Teman Traveling Seumur Hidup

“What is meant for you, will reach you even if it is beneath two mountains. What isn’t meant for you, won’t reach you even if it is between your two lips.” – Imam Ghazali

Ingat kata orang tua? Jodoh itu nggak kemana. Memang, pepatah itu benar adanya. Mau jungkir balik, rempong cari jodoh kesana dan kesini, sampai akhirnya depresi dan putus asa; kalau memang Tuhan belum menghendaki kita untuk bertemu pasangan hidup kita, ya nggak bakal bertemu. Mau kita berusaha sekeras apapun, kalau Tuhan berkata belum saatnya kita untuk bertemu dengan jodoh, maka Ia akan ‘menyimpan’ jodoh kita, dan mempertemukannya di saat yang tepat.

Bertahun-tahun saya sempat merasakan menjadi jomblo ngenes. Sampai teman-teman kuliah terheran-heran, “Yaampun Di, masih sendiri aja? Betah amat.” Saya memang merupakan orang yang introvert dan penyendiri. Di samping itu, saya tidak mudah dibuat terkesan, ditambah wajah saya yang jutek dan tidak mudah dekat dengan orang lain, komplit sudah. Berkali-kali merasakan patah hati membuat saya beribu kali berpikir ulang untuk kembali dekat dengan makhluk yang bernama laki-laki. Untuk apa? Toh sendiri pun saya sudah bahagia.

Tetapi, lama kelamaan, ada suatu rongga di hati saya. Saya merasakan, seperti ada kepingan puzzle yang hilang dari diri saya. Kepingan puzzle itu terisi ketika saya melakukan hobi yang sangat saya cintai: jalan-jalan. Tapi itu hanya sementara. Ketika saya sedang suntuk dengan rutinitas kantor, atau membusuk di pojokan kamar ketika malam Minggu tiba, rasa kehilangan itu kembali muncul. Ya.. sepertinya saya perlu menemukan tambatan hati.

Beragam ikhtiar sudah saya lalui, mulai dari manut dikenalkan oleh teman kesana-kemari, ikut-ikutan main Tinder dan Setipe.com, berdoa di Tanah Suci, minta didoakan oleh orang lain, (insya Allah) memperbaiki diri pun sudah saya lakukan. Tapi jodoh saya tidak jua terlihat batang hidungnya. 1 tahun, 2 tahun, bertahun-tahun berlalu, hingga usia saya genap 26 tahun. Mau nyari kemana lagi gue? Semua teman-teman sudah bertunangan, menikah, bahkan sudah ada yang anaknya 2. Marak nasehat berseliweran, hey, menikah itu bukan dulu-duluan.  Iya paham sih paham. Lu enak ngomong gitu udah ada suami.. Udah nggak kesepian lagi! Kemana-mana ada yang nemenin. At least, ada yang sayang sama lu.. huft.. terus giliran gue kapan?? (nangis darah)

Sebenarnya bukan lebih kepada dulu-duluan, melainkan.. hey this old little soul needs some arms to lean on! Gue udah capek jadi jomblo ngenes. Sudah saatnya gue nikah. Bahkan, you know,  predikat jomblo ngenes sudah saya sandang sejak jaman dahulu kala mengingat kisah cinta saya gaada beruntung-beruntungnya. Tapi, ternyata keberuntungan itu datang di saat yang paling tepat!

Rencana Tuhan memang selalu indah. Tahun 2015, saya ikut open trip Sailing Komodo di Labuan Bajo. Yang namanya open trip, kita bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai macam latar belakang. Karena kami bakal bersama-sama terombang-ambing selama 3 hari 2 malam di kapal, mau tidak mau kami harus mengenal satu sama lain. Siang itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 12.00 WITA. Harusnya, kapal kami sudah bergerak menuju Pulau Kanawa. “Maaf ya, kita masih menunggu 1 peserta lagi, dia dari Jakarta, sepertinya pesawatnya delay,” ujar Mas Zul, tour leader saya. Kurangajar.. kami semua padahal sudah bela-belain tiba di Labuan Bajo H-1 trip agar aman, lah orang ini seenak udel-nya baru terbang pas hari H! Kami semua pun ngedumel.

