Health, Pregnancy

Penderita Endometriosis Juga Bisa Hamil!

Alhamdulillahirabbil alamin, di usia pernikahan kami yang ke 1 bulan, Allah sudah menganugerahkan karunia kepada kami berdua, yaitu kehamilan. Sebuah anugerah yang tidak pernah kami sangka-sangka, tidak secepat ini 😀

Sebelum menikah, saya sudah pernah memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk melakukan tes TORCH. Ternyata, saya malah didiagnosis menderita kista endometriosis bilateral. Kista endometriosis adalah sebuah kondisi dimana jaringan endometrium tumbuh di luar rahim sehingga menimbulkan rasa sakit yang berlebih ketika haid tiba. Memang, sejak kuliah teman-teman dekat saya sudah mengetahui kalau haid saya datang, saya tidak bisa beraktivitas hingga 2 hari. Pernah saya memaksakan diri untuk datang ke kampus ketika haid hari pertama, walhasil saya pucat pasi dan pingsan di kampus. Nah, kembali ke dokter saya, ia menyarankan saya untuk segera dioperasi. “Operasi? Masa saya belum menikah tapi sudah punya bekas operasi sesar, Dok?” tanya saya waktu itu. Saya tidak puas dan segera mencari second opinion.

Di dokter Sp.OG yang kedua, beliau mengatakan bahwa kista saya sudah cukup besar, dan cara pengobatannya adalah operasi. Sebenarnya bisa dengan suntik hormon, akan tetapi cara tersebut selain biayanya mahal juga tidak berpengaruh banyak. Dokter saya mengatakan bahwa penderita endometriosis, apalagi yang ukurannya cukup besar seperti saya, akan kesulitan untuk mendapatkan keturunan. “Peluang kamu untuk hamil ada, tapi tipis,” ujar sang dokter.

Pulang dari rumah sakit, saya langsung googling sebanyak-banyaknya mengenai endometriosis dan ternyata benar, sebagian besar kasus infertilitas disebabkan karena penyakit ini. Saya pun pasrah, dan membicarakan hal ini kepada (waktu itu) calon suami. Alhamdulillah, ia menerima saya apa adanya dan singkat cerita kami menikah dengan sederhana.

Beberapa minggu setelah menikah, haid saya terlambat 2 hari. Iseng, suami membeli testpack di apotik untuk mengecek. Sesuai petunjuk, urine yang dicek adalah urine pertama saat bangun tidur karena mengandung HCG (hormon kehamilan) yang paling tinggi. Ah, hanya 1 garis yang muncul. Tak lama kemudian, sebuah garis samar muncul. Samaaar banget sampai hampir tak terlihat.

Karena penasaran, esoknya saya mengecek lagi. Alhamdulillah muncul 2 garis! Garis kontrol terlihat jelas, dan garis satunya terlihat samar namun mulai terlihat. Alhamdulillah, rasa bahagia ini sungguh tidak terkira. Pagi itu juga, saya dan suami langsung ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi saya.

Ketika dicek menggunakan USG transvaginal, usia kandungan saya baru sekitar 3-4 minggu sehingga baru terlihat penebalan rahim saja. Saya diminta datang 2 minggu kemudian. Alhamdulillah, janin telah terlihat dan detak jantungnya terdengar dengan jelas. Saya sempat tidak percaya. Kuasa Allah memang sungguh luar biasa. Mau dokter memvonis saya tidak bisa punya anak, tapi jika Allah sudah berkehendak, mukjizat dapat terjadi.

Minggu-minggu berikutnya, saya mengalami pregnancy sickness yang cukup parah. Pusing, mual, dan semua yang saya makan saya muntahkan kembali. Badan rasanya lemas, tidak sanggup ngapa-ngapain. Di kantor pun saya menjadi tidak produktif, sebentar-sebentar muntah dan pamit berbaring di gudang.

Alhamdulillah, memasuki bulan ke-5 kehamilan, pregnancy sickness perlahan-lahan berkurang. Walaupun saya masih sering muntah, lemas, dan sakit kepala, akan tetapi saya sudah bisa beraktivitas dengan cukup normal. Satu yang masih menjadi kendala bagi saya adalah saya belum bisa bepergian jauh. Ke mall saja maksimal 30 menit saya sudah minta pulang, karena mata berkunang-kunang.

Saat tulisan ini dibuat, usia kandungan saya sudah 19 minggu 6 hari. Di kehamilan pertama ini, saya mengetahui jenis kelamin bayi saya pada usia kehamilan 16 minggu. Hello, baby boy! 😀

Saat ini, saya tengah menanti tendangan pertama dari si dedek. Terkadang memang ada perasaan grudukan di perut, namun saya belum yakin kalau itu merupakan gerakan si bayi. Sehat-sehat di dalam perut ya dek, insya Allah kita bertemu bulan Juni 2018!

 

Foto diambil dari sini.

11 Comments

  1. Dianiiiii kok aku jadi sedih sekaligus senang ya…. :’)
    Bismillah… sehat-sehat ya Diani & debay :*

    1. Hihi sehat juga ya Keti dan baby!

  2. Mbak, ikut seneng bacanyaa..
    Aku juga kebetulan punya kista jenis itu dan divonis yang serupa. Sekarang masih berjuang, dan baca tulisan Mbak langsung penuh harapan baru gitu hehehe makasih udah sharing ya Mbak

    1. Alhamdulillah Mbak Dessy. Jangan patah semangat Mbak! Karena dokter pun sampai heran aku bisa hamil saking kistanya sudah besar (4 dan 6 cm). Semoga dilancarkan pengobatan dan segera diberikan rezekinya ya mbak, salam 🙂

      1. Trima kasih semangatnyaa Mbak :). Itu ada 2 di kanan kiri atau cuma di satu tempat kah? Lancar persalinannya ya Mbak..

        1. Di kanan dan kiri mbak, makanya namanya ‘bilateral’. Makasih mbak dessy 🙂

          1. Ya ampun sama Mbak. Terima kasihhh sdh berbagi kesaksian hidup yaa Mbak 🙂

  3. Wah, alhamdulillaah Mbak 🙂 Mudah-mudahan hamilnya lancar, yaaa.. Aamiin. Iya, kalau Allah sudah berkehendak, pasti terjadi

    1. Iya mbak alhamdulillah banget 🙂 Amin ya robbal alamin, terima kasih doanya Mbak..

  4. Salam kenal, Mbak. Saya juga mengidap endometriosis yang malah ketauan pas lagi hamil anak pertama. Alhamdulillah sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua juga. Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah sudah berkehendak ya. Semoga sehat dan lancar sampai persalinan yaa ^^

    dini@sejenakberceloteh.com

    1. Salam kenal mbak dini 🙂 iya mbak, walaupun dokter bilang apa tapi takdir tetap di tangan Allah Swt ya Mbak.. amiin, terima kasih Mbak Dini, semoga lancar lahirannya dan sehat selalu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *