Menginap di Nabucco Island Resort Maratua

Siapa tak kenal Derawan?

Kepulauan yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini tersohor atas keindahan bawah laut, laut jernih berwarna toska, pasir putih, dan tak lupa danau ubur-uburnya. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kepulauan Derawan bersama rekan-rekan media. Yang membuat spesial perjalanan kali ini adalah, kami berkesempatan untuk bermalam di sebuah resort terkenal di Kepulauan Derawan, yaitu Nabucco Island Resort Maratua.

Nabucco merupakan sebuah resor privat di Pulau Maratua yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan speedboat dari Dermaga Tanjung Batu Berau. Berdasarkan informasi yang saya terima, resort ini dikelola oleh orang Liechtenstein, negara kecil berbahasa Jerman di Eropa.

Saya merapat di Nabucco saat matahari mulai tenggelam. Kami langsung disambut oleh 2 orang asing pemilik resort ini seraya berkata “Selamat datang di Nabucco”. Suasana yang hangat dan begitu kekeluargaan. Seperti layaknya saya ini adalah tamu penting yang harus dijamu sebaik mungkin.

Meski mulai gelap, keindahan Nabucco tak surut. Pemandangan laut biru dan pasir putih masih dapat kami nikmati, berpadu dengan hangatnya suasana matahari terbenam.

Nabucco Island Resort terdiri dari sekitar 14 bungalow yang dapat disewa dengan menggunakan mata uang USD atau Euro. Resort ini juga menawarkan paket wisata seperti snorkeling dan diving. Tentu saja, semuanya di-charge menggunakan mata uang asing.
Resort-resort di Nabucco berbentuk seperti rumah panggung, dengan interior full kayu dan ornamen-ornamen khas Kalimantan. Dari depan pintu kamar, disediakan tangga agar pengunjung bisa langsung berenang ke laut.
 

Resort di Nabucco dilengkapi dengan AC, ceiling fan, kulkas, serta kamar mandi. Yang perlu diingat, kloset di resort tidak menggunakan semprotan air. Mungkin karena mengikuti standar bule.

Suasana Nabucco yang hening dan tidak banyak keramaian membuat tempat ini cocok untuk orang-orang yang ingin menyepi dari hiruk pikuk kota. Cocok juga untuk honeymoon karena tempatnya yang romantis dan sepi.

Malam harinya, kami makan malam di restoran di Nabucco dengan sistem served. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert disajikan dengan apik. Menu-menunya disiapkan oleh chef  Nabucco dengan citarasa western yang sangat kental. Menurut saya, apabila disiapkan menu-menu dengan citarasa Indonesia pasti akan lebih nendang.

Pagi harinya, kami disambut dengan pemandangan indah khas Maratua.
Pasir putih, langit biru, laut toska.

Karena pada hari itu kami harus mengunjungi banyak tempat, kami bergegas untuk meninggalkan Nabucco. Rasanya saya masih ingin leyeh-leyeh di kursi santai depan kamar menikmati birunya lautan Kepulaan Derawan.

Kami dibawa oleh tour guide untuk mengunjungi beberapa spot snorkeling, yaitu spot penyu dan manta ray.  Sayang sekali, saya tak menemui seekorpun penyu atau manta ray. Menurut tour guide, manta ray hanya muncul saat laut pasang.

Taman laut Derawan indah sekali! Karangnya berwarna-warni dan ikannya sangat banyak.

Kami juga berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Kakaban, pulau dengan danau ubur-ubur tidak menyengat. Danau Kakaban merupakan danau prasejarah dengan luas 5 km2. Selama ribuan tahun, Danau Kakaban menciptakan ekosistemnya sendiri secara unik. Di tempat ini, hidup 4 jenis ubur-ubur.

Untuk menuju Danau Kakaban, kami harus menyusuri tangga-tangga kayu sembari menikmati indahnya hutan Kalimantan. Obyek wisata ini dikelola dengan modern dan sangat baik, terlihat dari terawatnya fasilitas-fasilitas umum yang ada di dalamnya.

Di Danau Kakaban, saya berkesempatan untuk berenang bersama ubur-ubur. Saat saya menceburkan diri, ubur-ubur berwarna kecokelatan mulai menampakkan diri dan berenang di sekitar saya. Saya mencoba menyentuhnya: seperti menyentuh agar-agar. Geli. Saya tidak lama-lama berenang bersama ubur-ubur dan langsung berpindah untuk spot snorkeling berikutnya.

Berikutnya, kami dibawa ke palung laut Kakaban. Ketika mendengar kata palung, saya langsung takut. Bayangan akan arus yang kuat dan pemandangan yang seram langsung menghantui saya. Ternyata, setelah saya coba, pemandangan snorkeling di palung laut ini adalah yang paling indah! Ratusan ikan kecil berwarna-warni terlihat mengerubungi anemon. Ada juga ikan dengan warna seperti pelangi, dan ikan-ikan dengan bentuk dan warna yang belum pernah saya lihat sebelumnya menari-nari di laut dalam. Semenjak saat itu saya bertekad, saya harus punya sertifikat diving.

Setelah puas menelusuri palung laut, speedboat kami bergerak menuju Pulau Derawan. Pulau Derawan ini adalah surganya para backpacker. Berbagai penginapan dengan varian harga tinggi hingga rendah  tersedia di pulau ini. Kami berhenti sejenak di dermaga untuk snorkeling bersama ikan-ikan.
 

Sayang sekali, waktu saya di Derawan tidak banyak dan harus bergegas kembali ke Balikpapan. Bagi pecinta alam bawah laut, tentu menikmati keindahan Derawan harus masuk ke dalam bucketlist.

Tip mengunjungi Derawan:

  • Perjalanan ke Derawan dapat ditempuh dengan rute pesawat: Jakarta – Balikpapan – Berau. Tiket Jakarta – Balikpapan PP adalah sekitar Rp 1,1 juta, dan tiket Balikpapan – Berau PP adalah Rp 800 ribu.
  • Dari Berau, pengunjung dapat memilih untuk melanjutkan dengan perjalanan darat 3 jam menggunakan mobil ke Pelabuhan Tanjung Batu, atau 2 jam langsung dengan speedboat menyusuri sungai. Untuk perjalanan darat, siapkan obat anti mabuk karena medan yang naik turun serta kondisi jalan yang kurang baik.
  • Jangan membeli gelang dari sisik penyu. Penyu adalah binatang yang dilindungi. Akan tetapi, masih banyak masyarakat lokal yang membuat kerajinan dari hewan ini.
  • Pakai sunblock yang banyak. Cuaca di Derawan sangat panas
Selamat berlibur!

Leave a Reply