Sunyi Sepi di Bokori

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Kendari dalam rangka survey untuk kegiatan kantor. Di hari terakhir, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pulau yang terletak tak jauh dari pusat kota Kendari, yaitu Pulau Bokori. Bokori adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Tanjung Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Dari informasi yang saya baca, Pulau Bokori memiliki pasir putih yang cantik dan dapat ditempuh dengan 10 menit menyeberang dari Tanjung Soropia. Hmm, sepertinya menarik untuk dikunjungi.

Saya berangkat dari Kendari pada pukul 14.00 dengan mobil Avanza sewaan. Harga sewa mobil di Kendari memang sedikit lebih tinggi dibandingan dengan di kota-kota lain. Untuk harga sewa Avanza 1 hari beserta supir, penumpang dikenakan charge sebesar Rp 450.000,00, belum termasuk bensin. Perjalanan ke Tanjung Soropia memakan waktu kurang lebih 1 jam dari Kendari dengan medan yang naik turun.

Di Tanjung Soropia, kami bertemu dengan Ibu Ade yang menyewakan speedboat untuk menyeberang ke Pulau Bokori. Di sepanjang Tanjung Soropia, banyak warga yang menyediakan jasa penyeberangan ke Bokori, akan tetapi hanya sedikit yang memiliki speedboat. Dengan speedboat, waktu tempuh menyeberang hanya sekitar 10 menit. Harga sewa speedboat kapasitas 15 orang adalah Rp 200.000,00 PP.

 photo IMG_06301.jpg
Tanjung Soropia

Sepanjang perjalanan ke Pulau Bokori, saya menikmati indahnya lanskap perbukitan di sekitar pantai. Dengan laut kehijauan dan langit biru cerah, cuaca di Tanjung Soropia pada saat itu sungguh panas. Dari kejauhan, saya melihat indahnya Pulau Bokori.

Kami merapat di dermaga dan disambut oleh Mbak Nur, staf penjaga Pulau Bokori. Untuk memasuki Pulau Bokori, pengunjung diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar Rp 5.000,00 perorang. Saat saya berkunjung ke sana, hanya ada 1 rombongan kecil yang sedang berkunjung, sehingga pulau ini tidak terlalu ramai. Laut biru, pasir putih, dan langit sore menemani saya menikmati sunyi Pulau Bokori.

 photo IMG_06311.jpg

 photo IMG_06321.jpg

Pulau Bokori sendiri sudah dilengkapi dengan fasilitas cottage VIP berjumlah 4 buah, dengan kapasitas maksimal 10 orang per-cottage. Untuk cottage biasa, jumlahnya sekitar 4-5 buah. Perbedaan antara cottage VIP dan biasa adalah kamar mandinya. Cottage VIP dilengkapi dengan kamar mandi dalam, sementara pengguna cottage biasa harus menggunakan kamar mandi umum yang tersedia di tengah pulau. Rate harga cottage VIP Pulau Bokori adalah Rp 1,7 juta permalam.

Permasalahan di Pulau Bokori adalah, pulau ini belum dikelola secara maksimal. Cottage Pulau Bokori tidak dilengkapi dengan restoran, sehingga otomatis tidak ada makanan di pulau ini. Mbak Nur menjelaskan, sebenarnya bisa memesan makanan terlebih dahulu, akan tetapi ia tidak berjanji untuk menyanggupi. Masalah juga kan, kalau mau berlibur tapi nggak bisa makan. Selain itu, pada waktu-waktu tertentu pulau ini digunakan oleh pejabat pemerintah sehingga tidak dapat digunakan oleh umum. Ada juga 1 cottage yang di-blok khusus untuk Bupati, sehingga tidak dapat digunakan oleh masyarakat umum.

Tak sampai 30 menit di Bokori, saya sudah harus kembali ke Kendari untuk mengejar pesawat ke Jakarta. Banyak hal yang bisa diperbaiki dari Pulau Bokori, seperti penyediaan akses dermaga yang bagus, penyediaan pusat informasi turis (baik di website maupun di kota Kendari), penyediaan kafe/ restoran di Pulau Bokori, serta menempatkan staf hospitality yang capable untuk menangani turis.

So long, Bokori!
 photo IMG_06381.jpg

7 Comments

  1. Aprilia

    Keren bgt,dsna brarti hrus bawa makan minum sndri y mba?brarti kyk privat pulau gt y mba?soalnya dlm waktu dekat ini mau ksna..kira2 ad guide ny ga y?heheh mksih mba

    1. Halo Mba Aprilia 🙂 Iya Mba waktu saya kesana tahun lalu, benar-benar tidak ada yang jual makanan/minuman. Mbak yang jaga bilang, kalau mau disediakan makanan harus pesan terlebih dahulu beberapa hari sebelum datang. Pulaunya kecil mbak jadi keliatannya ga perlu guide. Nanti di Tanjung Soropianya akan terlihat banyak yang menyewakan jasa transport ke Bokori.

  2. Pingback: Pesona Khatulistiwa Kota Palu – Donggala – Diani's Travel Stories

Leave a Reply