Travel, Travel Tips

KRL Gerbong Wanita vs Gerbong Campur, Mending Mana?

Sruduk, sikut, dorong! adalah motto para pengguna KRL Gerbong Wanita.

Jadi, sudah sekitar 2 bulanan ini saya menjadi “Anker” atau anak kereta. Sebagai seorang commuter yang berkantor di Jakarta Pusat dan bertempat tinggal di sekitaran Serpong, moda transportasi yang tercepat dan hemat adalah KRL Commuterline. Sebelum melahirkan, saya tinggal dekat dengan kantor sehingga tidak pernah merasakan macet-macetan di jalan atau gencet-gencetan di kereta.

Sempat terbayang di benak saya, duh kayaknya serem banget ini nanti perjalanan commuting saya dari rumah ke kantor. Gencet-gencetan sama orang, lari-lari ngejar kereta, sikut-sikutan dan berantem sama orang. Belum lagi isu-isu banyaknya penjahat kelamin di KRL saat jam-jam sibuk. Setelah saya jalani sendiri, ternyata ketakutan saya terbukti. Hari pertama saya naik KRL di gerbong campur (kebetulan lagi padat-padatnya), ada bapak-bapak mencurigakan yang berusaha meraba lengan saya. Saya geser posisi dan menepis tangan bapak itu, tangannya nempel lagi ke lengan saya. AARGHHH sengaja ini mah! Semenjak saat itu saya takut naik gerbong campur dan selalu masuk gerbong khusus wanita. Biarlah dempet-dempetan yang penting sesama wanita.

Gerbong wanita memang dihadirkan oleh manajemen KRL Commuter untuk mengakomodir kenyamanan penumpang wanita, terutama saat jam-jam sibuk. Namun, banyak selentingan yang beredar bahwa ‘penghuni’ gerbong wanita jauh lebih ganas daripada gerbong campur. Benarkah seperti itu?

Jawabannya, BENAR, saudara-saudara.

Di gerbong wanita, mbak-mbak dan ibu-ibu memperebutkan tempat duduk seperti layaknya memperebutkan tahta Game of Thrones. Sruduk, sikut, dorong, jambak kalau perlu kayak Hunger Games. Saya pernah bawa barang dalam tas kertas saat jam pulang kantor di Stasiun Tanah Abang. Ketika pintu kereta terbuka, segenap emak-emak saling dorong dan berebut masuk, bahkan sebelum penumpang dari dalam kereta turun. Si mbak-mbak yang hendak turun sampai tidak bisa melompat turun saking derasnya terjangan ibu-ibu. Tas saya? Jangan ditanya. Robek dan barang bawaan saya tercecer di lantai kereta. Ampun dah! Emak-emak di gerbong wanita nggak ada prikemanusiaanya. Demi mendapat tempat duduk!

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa penumpang di gerbong wanita minim empati dan toleransi. Terkadang, saya mendapati ibu hamil, orang tua, atau ibu dengan balita yang kesulitan mendapatkan tempat duduk. Yang pada duduk di kursi semuanya pura-pura tidur, pasang masker dan headset. Kasihan. Kenapa ya bisa pada tega kepada sesama wanita?

Cobaan sesungguhnya di gerbong wanita adalah ketika jam berangkat kerja. Segerombolan emak-emak di peron langsung menyerbu masuk pintu kereta yang terbuka, tak peduli penghuni gerbong di dalamnya sudah megap-megap kehabisan napas saking penuhnya itu kereta. Boro-boro memberi jalan kepada penumpang yang akan turun. Bodo amat!

Suatu hari saya mencoba kembali untuk naik gerbong campur saat jam pulang kantor. Naik ke gerbong satu-satu, tidak ada aksi saling dorong seperti di gerbong wanita. Sampai di dalam gerbong, ditawari duduk oleh bapak-bapak atau ibu-ibu. Subhanallah! Kejadian ini sangat mustahil terjadi di gerbong wanita.

