Motherhood, Personal

Galaunya Menjadi Seorang Working Mom

Yang bikin galau para working moms adalah ketika cuti melahirkan sudah hampir habis, hati rasanya belum tega meninggalkan anak di rumah dengan orang lain.

Jadi ceritanya, cuti melahirkan saya sudah habis. Padahal waktu awal mau cuti, 3 bulan kayaknya bakal berasa panjang banget. Saya melahirkan seminggu setelah saya mulai cuti. Hari-hari berikutnya benar-benar luar biasa. Waktu saya benar-benar tercurahkan hanya untuk anak. Walaupun dibantu sama Ibu mertua, tapi sebagai Ibu baru, rasanya saya masih tetap kewalahan. Capek, ngantuk, sakit, stres juga. Tapi Insya Allah dengan didukung suami, saya menikmati setiap prosesnya.

Seminggu sebelum cuti berakhir, saya sudah gelisah. Tiap saat saya selalu mantengin wajah anak saya. Belum genap 3 bulan, sudah bakal ditinggal emaknya macul dari pagi sampai malam. FYI, rumah saya di daerah Pamulang dan kerja saya di Kemayoran. Jadi bayangin aja deh tuh jauhnya kayak apa. Hehehe. Satu-satunya moda transportasi yang memungkinkan adalah naik KRL dari Sudimara ke Tanah Abang dan dilanjut naik Gojek sampai kantor. Lumayan perjuangan, apalagi kalau lagi musim hujan seperti sekarang ini.

Pumping vs Kerja

Memasuki saatnya kerja, kaki saya rasanya beraaat banget untuk melangkah pergi ke kantor. Rasanya iri pada teman-teman stay-at-home mom yang bisa ketemu anak setiap saat. Tapi kembali lagi, ini pilihan saya dan saya harus siap akan konsekuensinya.

Sampai di kantor, saya kesulitan fokus pada pekerjaan. Rasanya selalu terbayang wajah dan tingkah polah anak yang lucu. Sampai terkadang saya menitikkan air mata karena rindu. Lebay? Tapi memang kenyataannya seperti itu!

Awal-awal masuk kantor, saya kesulitan mengatur waktu kerja dan pumping. Masih sulit membagi konsentrasi saat harus pumping sembari kerja. Apalagi tiba-tiba dipanggil ke ruang atasan ketika sedang pumping. Rasanya mau nangiiis aja karena kesal. Mood hancur berantakan. Hehehe.

Buat saya, saat pumping di kantor adalah saat yang krusial, karena saya harus mampu memproduksi asi untuk diminum anak esok hari, dalam kondisi apapun; stres dan sibuk karena pekerjaan, atau hal lainnya. Sebagaimana kita tahu, suasana hati dan fisik ibu sangat berpengaruh pada kuantitas dan kualitas asi. Ketika saya kelelahan karena pekerjaan (dan rute PP rumah-kantor) kemudian stok asi saya berkurang, pasti saya langsung stres dan merasa bersalah pada anak. Inilah susahnya mempertahankan asi eksklusif. Butuh perjuangan jiwa dan raga untuk menguatkan hati demi anak bisa tetap minum asi.

Commuting  yang Melelahkan

Saat pulang kantor, perjuangan belum selesai. Saya masih harus berjibaku melewati kejamnya jalanan di Jakarta Pusat ketika jam pulang kerja. Macetnya maksimal. Padahal sudah naik ojek online. Hehe. Tapi lalu lintas memang tidak dapat diprediksi sih, kadang macet dan kadang lancar. Sampai Tanah Abang, saya harus lari-lari mengejar kereta. Syukur-syukur dapat kereta yang kosong jadi bisa napas sejenak. Untungnya, perjalanan dari Tanah Abang ke Sudimara hanya sekitar 30 menit dan hampir tidak pernah ada gangguan.

Di kereta, saya banyak sekali melihat para busui (bisa dilihat dari tas jinjing Gabag yang mereka bawa), apalagi di gerbong khusus wanita (saya trauma naik gerbong campur karena lengan saya pernah dipegang bapak-bapak ketika kereta penuh). Saya tersenyum dalam hati. Banyak rekan perjuangan sesama working moms, yang berjuang di setiap peluhnya untuk kehidupan anak yang lebih baik. Mungkin lelah dan galau yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya pernah baca quotes, intinya begini: memiliki anak itu mengisi ruang di hatimu yang kamu tidak pernah tahu bahwa itu kosong. Ini benar sekali. Menjadi seorang Ibu rasanya luar biasa. Merasa dibutuhkan dan harus siaga setiap saat. Ada ruang di hati yang tiba-tiba hangat dan terisi oleh kehadiran sang anak 🙂

Ibu mertua saya berpesan, kalau bisa kita tidak ‘rewel’ di kantor agar anak kita juga tenang di rumah, karena diantara ibu dan anak terdapat ikatan batin. Ini yang selalu saya ingat agar tetap strong.

Dear para working moms, kalian tidak sendirian. Diantara lelah dan peluhmu, ingatlah ada bayi mungil yang dengan senyum dan riang candanya menunggumu pulang kerja di rumah 🙂

2 Comments

  1. Semangat mbak, semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan mengurusi kecil dan tugas tugas di kantor ya..

    1. amiin terima kasih ya mbak.. 😀

Leave a Reply