Lautan Manusia di Hutan Mangrove PIK

Foto diambil dari sini

Orang Jakarta itu butuh piknik.

Akan tetapi, Jakarta itu kota yang minim akan ruang terbuka hijau. Hiburan paling mainstream di Jakarta adalah mall yang saat ini jumlahnya semakin bejibun. Sesekali weekend ke mall tak apalah. Tapi tiap minggu? Hmm…

Mungkin inilah yang menyebabkan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk atau yang selama ini dikenal dengan Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) di Jakarta Utara begitu tersohor dan ramai dikunjungi. Taman wisata ini begitu populer di media sosial, dan digadang-gadang sebagai salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Jakarta. Popularitas Hutan Mangrove PIK sebagai salah satu tempat favorit prewedding juga tidak kalah tinggi. Selfie di atas kano dengan latar belakang hutan bakau, atau villa-villa yang berjejer dengan indahnya? Pasti keren banget.

Foto diambil dari sini

Berbekal rasa penasaran itulah (masa tinggal di Jakarta belum pernah ke Hutan Mangrove PIK?), saya dan teman baik saya Hima, Toni, Lina dan (ehem!) Mas Rizki berangkat ke sana. Bayangan saya, di sana saya akan menikmati rimbunnya hutan bakau, foto-foto, yah minimal bisa rileks dan menepi sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta.

Untuk yang belum pernah ke Hutan Mangrove PIK, tempat ini cukup mudah untuk dicari kok. Saya berangkat dari Tol Jakarta – Serpong, exit di Pantai Indah Kapuk. Nanti di kiri jalan, belok sebelum Vihara Buddha Tzu Chi. Ikuti jalan, belok kanan, lalu gerbang Hutan Mangrove PIK berada di kiri jalan.

Ternyata, baru belok di Vihara Buddha Tzu Chi, arus kendaraan sudah berhenti. Satpam setempat mengarahkan kami untuk parkir di jalan; agak jauh sedikit dan butuh effort ekstra untuk berjalan kaki.

Sepanjang jalan, wisatawan nampak berjalan bergerombol menuju ke arah Hutan Mangrove PIK. Semuanya numplek blek jadi satu. Ramai banget! Ditambah, matahari siang itu bersinar dengan teriknya.

Harga masuk ke kawasan wisata ini dibanderol Rp 25.000,00 untuk wisatawan lokal dan Rp 250.000,00 untuk wisatawan asing. Sistem antriannya tidak jelas, tidak ada queueing line untuk wisatawan, sehingga banyak yang saling serobot. Setelah membeli tiket, tiket kita akan diperiksa di gerbang depan. Di pintu gerbang tersebut, tertera peraturan bahwa pengunjung tidak diperbolehkan membawa kamera profesional (DSLR, mirrorless, action cam, dan lain-lain) atau akan dikenakan denda sejumlah Rp 1.500.000,00.

Ternyata, lokasi Hutan Mangrove PIK cukup luas dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Ada kantin, function hall (walau tidak luas), villa, tenda, kano, hingga gardu pandang. Akan tetapi, ramainya Hutan Mangrove PIK siang itu benar-benar menyurutkan niat saya untuk mengeksplor seluruh lokasi tempat wisata ini. Sebagian besar akses jalan disini menggunakan jembatan kayu. Jangan sampai saltum pakai heels, wedges, dan sepatu cantik kalau tidak mau terjungkal saat melintasi jembatan. Permukaannya yang tidak rata dan licin cukup menyulitkan wisatawan untuk berjalan.

Hima, Toni, Mas Rizki, saya, dan Lina

Pengunjung yang kepanasan ramai berteduh di villa-villa atau cottage yang ada di lokasi wisata. Kebanyakan pengunjung adalah ABG yang pacaran atau datang bergerombol, serta rombongan keluarga. Banyak dari wisatawan yang kurang bisa menjaga manner sehingga berisik banget dan membuat pengunjung lain terganggu. Bayangkan Anda berada di lautan manusia yang berisik dan alay, di tengah panas terik Jakarta.

Satu hal lain yang mengganggu, adalah pengunjung yang tidak peduli pada kebersihan tempat wisata dan membuang sampah seenaknya, sehingga Hutan Mangrove PIK ini menurut saya cukup jorok dan kotor. Sepenglihatan saya, jarang sekali petugas yang standby di area dan tidak banyak tong sampah tersedia. Villa-villa yang disewakan pun terlihat kotor, banyak yang reyot dan hampir rubuh.

Ketika hendak pulang, saya menyempatkan diri untuk menaiki gardu pandang (yang lagi-lagi tidak dijaga petugas). Disana terpampang tulisan, gardu pandang yang lumayan tinggi ini tidak boleh dinaiki lebih dari 4 orang dewasa. Ketika kami ber-4 sampai di puncak, gardu pandang yang sudah agak reyot tersebut bergoyang-goyang. Ternyata, ada 3 orang lainnya yang sedang menaiki tangga ke puncak. Kalau sampai gardu pandang ini rubuh karena kelebihan beban, siapa yang mau bertanggung jawab?

Akhir kata, menurut saya tempat wisata ini harus banyak berbenah sebelum semakin semrawut. Untuk yang ingin kesini saat weekend (apalagi membawa bayi, anak kecil, atau orang tua) lebih baik dipikirkan lagi matang-matang. Adios!

Leave a Reply