DIANISEKARING PILOT

Disclaimer: Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi dan tidak mencerminkan instansi atau perusahaan manapun.

Maskapai pelat merah Garuda Indonesia tersandung kasus karena menahan penumpang kelas bisnis jurusan Jakarta – Denpasar pada tanggal 4 Januari silam. Penumpang tersebut bersama keluarganya ditahan di lounge Garuda Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali karena diduga telah menghina maskapai Garuda Indonesia dengan sebutan“Ta*”. Sebetulnya, apa yang terjadi?

Nah, untuk mengupas kasus ini, kali ini saya berkolaborasi dengan Kleopas Danang Bintoroyakti, seorang analis kebijakan dan komunikasi industri penerbangan, yang juga merupakan my dear friend. Danang memiliki background karir di berbagai maskapai penerbangan besar asal Asia-Pasifik di Indonesia dan Inggris, serta pernah bekerja untuk lembaga regulasi penerbangan internasional ICAO (International Civil Aviation Organization) yang bermarkas di Montreal, Kanada. Danang memiliki latar belakang pendidikan lanjut manajemen transportasi penerbangan di Coventry University, UK.

Kronologi Kejadian

Dikutip dari Twitter @jesswjk dan Tempo.com, kronologi kejadian adalah sebagai berikut. Jessica terbang dari Jakarta ke Denpasar, Bali bersama suami, 3 orang anak, dan 2 pengasuh. Jessica beserta keluarganya duduk di kelas bisnis. Saat pesawat dalam posisi holding (menunggu giliran landing) di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, anak Jessica yang paling besar mengeluh ingin buang air besar.

Suami Jessica memohon izin kepada awak kabin agar anaknya dapat menggunakan toilet. Namun, awak kabin tidak mengizinkan karena waktu mendarat sudah dekat. Mendengar hal tersebut, suami Jessica kembali ke tempat duduk dan mengomel kepada istrinya mengatakan “Garuda ta*”. Ucapan ini terdengar oleh awak kabin.

Setelah sampai di bandara tujuan, Jessica dan keluarganya menunggu bagasi di lounge. Namun, saat hendak keluar dari lounge, ia kaget karena ditahan oleh petugas dan dihadapkan pada kru yang bertugas (pilot dan awak kabin). Rupanya, awak kabin senior (purser) melapor kepada captain.

Dalam pertemuan tersebut, suami Jessica dituduh telah menghina maskapai Garuda Indonesia. Jessica sempat terlibat adu argumen dengan pilot Garuda Indonesia yang meminta agar Jessica sekeluarga ditahan oleh petugas bandara. Hingga tulisan ini dibuat (08/01/2020), pihak Garuda Indonesia masih melakukan investigasi atas kejadian tersebut.

Critical Phases of Flight

Critical Phases of Flight. Taken from Instagram @ap_airports

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical phases of flight (fase kritis dalam penerbangan). Yang termasuk dalam fase kritis adalah pada saat pesawat lepas landas (take off), climbing, descend (turun bersiap mendarat), holding (menunggu giliran mendarat), landing (mendarat), saat pesawat berada dalam cuaca buruk, atau fase lainnya yang dinilai oleh pilot krusial terhadap keselamatan dan kenyamanan penumpang. Pada fase kritis dan krusial tersebut, maka biasanya pilot akan menyalakan tanda sabuk pengaman (fasten seatbelt sign).

Baca juga: Pentingnya Memerhatikan Prosedur Keselamatan dalam Penerbangan

“Apabila fasten seatbelt sign sudah dinyalakan, maka terjadi pembatasan ruang gerak penumpang dengan alasan keselamatan penumpang itu sendiri. Biasanya, saat fasten seatbelt sign dinyalakan, berarti penerbangan tersebut sedang berada dalam fase critical dan awak kabin yang bertugas wajib langsung memastikan seluruh penumpang menggunakan sabuk pengaman,”

Kleopas Danang Bintoroyakti, 2020

Fase ini dinamakan fase kritis karena 80% kecelakaan penerbangan mungkin terjadi pada fase tersebut. Saat fase kritis terjadi, awak kabin akan memberikan pengumuman agar penumpang langsung menggunakan sabuk pengaman.

