Exotic Sumba (1): Kebudayaan Unik Penduduk Asli Sumba

Anda dan pasangan adalah penggemar petualangan? Mencari destinasi untuk berbulan madu yang anti-mainstream, eksotis, sepi, unik, dan belum banyak orang yang tahu? Mungkin, Sumba adalah jawabannya.

Berhubung saya dan suami lumayan hobi traveling, jauh-jauh hari sebelum tanggal pernikahan, kami sudah memutuskan untuk honeymoon ke Sumba. Awalnya, saya mengenal Sumba dari feed Instagram-nya @mirles dan @nicholassaputra. Padang ilalang yang luas, kuda berlarian bebas, dan keindahan alam yang luar biasa membuat kami penasaran untuk segera berkunjung ke Sumba. Apalagi, setelah salah satu resortnya Nihiwatu berhasil dinobatkan sebagai resort terbaik di dunia, Sumba semakin mendapat sorotan dari dunia luar.

Untuk menuju ke Sumba, saya menggunakan tur, akan tetapi saya lebih menyarankan (lebih murah!) agar teman-teman langsung mengontak supir sekaligus tour guide kami, Patris (0812-4631-0649) yang merupakan pemuda asli Sumba Barat Daya. Sekedar perkiraan, harga tiket PP Jakarta- Sumba adalah sekitar Rp 3 juta perorang.

Umumnya, tur Sumba berlangsung selama 4 malam, dimulai dari Sumba Barat Daya (Tambolaka) dan berakhir di Sumba Timur (Waingapu). Oleh karena itu, arrangement tiket pesawat kami adalah sebagai berikut:

Berangkat: Jakarta – Denpasar – Tambolaka

Pulang: Waingapu – Denpasar – Jakarta

 

Tiba di Bandara Tambolaka, kami dijemput oleh Patris dan dibawa ke hotel (yang katanya) paling bagus di Sumba Barat Daya, yaitu Hotel Sinar Tambolaka. Hotelnya ya so-so lah, yang penting bisa tidur dan mandi. Hotel yang sebenarnya lebih pas disebut penginapan ini terletak tak jauh dari Bandara Tambolaka, hanya sekitar 15 menit saja.

 

Penduduk Asli Sumba

Menuju Desa Adat Ratenggaro, tujuan pertama kami diperlukan waktu sekitar 1,5 jam dengan perjalanan darat. Sepanjang jalan, supir kami Patris tak henti bercerita mengenai masyarakat asli Sumba. Secara wilayah administratif, Sumba dibagi menjadi 4 kabupaten, yaitu Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. 

Di Sumba Barat Daya, masih banyak sekali penduduk yang tinggal di rumah tradisional beratap alang-alang. Rumah tersebut dibagi menjadi 3 tingkatan: bagian bawah untuk ternak, bagian tengah untuk dapur dan tempat tidur, serta bagian atas untuk menyimpan hasil tani. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Sumba adalah bertani, walaupun tanahnya kering tandus. Air pun masih sulit didapatkan disini.

“Di Sumba Barat Daya, kami masih beli air dari mobil tangki,” jelas Patris. Menurutnya, sudah banyak masyarakat yang mencoba memasang sumur bor, akan tetapi sumur tersebut selalu dirusak oleh (terduga) orang suruhan pemilik mobil tangki, sehingga mau tak mau masyarakat harus membeli air kepadanya. Waduh, ini mah namanya kejahatan ya? Kalau di Jakarta, bisa didemo berjilid-jilid. Kasihan banget.

Satu hal yang unik dari rumah-rumah di Sumba adalah, mereka meletakkan makam di depan rumah. Makamnya pun unik, berbentuk seperti kotak dengan pintu dan atap. Menurut Patris, tabu apabila meletakkan makam di belakang rumah. Makam berada di depan rumah dengan tujuan anggota keluarga dapat selalu mengingat leluhurnya. Uniknya lagi, jenazah tidak dikubur, melainkan dimasukkan lewat pintu, kemudian didudukkan di kursi, Kemudian, pintu tersebut disemen. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal di kemudian waktu, pintu tersebut akan dibongkar, dan jenazah akan didudukkan di dalamnya. Begitu seterusnya.

Di Sumba, sudah pemandangan umum melihat anak-anak sekolah berjalan berkilo-kilo meter, terkadang sembari membawa jerigen air. Panas-panas kayak gitu, disuruh jalan berkilo-kilo meter naik turun bukit.. seketika saya merasa beruntung dengan hidup saya.

Menurut Patris, tingkat pendidikan masyarakat di Sumba masih relatif rendah. Masih banyak yang tidak bisa baca tulis, ataupun berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, kesadarannya terhadap pariwisata juga masih kurang. “Nanti, di Ratenggaro akan ada anak-anak yang mengikuti kita dan minta uang, sebisa mungkin jangan dikasih, karena mereka dididik untuk minta-minta pada tamu. Kami  dan dinas setempat sudah mengingatkan, akan tetapi sepertinya susah untuk diubah karena mereka belum mengerti pentingnya pariwisata,” lanjutnya.