Sekitar 1 jam-an kami menunggu di kapal, hawa Labuan Bajo makin panas membara. Akhirnya, sesosok mas-mas gundul berkacamata muncul tergopoh-gopoh membawa ransel. “Nah, oke sudah lengkap, kita berangkat sekarang..” ujar Mas Zul sambil memerintah Pak Mat, kapten kapal kami agar kapal segera berlayar. Mas-mas berkacamata tadi nampak celingukan, ia tidak bersama satu orang pun teman. Sepanjang perjalanan pun ia lebih banyak diam. Cuma sepatah dua patah kata yang terlontar. Dari obrolan singkat kami, saya cuma tahu dia bernama Rizki, kerja di salah satu BUMN Konstruksi, dan sedang bertugas di proyek Stadion Cibinong. Duh, judes amat ini orang.Tak ada obrolan lebih lanjut, tidak ada cerita saling gebet ataupun main mata. Sepulangnya saya dari Labuan Bajo, ada friend request dari seorang mas-mas dengan latar belakang puncak Pulau Padar. “Ah, ini palingan mas-mas dari trip” gumam saya.

Setahun berlalu tanpa kontak apapun. Yah, paling dia sesekali komen di postingan Path saya. Dan beberapa kali nge-love, kayaknya. Tiba-tiba di bulan November 2016, ketika saya mengikuti kegiatan Duta BUMN yang lokasinya (ternyata) di depan kantornya, ada pesan baru masuk. “Apa kabar? Bla.. bla.. lagi apa?” Pengirimnya tak lain dan tak bukan adalah Rizki, mas-mas judes berkacamata yang pernah ngetrip bareng saya ke Labuan Bajo itu. Dih, siapa sih ini? Sok kenal sok deket banget. Lama kelamaan, dia sering nge-chat saya, dan saya tanggapi dengan seadanya. Datar sedatar-datarnya. 2 minggu kemudian, ia mengajak saya untuk jalan ke mall yang berada tak jauh dari rumah saya.

Dari obrolan-obrolan kami, saya baru tahu bahwa ia baru mutasi ke Jakarta. Rumahnya nun jauh di Bogor. Sebelumnya, ia bertugas di proyek Palembang, Batam, dan Surabaya. Kencan pertama tersebut berlanjut ke beberapa kali makan malam (entah berapa kali, yang pasti saya sering banget ketemu dia), sampai pada akhirnya saya merasa, sepertinya yang bertahun-tahun saya cari, ada di orang ini. Sholeh? Insya Allah. Sholat? Rajin. Agama? Insya Allah bagus. Merokok? Tidak. Karir? Insya Allah punya masa depan yang baik. Orang Jawa? Tulen, bonus.. ngapak.. LOL. Alkisah perihal ngapak ini, sepertinya saya kualat dengan seorang sahabat baik saya Hima dari Purbalingga yang ngapak-nya minta ampun. Saya sering meledek dia karena ngapak dan rempong, hingga ia berkata, “Awas kamu Di nanti suamimu kayak aku,” dan selalu saya berkata, “Ogaaahhh!”.

Sampai pada suatu ketika, saya merasa bahwa saya harus memberitahu orang ini perihal apa yang saya rasakan. Kenapa harus saya yang ngomong duluan? Karena orang ini sepertinya malu-malu sekali. Gayung bersambut (alhamdulillah) ia merasakan hal yang sama. Kami mulai berbicara tentang masa depan, tentang rencana-rencana kami, tentang hobi traveling kami, tentang kisah pada waktu di Labuan Bajo itu ia tidak terlambat, melainkan salah jemput. Cerita tentang bagaimana ia selalu kepo dengan Facebook dan Path saya sepulangnya kami dari Labuan Bajo. Cerita bagaimana pada akhirnya ia bisa jatuh hati dengan saya.

Setelah dirasa benar-benar mantap, ia datang ke rumah dan bertemu orangtua saya. Kunjungan balik juga saya lakukan, hingga akhirnya keluarganya datang melamar saya pada bulan April 2017. Alhamdulillah. Semua yang saya harapkan, yang selalu saya panjatkan, dan cita-citakan, akhirnya Insya Allah akan terwujud di tahun 2017 ini. Saat ini, kami sedang mempersiapkan pernikahan kami yang Insya Allah akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan. Speechless, hingga saya acapkali berpikir, ini betulan tidak sih? Akhirnya, Rizki yang tadinya hanya merupakan teman trip, menjadi (Insya Allah) teman traveling saya seumur hidup.

Sungguh, rencana Tuhan adalah rencana yang paling Indah. Berdoalah, berusaha, dan pasrahkan segala urusanmu pada Tuhan. Biarlah ia yang mengatur, dan memantaskan jodoh untukmu. Jangan patah semangat, untuk para perempuan pencari jodoh di luar sana. Karena harapan itu akan selalu ada.

One Comment

  1. Pingback: Exotic Sumba (1): Kebudayaan Unik Penduduk Asli Sumba – Diani's Travel Stories

Leave a Reply