Baik gerbong campur maupun gerbong wanita memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah, sebagai pertimbangan, berikut saya jabarkan.

 

Gerbong Wanita

+ Lebih aman terutama saat jam-jam sibuk karena dempet-dempetan dengan sesama wanita

– Harus tahan fisik dan mental karena rebutan dan dorong-dorongan parah

– Harus siap berantem dengan emak-emak karena masalah kedorong-dorong atau rebutan tempat duduk

– Biasanya lebih penuh daripada gerbong campur

 

Gerbong Campur

+ Lebih manusiawi. Kalau kamu perempuan, akan lebih sering ditawari untuk duduk

+ Tidak sepenuh gerbong wanita

+ Masuk ke dalam kereta lebih tertib. Tidak dorong-dorongan

– Kurang nyaman ketika penuh sesak (biasanya pada jam berangkat kantor)

– Harus lebih waspada akan pelecehan

 

Jadi, pilih mana?

4 Comments

  1. Sama kak, Ak jg lbh milih d gerbong wanita klo penuh. D gerbong campuran klo kereta kosong n klo lg capek bgt

    1. Iya, saya juga kalau lagi penuh banget lebih nyaman desak-desakan sesama wanita. Semua ada plus minusnya sih, hehehe 😀

  2. Ih bener banget. Menurut saya yg pernah jadi anker pp Tenabang-Serpong dan Tenabang-Depok, gerbong perempuan itu sangat nggak manusiawi. Saking berulangkali dikecewakan penumpang gerbong perempuan, saya bahkan nggak keberatan utk empet-empetan di gerbong campur. Di gerbong campuran itu nggak cuma lebih manusiawi, tapi penumpangnya jg biasanya lebih punya respek sama orang lain.

    Pengalaman unforgettable saya di gerbong perempuan adl saat mau turun di Tenabang dan di peron sudah ramai sekali calon penumpang. Padahal sudah ada satpam yang teriak dr dalam kereta dan berusaha ngasih jalan utk yg mau turun dr kereta terlebih dahulu. Tapi tetap aja ibu-ibu dari luar kereta menghambur naik, sementara yg di dlm kereta satu pun belum ada yg menapak keluar. Bahkan ada salah satu ibu yg memaksa naik duluan nyahut, “Kalau nunggu yg turun dulu, saya gimana duduknya?”. Itu jadi pertama kalinya saya melihat orang teregois seumur hidup saya.

    Yg unforgettable di gerbong campuran, saya pernah jatuh pingsan dalam perjalanan dari Tenabang ke Pondok Ranji. Kayaknya gara-gara saya kurang tidur dan makan akibat begadang nugas, trus kelamaan berdiri di kereta (saya kedapatan berdiri terus dari Stasiun UI – Pondok Ranji). Hari itu saya pakai rok dan di sekitar saya banyak pria (usia paruh baya dan pemuda). Pas bangun, saya udah bersandar di kursi dan dikasih teh manis sama seorang ibu, lalu dikipasin rame-rame sama bapak-bapak di gerbong itu. Saya juga mendapati bagian bawah tubuh saya ditutupi jaket seorang pemuda, mungkin spy rok saya nggak tersingkap. So much kindness.

    Jadi saya kalau disuruh milih, tentu gerbong campuran! Thank you untuk topik postnya yg sangat menarik and sorry for the long comment :p Just want to point out something.

    1. Ya ampun mbak, luar biasa pengalamannya. Memang rata-rata masalah kalau di gerbong perempuan itu penumpang yang masuk tidak mau menunggu penumpang di dalamnya keluar. Ampun deh barbar banget. Saya belum pernah sih kalau sampai pingsan (jangan sampai) tapi mostly dari pengalaman, orang-orang di gerbong campuran jauh lebih empati dan toleran. Terima kasih ya mbak atas ceritanya 😀

Leave a Reply