Sudahkah Kita Menjadi Penumpang Angkutan Online yang Beretika?

Sebagai masyarakat urban yang belum memiliki kendaraan pribadi, angkutan online layaknya oase untuk saya. Sebabnya adalah, saya paling malas yang namanya naik angkot, bus umum, ojek pangkalan, atau bajaj. Kalau angkot dan bus umum tarifnya sih jelas, tapi kalau sampai ada yang merokok di dalamnya tuh duuhh! Pengen pingsan aja rasanya. Nah, kalau ojek pangkalan dan bajaj, saya kesal apabila harus tawar-tawaran harga dulu sama supirnya. Pernah waktu itu saya naik bajaj dari supermarket ke kosan. Tarif normalnya adalah Rp 15.000. Eh, melihat saya bayar pakai uang Rp 50.000, si abang bajaj langsung getok harga jadi Rp 20.000! Apalagi kalau ojek pangkalan, lebih parah tarifnya. Mending saya naik taksi sekalian.

Begitu angkutan online hadir dengan harga yang sangat bersaing, ditambah fitur-fitur dan promonya yang sangat beragam, tentu saya sangat senang. Bayangkan, sekali jalan, kita hanya perlu mengeluarkan uang dari Rp 5.000 – belasan ribu saja untuk ojek online tergantung pada jarak tempuh. Belum lagi jasa yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari pesan makanan hingga antar barang. Hidup jadi lebih praktis dan mudah!

Hidup di kawasan rumah susun di bilangan Jakarta Pusat membuat saya memperhatikan sebuah fenomena unik. Kawasan rumah susun tempat tinggal saya memiliki lobi yang unik, sempit, dan tidak memungkinkan mobil untuk berhenti. Hanya berupa satu bundaran yang bercabang dua, ke pintu keluar atau ke basement.

Setiap pagi, saya dan suami memesan angkutan online untuk berangkat ke kantor. Alhamdulillah, berkat promo saya hampir selalu pulang-pergi gratis alias gak bayar sama sekali (Thanks Grab Car.. Hehe). Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan. Hampir setiap pagi pula, ketika menunggu kendaraan kami datang, kami melihat mobil (diduga angkutan online) berputar-putar mengelilingi bundaran lobby. Tak jarang mereka diteriaki satpam agar segera bergerak. Tangan kanan mereka memegang handphone, mencoba menelepon si pemesan yang tak kunjung tiba di lobby. Saya hanya bisa menggelengkan kepala saat supir-supir tersebut bertanya, “Atas nama Mbak X? Mbak X ya?”. Ketika angkutan saya datang, saya sudah siap di lobby sehingga supir tidak perlu berlama-lama menunggu.

Saya kira, belum semua orang paham etika menggunakan jasa angkutan online. Banyak orang yang berpikir “Gue kan bayar, gak apa-apa lah nunggu sebentar,”. Halo… Lu cuma bayar Rp 15 ribu, tinggal duduk manis ga usah nyetir, gak bayar bensin tambahan pula kalau jalanan macet.  Pernah ada kejadian seorang ibu-ibu memesan Grab, dan Grabnya disuruh nunggu 2 JAM. 2 JAM sodara-sodara… Tanpa permohonan maaf atau apapun. Saya jadi supir Grabnya pasti langsung ngamuk! Pernah juga teman saya nyeletuk, “Pengen makan XXX nih, pesan Gojek aja lah, biar abangnya yang ngantri 2 jam..” Saya dalam hati nyeletuk, Ya Allah tega banget sih?

Berangkat dari kejadian-kejadian semacam itu, saya mencoba untuk merangkum beberapa etika untuk menggunakan jasa angkutan online sebagai berikut:

  1. Informasikan lokasi penjemputan dengan jelas, jangan membuat supir bingung dan berputar-putar.
  2. Sudah siap di lokasi penjemputan saat angkutan online tiba. Jangan membuat supir menunggu. Kasihan, mungkin dalam satu hari mereka bisa melayanani belasan sampai puluhan trip. Ringankanlah pekerjaan mereka, Insya Allah urusan kita juga akan diringankan.
  3. Tahu batas maksimal penumpang untuk kendaraan yang akan dinaiki. Maksimal jumlah penumpang untuk mobil adalah 4 orang. Apabila bepergian dengan jumlah banyak, pesanlah lebih dari 1 kendaraan. Hal ini untuk menghindari kerusakan mobil si supir karena kelebihan muatan.
  4. Saat masuk atau naik kendaraan, sapalah supir dengan sopan, jangan lupa konfirmasikan pesanan kita agar tidak salah naik kendaraan, seperti “Selamat pagi/ siang/ sore Pak, Grab atas nama …. ya Pak?”. Jangan ujug-ujug buka pintu, naik, nunduk mainan handphone, lalu setelah sampai tujuan ngeloyor begitu saja. Tunjukkan bahwa kita adalah penumpang yang tahu sopan santun.
  5. Bayarlah uang parkir, atau bahkan Rp 500-an untuk Pak Ogah yang dikeluarkan oleh supir selama perjalanan kita. Walau nilainya kecil, tapi itu berarti kita berhutang apabila tidak membayarnya.
  6. Selama perjalanan, jangan berbicara atau mengobrol terlalu keras karena akan membuat supir kurang nyaman dan kehilangan konsentrasi.
  7. Jangan membuang sampah di dalam kendaraan.
  8. Ketika sampai di tujuan, jangan lupa ucapkan terima kasih dan periksalah agar tidak ada barang-barang yang tertinggal.

Nah, saya juga punya beberapa saran untuk teman-teman yang menggunakan jasa angkutan online untuk membeli makanan, seperti GoFood sebagai berikut:

  1. Jangan memilih tempat makan yang lokasinya terlalu jauh dari posisi kita. 6 km hanya untuk mengantar Dum Dum? Kasihan banget abang Gojek-nya.
  2. Jangan memilih tempat makan yang masuk-masuk mall dan antri berjam-jam! Coba kalian bayangkan abang-abang Gojek itu ngantriin  King Mango atau Pablo sampai 2-3 jam untuk kalian, dengan hanya dibayar upah seadanya saja. Bayangkan perasaan mereka ketika mengantri makanan yang bukan untuk mereka. Banyak dari supir Gojek tersebut merupakan orang yang kurang mampu. Menjadi supir Gojek adalah salah satu cara mereka menyambung hidup. Jangan persulit mereka untuk mencari nafkah.
  3. Jangan sembarangan meng-cancel pesanan. Kasihan apabila pesanan kita sudah dibayar dengan uang pribadi supir.  Kecuali, apabila supir request untuk cancel, misal karena restoran tutup atau hal lain.
  4. Saat pesanan terima, jangan lupa ucapkan terima kasih.

Semoga, tips-tips di atas dapat diaplikasikan di kehidupan kita sehari-hari, ya! Mungkin, ada lagi yang punya tips atau saran tambahan? Silakan share  di kolom comment ya!

 

Cheers,

Diani

 

Photo: vivanews

Leave a Reply