Belajar Sabar Saat Berhaji

Belajar Sabar Saat Berhaji

“Saat berhaji nanti, yang paling diuji dari kita adalah kesabaran,” pesan seorang ustadz saat saya mengikuti kegiatan manasik haji. 1 bulan berada di negeri orang, bersama 1 rombongan besar yang setiap hari bertemu, tentu sedikit banyak akan menimbulkan konflik. Dan hal tersebut nyatanya saya alami sendiri.

Bersabar Dengan Anggota Keluarga

Pergi berdua dengan Ibu, ternyata tidak menyurutkan kami dari konflik. Seringkali, karena kelelahan Ibu saya marah-marah atas suatu hal yang berada di luar kuasa kami.

Atau, ketika saya menegur Ibu saya agar tidak marah secara berlebihan kepada orang lain, namun ujung-ujungnya saya yang dimarahi. Semua itu hanya bisa membuat saya mengelus dada dan membatin ingin segera pulang bertemu anak dan suami.

Banyak sekali gesekan-gesekan kecil yang seharusnya bisa dihindari, namun terjadi begitu saja. Memang betul kata orang, bahwa di Tanah Suci, sifat dan tabiat asli seseorang akan diperlihatkan dengan jelas. Yang jelas, harus banyaak sekali stok sabar 🙂

Bersabar dengan Teman Sekamar

Oleh karena saya mengambil Haji Plus Paket Cokelat Patuna, ketika di Apartemen Aziziyah (perbatasan Mina) saya harus sekamar dengan 5 orang lainnya selama kurang lebih 10 hari. Menjadi yang termuda di kamar tersebut, ternyata tidak mudah. Generation gap nyata adanya.

Apartemen Aziziyah, 1 kamar berisi 6 orang

Banyak sekali hal-hal kecil yang berpotensi menimbulkan konflik, seperti: antrian kamar mandi, menjemur baju (ada yang suka ‘menimpa’ cucian orang yang hampir kering dengan cucian basah miliknya, sehingga nggak kering-kering), kebiasaan di kamar, dan lain-lain.

Baca juga:  Pengalaman Pertama Melihat Gerhana Matahari Total di Bandara

Baca Juga: Haji Reguler vs Plus, Pilih Mana?

Namun, ada 1 orang dari kamar tersebut yang benar-benar menguji kesabaran saya. Ada seorang nenek berumur 68 tahun yang berangkat sendiri tanpa didampingi keluarga. Nenek ini adalah orang Betawi asli yang (mohon maaf) adabnya sangat buruk dan tidak memiliki sopan santun. Omongannya kasar, cerewet (ngomong mulu tiada henti), pokoknya harus ekstra sabar banget menghadapi si nenek ini.

Hal yang paling membuat saya naik pitam adalah sikap si nenek ketika kita, teman kamarnya berusaha memberitahu si nenek perihal perilakunya yang kurang sopan, namun ia malah marah dan melawan balik. Contohnya, “Nek, kalau habis buang air, pintu kamar mandinya ditutup agar kamar tidak bau,”, “Kalau habis pakai kamar mandi, disiram sampai bersih!”, “Kalau manggil orang lain harus sopan, nggak boleh seenaknya,” dan hal-hal mendasar lainnya.

Ia juga sering mengadu kepada jamaah lain bahwa kita, teman sekamarnya jahat-jahat. Ya ampun nek, gak sadar kah sudah selama ini dibantu? Koper dipackingin, jalan dituntun, ke masjid ditungguin, dan masih banyak yang lainnya :))

Parahnya lagi, si nenek ini sakit batuk parah namun menolak untuk menggunakan masker dan minum obat. Setiap malam, saya kesulitan tidur karena harus mendengar batuk si nenek (kenapa sih gak mau pakai masker? duuh! nanti kalau orang lain ketularan gimana?). Saya juga terganggu dengan kelakuannya yang jorok saat menggunakan kamar mandi (jarang di-flush, kotoran berserakan dimana-mana). Ampun deh. Rasanya saya ingin cepat-cepat pulang.

