Pesona Khatulistiwa Kota Palu – Donggala

Tak terbayang sebelumnya saya akan kembali menjejakkan kaki di tanah Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah. Tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Kendari, Sulawesi Tenggara (baca di sini untuk kisah lengkapnya). Pada tahun ini, saya berkesempatan untuk menjelajahi kota Palu yang merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

Kesan pertama saya terhadap kota Palu adalah panas! Panasnya benar-benar membakar, membuat baju selalu basah oleh keringat, dan membuat dehidrasi. Ternyata, Palu merupakan salah satu kota yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Pantas panasnya terik sekali.

Palu merupakan kota yang terletak di tepi pantai, serta memiliki 5 dimensi lanskap yaitu lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Wih, lengkap banget kan. Kota Palu berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah utara.

Pelabuhan Donggala

Kabupaten Donggala terletak tak jauh dari Kota Palu, hanya sekitar 1 jam perjalanan darat. Kabupaten Donggala sendiri pada zaman kolonial merupakan pusat pemerintahan Belanda. Dari Kabupaten Donggala itulah, lahir kota-kota baru disekitarnya seperti Palu, Sigi, Parigi Moutong, dan Toli-Toli. Oleh karena itu, di sekitar Pelabuhan Donggala terdapat banyak sekali bangunan bergaya kolonial. Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut tampak kusam tak terawat.

Selama 3 hari di Palu, saya mengunjungi beberapa atraksi wisata yang lumayan bagus dan memiliki potensi pariwisata yang cukup tinggi. Sayangnya, potensi pariwisata di sini belum dikelola dengan cukup matang. Seperti saat saya berkunjung ke Pantai Tanjung Karang, Donggala yang terletak sekitar 1 jam dari Palu, pemandangan pantai dengan air biru jernih tersebut cukup terganggu dengan hadirnya sampah-sampah plastik di pinggir pantai. Selain itu, ketersediaan toilet umum  dan fasilitas penunjang sangat minim. Semoga kelak Pantai Tanjung Karang yang cantik ini bisa dikelola dengan baik ya.

Bagus kan pemandangannya..

Tempat kedua yang saya datangi adalah Monumen/ Taman  Edukasi Perdamaian Nosarara Nosabatutu. Taman Edukasi Perdamaian Nosarara Nosabatutu terletak di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore Kota Palu, Sulawesi Tengah yang berada pada 2km dari belakang Mako Polda Sulteng (sumber). Karena berada di atas bukit, taman ini bisa dicapai melalui jalan utama, lalu melewati jalan kecil dan menanjak sekitar 10 menit. Pemandangannya luar biasa! Masih ingat kota 5 dimensi yang saya sebutkan di awal tadi? Di titik ini, Anda dapat melihat seluruh dimensi kota Palu dengan lengkap.

Menikmati senja di Monumen Nosarara Nosabatutu adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan sore di Palu. Sayangnya, saya tunggu hingga jam 6 sore, matahari tidak turun-turun juga, sementara saya sudah harus bertolak ke tempat lain. Tempat ini juga merupakan tempat yang cukup populer bagi muda mudi Palu untuk memadu kasih a.k.a. pacaran. Hehehe.

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menikmati kuliner khasnya. Makanan khas kota Palu adalah “Kaledo”, sejenis sup kaki lembu yang rasanya asam pedas.

“Kaledo” adalah singkatan dari “Kaki Lembu Donggala”.  Kaledo adalah makanan paling berlemak yang pernah saya makan. Kuahnya enak sih asam dan segar, tapi dagingnya 80% lemak dan saya gak sanggup makan. Buat yang punya penyakit kolesterol, lebih baik hindari makan kaledo ya.

Nah, sekian dulu kisah perjalanan saya di Palu dan Donggala. Ada yang sudah pernah atau ingin berwisata ke Palu? Silakan share di kolom komen ya… Adios!

Leave a Reply