Membicarakan penduduk asli Sumba dengan Patris sepertinya tak ada habisnya. Ia mengisahkan, bahwa penduduk asli Sumba Barat Daya masih sering bunuh-bunuhan. Oleh karena itu, penduduk disini terbiasa untuk membawa parang kemana-mana. “Disini mah sering ribut karena masalah apapun, setiap hari libur Natal atau Tahun Baru pasti ada yang berkelahi dan bacok-bacokan,” jelas Patris. Kami bergidik ngeri. Kebetulan, daerah Sumba Barat Daya ini adalah daerah yang paling rawan. Sebisa mungkin, jangan sampai sendirian kalau ke daerah Sumba Barat Daya. Tingkat kejahatannya terhadap pendatang masih tinggi sekali.

Budaya ‘ribut’ dimaksud ternyata terbawa ke beberapa aspek, termasuk urusan sepakbola, pilkada, dan pilpres. Lucunya, apabila pertandingan sepakbola diadakan di salah satu kabupaten, sang tuan rumah haruslah menang. Kalau tidak, penontonnya bisa ngamuk! Tidak hanya ngamuk, wasit dituntuk untuk memperpanjang durasi pertandingan hingga tuan rumah menang. Apabila tidak, maka wasit tersebut akan dikeroyok ramai-ramai. Ada-ada saja ya.

Jujur, mendengar cerita-cerita Patris membuat saya agak syok, karena tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Sumba yang eksotis ini memiliki kebudayaan yang cukup unik dan lumayan ‘mengerikan’. Tapi it’s OK, sebagai pengalaman untuk semakin mengenal budaya-budaya di Indonesia.

Nah, satu hal yang paling unik dari kebudayaan Sumba adalah untuk urusan pernikahan. Apabila ingin meminang seorang perempuan, laki-laki Sumba harus membawa mahar yang besarannya ditentukan oleh keluarga si perempuan. Semakin tinggi pendidikan dan jabatan si perempuan, maka maharnya akan semakin tinggi. Mahar yang biasa digunakan masyarakat Sumba adalah kuda dan kerbau. Untuk perempuan dengan status pekerjaan PNS, maharnya bisa mencapai 50 ekor kuda dan 50 ekor kerbau lho! Uniknya, pemuda-pemuda di Sumba memiliki ‘arisan mahar’. Jadi, mereka saling membantu untuk memenuhi mahar pernikahan rekan-rekannya.

 

Desa Adat Ratenggaro

Tak terasa, 1,5 jam kemudian kami sampai ke Desa Adat Ratenggaro di Sumba Barat Daya. Tidak ada listrik maupun sinyal HP disini. Benar saja seperti kata Patris, ketika kami turun, kami langsung dikerubungi oleh beberapa anak kecil yang meminta permen dan uang. Kami menolak dengan halus. “Kadang, anaknya tidak kita kasih, orangtuanya yang marah,” kata Patris. Oh my Godserem lah kalau harus menghadapi bapak-bapak berparang.

Desa Ratenggaro sendiri terletak di pinggir pantai, dengan pemandangan yang luar biasa indah. Di depan pintu masuk desa, terdapat makam megalitikum yang sakral.

Desa Adat Ratenggaro
Anak-anak Ratenggaro berenang di tepi pantai

 

Pantai Pero

Tak berlama-lama di Ratenggaro, kami mengunjungi destinaasi selanjutnya yang terletak tak jauh dari sana yaitu Pantai Pero. Pantai Pero adalah sebuah pantai yang unik. Balutan pasir putih menghiasi bibir pantai yang dipenuhi karang-karang. Keren banget.

Pantai Pero
Muara sungai
The honeymooners

 

Bukit Ledongara

Membicarakan Sumba tak lepas dari savana dan perbukitan yang luas. Sore itu, kami dibawa ke Bukit Ledongara. Pemandangannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sayangnya, di Sumba sedang marak isu pembakaran bukit-bukit. Beberapa bukit dibakar karena perselisihan warga akibat pembagian uang dari wisatawan. Termasuk, the famous Bukit Wairinding dan Bukit Ledongara ini. Walhasil, pemandangannya jadi agak item-item gimana gitu. Tapi untuk Bukit Ledongara, masih tetap indah kok.

Surreal
Selfie everywhere

Perjalanan kami baru saja dimulai. Tunggu lanjutan kisahnya ya! 🙂

 

Cheers,

Diani

 

Baca juga:

Exotic Sumba (2): Eksotisme Mbawana Hingga Tenun Ikat Sumba

Exotic Sumba (3): Pondok Wisata Pantai Cemara, Surga Kecil di Purukambera

Leave a Reply