Traveling, Ikut Open Trip atau Berangkat Sendiri?

Di era media sosial seperti sekarang ini, tersedia beragam pilihan untuk traveling. Banyak travel organizer menawarkan jasa di media sosial seperti Instagram dan Facebook dengan istilah “Open Trip”. Istilah open trip ini mulai booming pada awal tahun 2012. Open trip ini sendiri mengacu pada kegiatan traveling secara kolektif, dimana travel organizer akan menetapkan destinasi, itinerary, biaya, serta kuota dan persyaratan lainnya kepada khalayak umum.

Saya sendiri pertama kali mengikuti open trip pada tahun 2012 ke Karimun Jawa. Waktu itu, istilah open trip masih cukup asing di kalangan masyarakat. Awalnya terasa agak aneh karena saya belum pernah pergi berlibur dengan strangers. Ternyata, open trip jauh lebih seru daripada bayangan saya, bertemu dengan teman-teman, pengalaman, dan suasana baru. Nah, berikut saya akan jelaskan beberapa kelebihan dan kekurangan open trip.

(+) Open Trip

  1. Bakal banyak ketemu dengan teman-teman baru. Sebenarnya, paling enak ikut open trip dengan beberapa teman dekat, kemudian di tempat tujuan berbaur dengan kelompok-kelompok lainnya. Bakal lebih seru ketimbang ikut open trip sendirian. Tapi saya pernah ikut open trip sendirian waktu ke Rumah Pohon Bandung, dan saya bergabung dengan peserta lain yang sama-sama berangkat sendirian. Hasilnya, dapat 2 teman baru, dan kami seseruan bertiga selama trip 😀
  2. Lebih ramai, lebih seru. Bakal banyak kejadian-kejadian seru yang dialami bersama rekan-rekan satu trip. Salah satu pengalaman open trip saya yang paling berkesan adalah ke Taman Nasional Komodo. 3 hari 2 malam terombang-ambing di tengah lautan Flores benar-benar membuat kami akrab satu dengan lainnya.
  3. Lebih mudah untuk traveler yang ingin terima beres. Terkadang, open trip adalah pilihan paling baik. Tinggal bayar sesuai ketentuan, dan seluruh keperluan kita selama trip akan dijamin. Untuk trip-trip daerah yang sulit terjangkau (misal: karena merupakan destinasi wisata baru sehingga informasi serta sarana dan prasarana minim), lebih aman menggunakan open trip daripada repot urus ini-itu sendiri.
  4. Budget relatif lebih murah, karena sharing dengan anggota trip lain.

(-) Open Trip

  1. Bakal rame banget. Di satu sisi, asyik ramai banyak teman. Tapi di sisi lain, tempat wisata yang kita datangi akan ramai banget, tergantung dengan jumlah peserta trip. Saya pernah ikut open trip dengan jumlah peserta 15 orang hingga 50 orang. Dengan jumlah peserta yang banyak, walhasil spot selfie dan foto-foto bakal penuh dengan manusia. Kurang Instagrammable, ya kan.
  2. Harus stick sama jadwal. Misalkan, jam sekian ke pulau A, jam sekian ke pulau B, dst. Kita tidak bisa berlama-lama spot yang kita sukai. Padahal, intinya traveling adalah menikmati perjalanan dan bersantai 😀
  3. Beware  dengan travel organizer abal-abal. Jangan hanya dilihat harganya yang murah, coba crosscheck referensi ke teman yang sudah pernah memakai jasanya.

Saya pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan ketika ikut open trip ke Pulau Peucang, Ujung Kulon, Banten. Kali itu, tour leader-nya serba tidak jelas, sama sekali nggak asyik, dan puncaknya, tiba-tiba saya dan teman-teman saya ditinggal di Pulau Peucang! Si tour leader pergi entah kemana. Bikin mood liburan jadi kacau. Pernah juga teman saya, ketika ikut open trip di Pulau Menjangan, tiba terlalu sore sehingga mereka snorkeling gelap-gelapan. Nah, untuk menghindari hal-hal seperti ini, carilah referensi sebanyak-banyaknya tentang travel organizer yang akan digunakan. Jangan ragu bertanya kepada teman, atau kepada saya 😀

Mau open trip atau berangkat sendiri, yang penting liburan…

4 Comments

Leave a Reply