Aviation, Travel

Pentingnya Memerhatikan Prosedur Keselamatan dalam Penerbangan

Beberapa pekan silam, industri penerbangan di Indonesia berduka. Pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP rute Jakarta – Pangkalpinang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat ketika sedang mengudara.

Pagi itu, notifikasi di Whatsapp beberapa group kantor dan kolega saya cukup ramai. Beberapa mengabarkan bahwa pesawat Lion Air JT610 hilang kontak dengan ATC (Air Traffic Controller).

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah β€œCritical Phases of Flight”, atau fase kritis dalam penerbangan. Yang dimaksud dengan fase kritis dalam penerbangan adalah ketika pesawat hendak lepas landas, mendarat, dan fase lain yang ditentukan oleh pilot.

Critical Phases of Flight. Taken from Instagram @ap_airports

Ketika fase kritis terjadi, seluruh awak kabin wajib duduk di kursi menggunakan sabuk pengaman dan dilarang melakukan kegiatan apapun yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan penerbangan.

Mengapa dinamakan fase kritis? Hal ini disebabkan 80% kecelakaan penerbangan terjadi dalam fase tersebut.

Ada sebuah fakta yang menarik: Ketika pesawat mengalami keadaan darurat, awak kabin dan penumpang hanya memiliki waktu 90 detik untuk menyelamatkan diri. Itulah mengapa, sangat penting bagi penumpang untuk memerhatikan prosedur keselamatan yang diperagakan oleh awak kabin.

Miris terkadang melihat beberapa penumpang marah ketika diminta mematikan telepon genggam ketika awak kabin hendak memeragakan prosedur keselamatan. Ketika sudah hampir lepas landas pun ada penumpang yang masih asyik dengan telepon genggamnya. Saya kalau melihat orang-orang seperti itu.. hmmm sepertinya mereka nggak pengen selamat kalau terjadi keadaan darurat dalam pesawat.

Mematikan telepon genggam saat berada di kabin pesawat bertujuan agar sinyal pesawat tidak terganggu oleh sinyal telepon. Selain itu, agar penumpang memberikan perhatian penuh pada saat awak kabin memeragakan prosedur keselamatan. Menjelaskan di mana letak pintu dan jendela darurat, letak pelampung dan cara penggunaannya, letak pintu darurat terdekat, cara mengoperasikan pintu darurat, dan masih banyak lagi.

Mengapa awak kabin meminta penumpang untuk menegakkan sandaran kursi, melipat meja, membuka penutup jendela dan mematikan lampu kabin saat hendak lepas landas dan mendarat? Mari kita bahas satu persatu ya.

Menegakkan sandaran kursi bertujuan agar penumpang di belakang kita memiliki ruang yang cukup untuk evakuasi pada saat kejadian darurat. Kalau kamu tidak mau menegakkan sandaran kursi saat hendak lepas landas dan mendarat (yang mana tidak akan diperbolehkan oleh awak kabin), maka kamu sungguh sangat egois terhadap penumpang di belakangmu.

Melipat meja bertujuan agar kamu memiliki ruang gerak yang cukup untuk evakuasi. Selain itu, tidak melipat meja pada saat mendarat darurat (saat awak kabin berteriak β€œBrace.. brace.. brace” dan penumpang diperintahkan merunduk) dapat mencederai dirimu sendiri.

Membuka penutup jendela dan mematikan lampu kabin bertujuan agar penumpang dan awak kabin aware terhadap kondisi di luar. Apabila misalnya sayap pesawat terbakar, penumpang dapat menginformasikan hal tersebut dengan segera kepada awak kabin.

Jadi, jangan pernah anggap remeh peragaan prosedur keselamatan dalam penerbangan ya. Be a responsible traveler! Semua prosedur tersebut dilakukan agar kita dapat mendarat dengan selamat di kota tujuan. Happy traveling!

 

Images credit goes to Angkasa Pura Airports

5 Comments

  1. sayangnya banyak penumpang yang abai, terutama bab mematikan telepon genggam.

    1. Betul, padahal apalah arti matiin HP dibandingkan dengan keselamatan diri dan orang lain

  2. Hastira says:

    betul ya, kalau naik pesawat itu selalu deg2an saat naik dan turun

    1. Iya betul, karena disitu titik yang paling krusial πŸ˜€

  3. Hastira says:

    betul ya

Leave a Reply