Baca juga:  Exotic Sumba (2): Eksotisme Mbawana Hingga Tenun Ikat Sumba

Saya kasihan saja sih sebenarnya dengan orang setua itu namun masih nggak mengerti dengan sopan santun. Benar-benar luar biasa kesabaran kita untuk menghadapi si nenek. Usul saya untuk Patuna dan travel lain, kalau bisa jamaah di atas 60 tahun jika hendak berangkat haji harus bersama dengan pendamping (anggota keluarga) agar tidak mengganggu kenyamanan jamaah lain.

Bersabar Saat Wukuf di Arafah

Suasana di Arafah

Wukuf adalah inti dari ibadah Haji. Wukuf sendiri berarti berdiam diri di Padang Arafah. Kegiatan jamaah haji selama wukuf adalah berdoa, beribadah, mendengarkan khotbah Wukuf, dan memohon ampun kepada Allah Swt.

Baca Juga: 9 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat Haji

Selama wukuf (kurang dari 24 jam), saya tinggal di dalam tenda Maktab di Arafah. Beruntung, Maktab saya tidak terlalu ramai sehingga antrian kamar mandi tidak membludak. Tapi, walaupun nggak ramai ternyata masih banyak juga jamaah yang jorok yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Tisu, pembalut bekas pakai, dan botol air mineral bertebaran di dalam bilik kamar mandi. Padahal, sudah tersedia kantong sampah di depan kamar mandi. Jamaah haji Indonesia ini jorok-jorok atau bagaimana sih? Bukannya kebersihan ini sebagian dari iman?

Baca juga:  Cara Menuju Yogyakarta International Airport (YIA)

Bersabar Menahan Rindu

Nah, ini dia yang menurut saya cukup menguras emosi, yaitu menahan rindu terhadap anak dan suami di tanah air. Saat ditinggal kemarin, anak saya baru berusia 1 tahun. Sebelumnya, saya belum pernah berpisah dengan suami dan anak selama ini. Paling mentok hanya 1 minggu (saat dinas luar kota). Jadi, setiap hari saya memantau anak saya via video call dan CCTV rumah. Setiap hari, saya menghitung mundur waktu kepulangan, dan menghibur diri bahwa sebentar lagi saya akan dapat bertemu dengannya.

Selama hampir 1 bulan di tanah suci, saya rindu sekali dengan makanan Indonesia seperti bubur ayam, bakso, ayam geprek, mi ayam, gorengan, dan aneka jajanan lainnya. Di Mekah dan Madinah, makanan yang disajikan selalu daging, santan, minyak (entah kolesterol saya naik berapa banyak), sampai saya mual sekali dan tidak selera makan. Untungnya, ada saus sambal yang bisa dibeli di Bin Dawood (supermarket di Mekah dan Madinah). Lumayan mengobati kangen masakan Indonesia.

Nah, itulah kira-kira pelajaran sabar yang harus saya hadapi ketika melakukan ibadah Haji. Buat yang akan atau berniat akan berangkat Haji, semoga tulisan saya ini dapat menjadi referensi dan pelajaran untuk memperbanyak stok sabar 😀

Share it:

This Post Has 26 Comments

  1. ninamustika

    Tantangan sekali bergabung satu kamar dengan lima orang ya mbak. Apalagi beda usianya jauh. Aku ga pernah kepikiran sebelumnya. Berarti memang harus stok sabar banyak nih ya mbak.

  2. Fenni Bungsu

    Perjuangan dalam rangka menggenapi ibadah memang nggak segampang yang dibayangkan. Kesabarannya harus lebih banyak ketimbang sabar saat di tempat tinggal. Inspiratif kak ini buat saya yang kadang nggak sabaran juga tipenya .