Begitu pula pada saat cuaca buruk, umumnya awak kabin akan melarang penumpang untuk menggunakan toilet / lavatory, dan apabila kondisi turbulensi masih dalam tahap aman bagi awak kabin untuk melanjutkan pembagian layanan makanan, dan bagi penumpang untuk menyantap makanan, awak kabin akan menghentikan pemberian minuman panas kepada penumpang.

Check and Balances, Pembagian Tanggung Jawab Personil Penerbangan

Awak Kabin. Photo by NeONBRAND on Unsplash

Dalam safety management system penerbangan, dikenal prinsip Check and Balances. Apa sih itu Check and Balances? Check and Balance adalah sebuah prosedur keselamatan yang diterapkan oleh perusahaan (maskapai) guna meminimalisir kesalahan atau error.

Pilot dan awak kabin memiliki pembagian tugas yang berbeda di pesawat. Pilot (captain dan co-pilot) bertugas untuk mengemudikan pesawat di kokpit, sementara awak kabin senior (purser) bertanggungjawab atas kondisi di kabin pesawat. Apabila terdapat hal darurat ataupun hal lain yang berpotensi mengganggu kenyamanan penerbangan, purser berkewajiban untuk melapor ke Captain dan juga sebaliknya.

Captain sebagai Pilot in Command (PiC), Co-Pilot sebagai First Officer (FO) memiliki wewenang untuk mengeliminasi hal-hal yang berpotensi mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan (misal: indikasi kerusakan instrumen atau sistem, mesin, cuaca, ancaman bom, penumpang bermasalah/ unruly passengers, dll).

Untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang mengganggu keselamatan dan kenyamanan penerbangan di area kabin, pilot dibantu oleh awak kabin. Untuk memastikan keselamatan, pilot wajib memeriksa ulang laporan yang diterima, memastikan fakta yang terjadi dan menganalisa situasi sebelum membuat sebuah keputusan (decision).

Dalam kasus ini, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengan safety, namun seharusnya pendekatan layaknya Check and Balances ini tetap dilakukan. Setidaknya awak kabin melakukan verifikasi maksud dan tujuan kepada suami Jessica yang menyebutkan “Garuda Ta*”, dan kemudian baru melaporkannya kepada Captain. Begitu pula, Captain seharusnya melakukan verifikasi kepada penumpang dimaksud sebelum mengeluarkan perintah penahanan penumpang kepada petugas aviation security (AVSEC).

Baca juga: Mengenal Petugas Avsec, Garda Terdepan Keamanan Penerbangan

Untuk maskapai Garuda Indonesia yang kita yakini pastinya memiliki awak udara yang sangat berpengalaman, seharusnya masalah seperti ini bisa diselesaikan di kabin, sebelum penumpang meninggalkan pesawat tanpa harus ada unsur penahanan.

Safety is Priority

Dalam dunia penerbangan, safety is priority. Walaupun keselamatan merupakan prioritas utama, namun service (pelayanan) tetap tidak boleh ditinggalkan.

Sebenarnya, tugas utama awak kabin adalah menjaga keselamatan penumpang selama berada di dalam kabin. Jadi, tugasnya bukan sebatas pada memberikan pelayanan makan dan minum saja. Apabila terjadi keadaan darurat, maka awak kabin bertugas untuk memandu penumpang untuk melakukan prosedur keselamatan.

Sebagai front liner, tentunya awak kabin wajib untuk men-treat penumpang agar dapat nyaman selama penerbangan dan perjalanan mereka, dengan catatan tidak meninggalkan aspek keselamatan.

“Industri penerbangan itu merupakan industri yang kompleks, karena memiliki resiko yang tinggi, serta kultur yang sangat kental dengan safety menjadikan industri ini sangat highly regulated. “

Kleopas Danang Bintoroyakti, 2020

Jadi, bagi kita selaku penumpang, saat kita membeli tiket pesawat, berarti kita berkewajiban untuk menaati peraturan penerbangan yang berlaku untuk keselamatan bersama. Jadi, jangan pernah menolak saat hendak diperiksa oleh petugas bandara ya. Patuhi juga perintah awak kabin saat berada di pesawat agar #SelamatAmanNyaman sampai tujuan.

Have a safe flight!

Featured image Photo by Blake Guidry on Unsplash

Share it: