Motherhood Personal Thoughts

Dunia Tanpa Jeda

Pernahkah kalian merasa 24 jam dalam 1 hari tidaklah cukup?

5 bulan terakhir ini, saya merasa dunia saya berjalan tanpa jeda. Hari saya dimulai pukul 04.30 pagi; sholat subuh dilanjutkan dengan pompa asi selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, saya akan bersiap untuk mandi dan sarapan. Terkadang, saya kembali lagi ke kasur untuk menyusui anak saya yang menangis. Sebelum sarapan selesai, jemari saya sudah berselancar di aplikasi ojek online, memastikan bapak ojek siap menjemput agar saya tidak terlambat mengejar kereta.

Pukul 6.15, saya sampai di stasiun, dan berlari mengejar kereta bersama puluhan orang lainnya. Terkadang saya bisa masuk kereta tepat waktu, terkadang saya harus gigit jari karena pintu kereta ditutup di depan muka. Terengah-engah, saya memaksakan diri untuk masuk ke gerbong kereta demi absen kantor yang paripurna.

Perjalanan KRL memakan waktu 30 menit. Terkadang saya bisa berdiri dengan nyaman. Terkadang, saya harus terhimpit bersama ratusan orang lainnya. Dinikmati saja, batinku. Setelah sampai di stasiun akhir, saya masih harus berjuang untuk bisa keluar stasiun, Kebetulan, stasiun tempat saya singgah ini cukup spesial. Ingat video viral petugas stasiun yang hampir jatuh ke rel karena beringasnya penumpang KRL di pagi hari? Ya, seperti itulah perjuangan kami.

15 menit berikutnya saya habiskan untuk berjalan keluar stasiun, mencari bapak ojek online yang namanya tertera di aplikasi saya, dan bergegas menuju kantor sebelum terlambat.

30 menit perjalanan dari stasiun ke kantor bukanlah hal yang mudah. Menembus Jakarta Pusat di pagi dan sore hari benar-benar mengerikan. Sungguh, saya bersyukur setiap harinya karena saya masih selamat.

Sesampainya di kantor, rutinitas lain sudah menunggu, yaitu memompa asi! Sebagai seorang working mom, kegiatan memompa asi adalah hal yang wajib dilakukan. Diantara waktu tersebut, saya berusaha untuk menyelesaikan seluruh deadline pekerjaan agar saya dapat pulang tepat waktu, sambil sesekali mengintip anak saya di CCTV di rumah.

Jika semesta mengizinkan pulang tepat waktu, jam 17.15 saya sudah berada di stasiun, berjuang menembus ibukota menuju ke kota penyangga, agar jam 18.30 saya sudah dapat melihat tingkah polahnya.

Saya disambut oleh tawa anak yang merekah ketika waktu Magrib tiba. Segera saya masukkan cairan kasih ibu ke dalam kulkas. Saya bergegas mandi, sholat, makan malam, dan menemani anak hingga tertidur. Jam 21.00, saya dapat bernapas lega memandangi wajah anak saya yang tertidur, mengecek linimasa sebentar, dan terlelap di samping tubuh mungilnya.

Hal tersebut berlangsung 5 hari dalam 1 pekan.

Terkadang, saya ingin memandangi wajah anak saya beberapa jam lebih lama, bermain dengannya di pagi hari, bukan saat ia cranky dan mengantuk setelah saya pulang kerja.

Saya berharap waktu dapat berjalan lebih pelan; sebentar saja. Saya ingin menghela napas sejenak, menikmati sejengkal waktu bersama anak dan suami tercinta.

6 Comments

  1. salut sama para pekerja yang tiap hari empet-empetan di kereta. berangkat lepas subuh, baru pulang lewat maghrib.
    saya yang tinggal ngojek 15 menit ke kantor aja malesnya minta ampun. pengennya di kantor tuh sebentar aja gitu. sisanya buat leyeh-leyeh. hahahaha

    1. Hehehe subhanallah luar biasa mbak perjuangan naik KRL tuh 😀 Iyaa mbak, pengennya ngantor kalau lagi mau aja wkwkwk

  2. salut mbak, aku dulu menikmati suasana perjalanan ke kantor yang mbak tulis ketika masih belum menikah, kalau sekarang disuruh merasakan itu…sepertinya ku tak sanggup…sehat-sehat selalu ya mbak 🙂

    1. Hehehe makasih ya Mbak atas doanya 🙂 Alhamdulillah masih diberi kekuatan sampai saat ini. Tapi kayaknya ga mau selamanya aku kayak gini, ga kuaat kadang hehehe

  3. Semangat ya mom! 🙂

    1. Semangat jugaaa 😀

Leave a Reply