DIANISEKARING PILOT

Beberapa waktu yang lalu, cukup santer berita mengenai pilot maskapai Batik Air yang pingsan saat hendak mendaratkan pesawat di Bandara El Tari Kupang. Pilot tersebut diduga terkena serangan jantung saat sedang menerbangkan pesawat. Kondisi dimana pilot tidak mampu menerbangkan pesawat karena alasan tertentu dinamakan pilot incapacitation.

Bayangkan ketika kamu naik pesawat dan kemudian kapten tak sadarkan diri. Ketika hal tersebut terjadi, umumnya kopilot akan memanggil awak kabin senior untuk menanyakan apakah ada dokter di dalam kabin agar dapat dilakukan tindakan penyelamatan, serta kendali pesawat diambil alih oleh kopilot.

Baca Juga: Cara Menjadi Seorang Pilot

Oh ya, bagi kamu yang berprofesi sebagai dokter, sebaiknya cantumkan gelarmu di dalam tiket untuk mempermudah koordinasi apabila terjadi hal darurat semacam ini.

Obvious & Subtle Incapacitation

Pilot incapacitation terbagi menjadi 2 jenis, yaitu obvious (jelas/ terlihat) dan subtle (samar) sumber: ilmuterbang.com. Obvious maksudnya kondisi pilot terlihat jelas tidak mempu mengemudikan pesawat seperti pingsan atau bahkan meninggal dunia. Pilot Batik Air, dalam hal ini mengalami pilot incapacitation obvious. Sementara, yang berbahaya adalah subtle karena tidak dapat terdeteksi, misalnya: pilot mengalami gagal fungsi tubuh sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Subtle incapacitation dapat membuat pesawat terancam untuk mengalami keadaan darurat. Oleh karena itu, kopilot harus waspada apabila mendapati hal-hal yang mencurigakan, seperti tidak merespon ketika diajak berbicara, tidak mampu berbicara, menunjukkan gejala sakit, dan lain-lain.

Kisah Ayah Saya

Pekerjaan seorang pilot. Photo by Kristopher Allison on Unsplash

Alkisah, di tahun 2014, ayah saya yang saat itu bekerja sebagai penerbang di Mandala Air mengalami subtle incapacitation saat hendak landing di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Saat hendak calling tower ATC untuk meminta izin pendaratan, tiba-tiba ia tidak dapat berbicara sama sekali.

Akhirnya, kendali pesawat diambil alih oleh kopilotnya pada saat itu hingga pesawat bisa mendarat dengan sempurna. Tak hanya itu, saat hendak turun dari pesawat, ayah saya tidak mampu untuk membawa tasnya sendiri sehingga harus dibawakan oleh kru.

Setelah sampai di rumah pada tengah malam, ibu saya khawatir dengan kondisi ayah saya yang tak seperti biasanya. Ibu saya bersikeras untuk membawa ayah ke IGD rumah sakit, namun ayah menolak karena sudah terlalu lelah, “Besok pagi saja,” ujarnya.

Keesokan paginya, ketika ayah saya dibawa ke IGD, dokter langsung berkata hal yang mengejutkan, bahwa ayah saya terkena stroke. Saat itu, segera dilakukan tindakan dan perawatan. Posisi saya saat itu sedang dinas di Bali, dan langsung pulang pada saat itu juga. Selama perjalanan di pesawat Bali – Jakarta, saya menangis karena takut sesuatu terjadi pada ayah saya.

Baca juga: Menghadiri Wisuda Pilot di Cilacap

Tak saya sangka, hari itu mengubah hidup saya dan keluarga untuk selamanya, karena semenjak sakit, ayah saya tidak dapat meneruskan profesinya sebagai penerbang. Kondisinya terus memburuk setiap tahun dan terjadi stroke berulang, hingga saat ini ia harus terbaring di tempat tidur.

Saat ini, ayah saya sudah meninggal dunia. Sebelumnya ia, sudah tidak dapat berbicara sama sekali, tidak dapat berpikir, tidak memiliki akal, tidak dapat menelan dan mengunyah dengan normal, tidak dapat berjalan maupun duduk. Terkadang, ayah marah, mengamuk hingga Ibu saya dijambak, dicakar dan ditendangi. Masya Allah, sungguh saya tidak menyangka bahwa orang yang terkena stroke dapat berubah 180 derajat secara fisik maupun psikis. Namun, bakti Ibu saya sungguh luar biasa karena merawat Ayah dengan penuh kesabaran.

Menghindari Pilot Incapacitation

Untuk menghindari pilot incapacitation, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, pilot harus cukup istirahat dan tidak mengalami kelelahan akut. Kedua, pilot harus menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi seimbang. Ketiga, waspada ketika hal-hal mencurigakan terjadi di kokpit (misal: pilot menunjukkan gejala sakit). Selain itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pilot dan kopilot memakan 2 jenis makanan yang berbeda.

Untuk kasus ayah saya, dugaan saya beliau kelelahan dan tidak menjalankan gaya hidup sehat. Ayah saya senang sekali makanan berkolesterol tinggi dan minuman manis, serta jarang berolahraga. Di usianya yang saat itu menginjak 54-an tahun, mungkin tubuhnya tak lagi sanggup untuk menopang gaya hidup tersebut.

Saran saya untuk rekan-rekan yang berprofesi sebagai penerbang, atau hendak menyekolahkan anak untuk menjadi penerbang, profesi ini bukanlah profesi main-main. Profesi ini butuh mental dan fisik sekuat baja karena seorang pilot bertanggungjawab atas nyawa ratusan orang di dalam pesawat. Pastikan untuk selalu cukup istirahat dan menjalankan gaya hidup sehat sehingga tubuh tidak sakit.

Featured image: Photo by Chris Leipelt on Unsplash