandhy Sp.OG yang berpraktek di Klinik Archa Medica BSD, Tangerang Selatan. dr. Okky ini lumayan hits dan terkenal di Tangsel dan sekitarnya, bahkan banyak pasiennya yang datang dari luar kota, biasanya untuk program kehamilan. Dokternya lumayan baik, agak tegas namun tidak secerewet dan seramah dr. Hertia 😀

Menjadi Stay at Home Mom

Sama seperti kehamilan pertama, saya mengalami mual, muntah, sakit kepala dan kelelahan luar biasa di trimester awal kehamilan ini. Kata orang-orang, namanya juga hamil muda 🙂 Dikit-dikit muntah, dikit-dikit pusing, dikit-dikit kecapekan. Walhasil, saya kesulitan untuk beraktivitas dengan normal.

Baca Juga: Hamil, Say Goodbye to Traveling

Alhamdulillah, di bulan Februari ini saya sudah resmi menyandang status sebagai stay at home Mom, sehingga saya bisa beristirahat total di rumah. Nggak ada lagi umpel-umpelan naik KRL yang luar biasa ganas dan kejam, gak ada lagi naik ojek macet-macetan tiap pagi dan sore sampai pinggang mau patah saking pegelnya.

Buat yang bertanya, apakah saya resign dari kantor? Alhamdulillah belum resign, tapi mengambil unpaid leave selama 2 tahun. Tadinya, saya ambil unpaid leave murni agar saya bisa mengurus anak, tapi Allah punya kehendak lain, malah ditambahin 1 anak lagi 😀

Sayangnya, karena symptom trimester awal saya cukup berat, jadi anak pertama saya malah agak terlantar karena lebih sering diurus oleh eyang dan Ayahnya. Saya mengurus diri sendiri saja kesulitan 😀

Menjadi stay-at-home Mom setelah sempat merasakan menjadi working Mom menjadi berkah tersendiri untuk saya. Karena saya berpikir, kalau sampai detik ini saya masih bekerja, kasihan kantor saya karena saya mungkin tidak akan maksimal dalam bekerja dengan kondisi hamil seperti ini.

Ditambah lagi, saat ini sedang pandemik Corona Virus, membuat saya agak-agak trauma kalau harus pergi ke tempat umum dan keramaian (misal: KRL dan stasiun). Semoga pandemik ini segera berakhir, sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan.

Selain itu, Alhamdulillah saat ini saya bisa memantau perkembangan anak setiap waktu. Bisa bersama anak setiap saat. Dan yang pasti, bisa istirahat kapanpun saya butuh. Bismillah, mungkin ini adalah jalan yang ditunjukkan Allah untuk saya.

Anyway, saat ini saya sangat menikmati hidup saya. Teman-teman ada yang mau berbagi cerita tentang menjadi stay-at-home Mom atau working Mom? Ditunggu ceritanya di kolom komentar ya.

Cheers!