  3. Reyne Raea

    wkwkwkwkwkwk, ya ampun Mba, maafkan saya ngakak.
    Abisnya bingung mau respon gimana, hanya bisa membayangkan gimana rasanya kumpul ama nenek-nenek hahaha.
    Astagfirullah.
    Meskipun risih, mungkin di situlah ujiannya ya, ya gimana ya..
    Orang tua memang akhirnya balik kayak anak-anak lagi, dan giliran kita yang bakal ngomong
    “namanya juga nenek-nenek”

    Semoga saya juga bisa diberikan kesempatan mengunjungi Baitullah, dan semoga saya nanti bisa tetap ‘waras’ saat usia menggerogoti pikiran, aamiin 🙂

    1. Haha aku aja kadang dongkolnya sampai sekarang, bener-bener nightmare banget! Kalau nenek-nenek yang tahu sopan santun dan berbudi baik sih aku gapapa, tapi ini sungguh yang menguras emosi hehehehe mau nangiiis banget waktu itu

  4. Pohontomat

    MasyaaAllah merinding aku bayangin pengalaman haji. Gak pernah mikirin tentang akomodasi seperti ini. MasyaaAllah ternyata memang harus banyak sabar. Semoga bisa nyusul ke sana ajak orang tua juga aamiin

  5. ajeng himme

    Dianiii masya Allah kamu udah haji aja. Yang di sini masih nabung, hihi.

    Tapi aku takjub sama cerita kamu, memang namanya ibadah enggak pernah mudah ya. Adaaa aja ujiannya, apalagi haji.

    1. alhamdulillah jeng, ini juga karena difasilitasi orang tua, hehehe. Bener, ada aja ujiannya dan macem-macem tiap orang.

  6. Alfa Kurnia

    Kalau mau berhaji memang harus mempersiapkan fisik dan mental sebaik mungkin ya, Mbak. Banyak cobaan terutama kesabaran. Salut untuk mbak Diani yang sudah tabah menghadapi berbagai macam karakter orang di tanah suci.

    1. Betul Mba, terutama mental sih karena harus berhadapan dengan orang dari berbagai karakter dan usia.

  7. renayku

    aku pikir naik haji sama suaminya mbak.. masya Allah ternyta sama ibunya.. haduuh emang ujian mental banget ya naik haji itu.. benar2 diuji kesabarannya.. harus tahan mental deh biar ga ikutan berkata2 kasar.. kudu banyak istighfar.. huft., aku cuma baca aja kesel sama si nenek haha

    1. Hahahha bener-bener cobaan dan nightmare banget buat aku mba.. rada-rada trauma kalau harus mengalami hal seperti itu lagi.

  8. Aprillia Ekasari

    Wuaduh kalau sekamar sama yang gak sesuai ma kita emang repot yaaa, tapi di situ letak ujiannya ya mbak 😀
    Apalagi meghadapi org yang lbh tua…
    Wah kemarin berarti berangkat sama ibu aja ya mbak?

    1. Iya Mbak bener-bener luar biasa banget ujiannya. Iya aku berangkat sama ibuku aja Mba 🙂

  9. Siska

    Bersikap sabar selama haji memang sebuah perjuangan. Karena mau ngapa-ngapain harus antri, apalagi jemaah haji Indonesia yang paling ramai. Tapi itulah salah satu hikmah haji melatih kesabaran

  10. Heizyi

    Baru kali ini berkunjung ke blog nya mbak Diani tapi isinya bukan tentang aviasi.. hehe.. tetep menarik kok artikelnya. Sukak ^^

  11. Rella Sha

    Alhamdulillaahh, dapet bacaan lagi soal ibadah ke Tanah Suci.. semoga bisa disegerakan, aamiin. Bener banget, sabar adalah koentji.

  12. Suzannita

    Memang jadi pelajaran dan pengalaman tidak terlupakan ya selama menunaikan ibadah Haji dan Umrah, Semoga bisa segera menunaikan ibadah Haji dan umrah lagi

  13. Ya Allah semoga aku bisa juga berhaji atau berumroh bersama keluargaku
    melihat kasurnya ternyata kecil-kecil gini ya? Harus sabar banget ya Mba dari ceritamu.

    1. Amiin Mbak. Iya Mbak ini khusus yang persiapan armina (arafah – mina), puncak ibadah Haji. Kalau pas selain itu (di hotel) kasurnya besar kok 🙂

Leave a Reply