Motherhood, Personal, Pregnancy

Birth Story: Nabhan

Halo! Genap sudah 3 bulan saya tidak menulis di sini. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah saya melahirkan anak laki-laki pertama saya, Nabhan. And you know lah Moms, mengurus newborn itu rempong-nya bukan main, apalagi buat ibu baru macam saya yang gak ngerti apa-apa. Hehehe. My life’s good. Being a mother is really challenging.

SC yang Direncanakan

Sejak jauh-jauh hari, saya memang sudah merencanakan kelahiran Nabhan melalui prosedur sectio caesaria (SC) mengingat penyakit kista endometriosis bilateral yang saya derita. Kista ini menyebabkan rasa sakit yang menyiksa ketika haid dan menjelang haid, dan merupakan salah satu penyebab sulit mendapatkan keturunan.

Hidup dengan endometriosis membuat saya sangat tersiksa. Pokoknya 2 hari pertama haid saya nggak bisa ngapa-ngapain. Lemas, keringat dingin, berkunang-kunang, dan nyeri yang tak tertahankan. Gejala ini saya alami mulai tahun 2008, semenjak saya merantau untuk kuliah ke Yogyakarta. Bolos kuliah atau nyaris pingsan saat ujian sudah berkali-kali saya alami.

Sebelum menikah, saya pernah ditawari untuk operasi pengangkatan kista karena khawatir akan sulit punya anak, namun saya menolak. Yah, nikah aja belum masa perut sudah dibelek-belek? Hiks.

Alhamdulillah, Allah memberikan saya dan suami kepercayaan di waktu yang sangat singkat. 1 bulan menikah dan saya dinyatakan hamil. Ketika kontrol pertama ke Sp.OG saya, dr. Hertia Triarani, nampak jelas terlihat di layar USG, kista yang cukup besar di sisi kanan dan kiri rahim. Menurutnya, kista ini tidak mengganggu pertumbuhan janin. Akan tetapi kista ini mungkin akan mengganggu proses persalinan normal karena ukurannya yang cukup besar. Tangkai kista dapat terpuntir sehingga tindakan SC tetap harus dilakukan. Singkat cerita: dibelek atas bawah. Saya tidak mau ambil resiko mengurus bayi baru lahir dengan bekas jahitan dobel seperti itu, gak sanggup 😀 Lagipula, sudah saatnya ‘melepaskan’ kista yang sudah mengganggu hidup saya selama bertahun-tahun.

Maka dari itu, kami merencanakan kelahiran Nabhan di usia kehamilan 38 minggu, tepat pada hari Rabu tanggal 6 Juni 2018.

Persiapan

Saya menjalani tindakan SC di RS Hermina Kemayoran. Malam saat saya menginap, suster melakukan serangkaian persiapan seperti mencukur bulu pubis, serangkaian cek darah, CTG, dan memasang obat pencahar melalui anus. Esok paginya, saya dipasang jarum untuk tempat infus (paling sebel bagian ini karena saya paling takut sama infus).

SC + Kistektomi

Jadwal operasi saya yang semula jam 08.00 pagi mundur menjadi jam 09.00. Jam 08.00, saya sudah masuk ke ruang persiapan, berganti baju operasi dan berbaring menunggu nama saya dipanggil. Deg-degannya minta ampun. Saya dan suami berdoa bersama, berpegangan tangan (duile), sampai ketika nama saya dipanggil, ia ikut mengantarkan saya sampai ke depan ruang operasi. Air mata saya berlinang. Berat rasanya harus melahirkan tanpa ditemani oleh ibu kandung sendiri (ibu saya di rumah karena harus merawat ayah saya yang sakit). Alhamdulillah saya punya suami super baik yang selalu mendukung saya (love you mas hehehe).

Memasuki ruang operasi, saya bergidik ngeri membayangkan prosesnya. Suami berpesan, baca terus shalawatnya. Alhamdulillah hati saya menjadi lebih tenang dan mantap. Beberapa saat kemudian, saya diminta untuk duduk dengan agak membungkuk untuk bius epidural. Rasanya gak sakit tapi seperti tersetrum sebentar, sehingga saya agak kaget. Kemudian perlahan-lahan rasa hangat menjalari kaki saya, dan dalam beberapa saat pinggang ke bawah saya sudah mati rasa. Selanjutnya, badan saya diubek-ubek untuk persiapan tindakan dan pemasangan kateter.

Sebelum memulai, dr. Hertia mengajak saya dan tim di ruangan operasi untuk berdoa agar seluruh tindakan ini dapat terlaksana dengan lancar. Setelah itu beliau meminta izin untuk memulai, dan 10 menit kemudian muncullah si Nabhan! (Lhaa cepet banget).

Welcome to the world, Nak..

Setelahnya dibersihkan, Nabhan didekatkan ke dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini), kemudian dibawa ke ruang bayi untuk diobservasi setelah sebelumnya diazankan oleh suami saya.

Tindakan selanjutnya adalah kistektomi atau pengangkatan kista. Duh, saya merasa isi perut saya diuwek-uwek dan di remek-remek. Rasanya sungguh gak enak. Aneh banget. Total waktu yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam, sebelum dr. Hertia menjahit kembali badan saya. Setelah diekstraksi, baru terlihat ternyata kista saya berupa endometriosis dan dermoid (apa itu googling aja yah hehehe). Ukurannya sebesar telur ayam kampung.

“Endometriosisnya tidak diangkat semua ya Bu.. karena dikhawatirkan nanti sel telurnya ikut terangkat semua,” jelas dr. Hertia. Sejak awal, beliau memang mengatakan bahwa kista endometriosis saya menempel pada indung telur sehingga rentan merusak atau menghalangi sel telur. Kalau sel telur saya habis, walhasil akan sulit jika ingin memiliki keturunan lagi. Jadi yah, Insya Allah ini yang terbaik.

Pemulihan

Selesai tindakan, saya dibawa ke ruang pemulihan. Di sana, suami saya sudah menunggu sambil terus memberi kabar pada keluarga saya di rumah. Sekitar 2 jam saya berada di ruang pemulihan sebelum dibawa ke ruang perawatan.

Saat-saat paling menyakitkan setelah SC adalah 24 jam pertama. Sungguh! Mau bergerak miring aja sulitnya minta ampun. Setiap saat, saya latihan memiringkan badan untuk mempercepat pemulihan. Esok paginya, saya sudah harus bisa berdiri dan berjalan. Rasanya jangan ditanya, luar biasa. Alhamdulillah saya diberi kekuatan untuk melewatinya 😀

Sekitar 1 minggu setelah operasi, saya masih mengalami nyeri. Setelah itu, nyeri hilang secara bertahap. Jadi nggak terus-terusan sakit seperti yang dibilang oleh orang-orang. Alhamdulillah, lagi-lagi diberikan kemudahan oleh Allah Swt.

Trauma? Enggak sih. Insya Allah proses SC yang saya alami cukup nyaman dan proses pemulihannya sangat cepat. Thanks to my lovely Obgyn dr. Hertia Triarani.

Welcome to motherhood.. (to be continued)

4 Comments

  1. Gustinefa says:

    Alhamdulillah, Allah selalu beri kemudahan, semoga dd Nabhan and mom sehat selalau. Keep writing to share precious experience to others Diani

    1. Amiin terima kasih Ibu 🙂

  2. Diani, welcome to motherhood. Baca ini jd pengen peluk2 sesama new mommy hihi. Hugs!!!

    1. Haha iya kak. Makasih ya kaak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *