Terpukau Indahnya Linow

Pagi itu, saya berlari tergesa di Terminal Keberangkatan 1C, Bandara Soekarno Hatta. Jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi, pertanda bahwa 30 menit lagi pesawat yang saya tumpangi akan segera boarding. Lemas rasanya melihat antrian security check point (SCP) yang panjang mengular. Segera saya melepaskan jam tangan, jaket UGM kesayangan saya (yang sudah buluk banget tapi nyaman – saking nyamannya selalu saya bawa traveling kemana-mana), ransel, dan koper untuk dimasukkan ke dalam x-ray scanner. Selesai dari security check point, saya langsung berlalu menuju konter check in Citilink. Ternyata, antrian lebih ganas lagi panjangnya. ‘Wassalam alamat ketinggalan pesawat deh ini,’ batin saya dalam hati.

Untungnya, tak lama kemudian ada seorang petugas check in Citilink yang meneriakkan kota tujuan saya. “Manado.. Manado check in di sini, pesawatnya sudah boarding!”. Segera saya berlari, check in, dan bergegas menuju boarding gate. Saat hendak masuk ke pesawat, saya baru teringat, jaket UGM saya ketinggalan entah di mana. Mau balik, sudah gak mungkin. Bisa-bisa ketinggalan pesawat. Ya sudah, saya pasrah kehilangan jaket kesayangan tersebut.

Pagi itu, hari Minggu, saya bertolak ke Manado.

Sebuah kota di ujung utara Pulau Sulawesi yang terkenal akan Taman Laut Bunaken yang indah itu. Waktu luang saya di Manado sangat singkat, hanya 1 hari, karena hari Seninnya saya harus dinas di Kantor Cabang Manado. Mas Bayu, teman saya di sana menyarankan untuk pergi ke Danau Linow yang terletak tak jauh dari kota Manado. Tepat jam 09.00 WITA, saya tiba di Bandara Sam Ratulangi dan dijemput oleh Mas Bayu. Ternyata, dia mengajak 2 orang temannya yaitu Mas Bima dan Amanda. Kami langsung berangkat menuju Kota Tomohon yang berjarak sekitar 1 jam dari bandara.

Pemandangan sepanjang jalan menuju Tomohon amat memanjakan mata saya. Maklum, sudah lama jadi orang Jakarta yang jarang melihat yang hijau-hijau. Jalanan yang menukik dan meliuk-liuk dijamin membuat mual untuk yang mabuk darat. Di jalan, saya iseng mencoba Contact Center PT Angkasa Pura II, penasaran akan jaket saya yang hilang. Saya mengontak melalui e-mail, dan diminta untuk melengkapi data diri, kronologis, dan foto diri untuk mempermudah tracking melalui security camera. Hmm, respon yang cukup cepat. Tak sampai 10 menit saya mendapatkan e-mail balasan, “Terima kasih, kami akan melakukan investigasi terhadap kasus Ibu,” jawaban normatif; saya benar-benar berharap jaket saya dapat ditemukan.

1 jam kemudian, kami memasuki kota Tomohon. Penduduk kota Tomohon sebagian besar adalah umat Kristiani. Di kanan-kiri jalan, terlihat pemandangan para penduduk yang baru selesai kebaktian di gereja. Toko-toko tidak ada yang buka, semua serentak tutup. Wah, repot juga kalau ada kebutuhan mendadak di hari Minggu. “Mau mampir Pasar Tomohon nggak?” tanya Mas Bayu kepada saya. Pasar Tomohon adalah pasar tradisional yang menjual aneka bahan makanan yang aneh-aneh (menurut saya) seperti anjing, kalelawar, dan lain-lain. Sayangnya, karena hari Minggu, pasar tersebut tutup.

Tak lama kemudian, kami berbelok ke sebuah jalan sempit yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju Danau Linow. Benar-benar akses yang sempit dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Apabila ada mobil yang lewat dari arah berlawanan, kami harus minggir ke parkiran rumah warga. Bus besar dijamin tidak bisa lewat. Dari kejauhan, terlihat pemandangan danau kebiruan yang dikelilingi oleh perbukitan. Itulah Danau Linow.

 photo AEF63F45-1C3D-46B7-9D73-8BE7F9722473.jpg

Untuk masuk ke kawasan Danau Linow, pengunjung dikenakan biaya Rp 25.000,00 perorang, sudah termasuk segelas teh/ kopi hangat untuk dinikmati di pinggir danau. Danau Linow sudah dikelola dengan baik, dilengkapi dengan dek-dek kayu dan meja kursi yang bisa digunakan untuk bersantai menikmati indahnya danau.

 photo ADF402ED-C302-43E4-9574-28D01E5342B5.jpg

Indah ya?

Bayangkan syahdunya ketika hujan turun rintik-rintik. Ah, damai sekali rasanya di Linow.

Kami menikmati sepiring pisang goreng yang disajikan dengan sambal ikan roa, ikan khas Manado. Pisang goreng yang masih panas terasa nikmat dimakan di tengah hawa Linow yang sejuk. Karena lapar, saya juga memesan semangkuk Mie Cakalang. Nikmat.

 photo F3350274-F647-4296-A312-1907F77FE9A4.jpg

Danau Linow merupakan danau dengan kadar belerang yang tinggi. Seperti yang disebutkan di cumilebay.com, Danau Linow ini sekilas mirip Kawah Putih di Ciwidey, Bandung, akan tetapi jauh lebih sepi dan terawat. Benar-benar indah ciptaan Tuhan. Tampak di beberapa sudut terlihat muda-mudi yang berpacaran. Kami mengamati sepasang muda-mudi yang sibuk selfie di salah satu spot Danau Linow. “Apa aja dhek.. asal kamu bahagia,” ujar si cowok setelah mereka selesai selfie. Mereka tertawa lepas dan kembali menikmati indahnya Linow. Saya dan Amanda berpandangan menahan tawa. Apa aja dhek.. asal kamu bahagia..

 photo DB7897E5-7C5E-4A8D-AECF-121E54AF97C6.jpg

Puas menikmati Danau Linow, kami berangkat menuju Bukit Doa Mahawu yang terletak tak jauh dari Danau Linow. Bukit Doa Mahawu adalah objek wisata religi yang cukup terkenal di Tomohon. Di Bukit Doa Mahawu terdapat sebuah kapel dengan latar Gunung Lokon yang indah. Kami berjalan menyusuri Jalan Salib, sayangnya dengan rute terbalik. Sesuai yang saya baca disini, rute Jalan Salib Mahawu memiliki rute yang cukup mudah didaki, dan diakhiri dengan Goa Maria yang sering digunakan oleh umat Kristiani untuk berdoa.

“Kalau Natal dan Tahun Baru, disini ramai sekali Di,” ujar Mas Bayu.

Perjalanan kami hari Minggu itu ditutup dengan makan bakso sapi di pinggir pantai di kota Manado. Di kanan-kiri, terdapat rumah makan yang menjual babi. “100% haram. Rusuk babi, sate babi” dengan tulisan segede-gede bagong. “Hiburan kami disini ya ini aja Mbak, mall,” kata Amanda sambil terkekeh. Sebenarnya, Mas Bayu dan Mas Bima menawarkan kami untuk ke pantai pasir putih di pesisir Manado, akan tetapi hari sudah terlanjur sore dan esok hari kami semua harus kembali bekerja. Mungkin lain waktu, saya akan kembali menjelajah Manado, dan tentunya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Bunaken.

Apa kabar jaket saya yang hilang?

Sudah 1 bulan berlalu, belum ada kabar dari Contact Center Angkasa Pura II. Ya sudah, ikhlaskan saja 😀

Leave a Reply