Pengalaman Pertama Melihat Gerhana Matahari Total di Bandara

Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 ini amatlah spesial untuk saya. Hal ini disebabkan karena saya akan terbang langsung ke Balikpapan untuk menyaksikan fenomena yang setidaknya terjadi selama 20 tahun sekali ini. Niat banget? Memang, karena ini tugas dari kantor. Saya mengajak serta 4 orang kawan media TV dan online dari Jakarta untuk meliput fenomena ini. Pihak kantor cabang Bandara Balikpapan sudah menyiapkan tempat khusus di airside (sisi udara) bandara, tepatnya di Giant Seawall.

Sebenarnya ada beberapa titik keramaian yang memang disiapkan oleh pemerintah setempat bagi masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana di Balikpapan, yaitu di Lapangan Merdeka dan Pantai Manggar. Akan tetapi, keduanya terletak agak jauh dari bandara sehingga kami tidak meliput di kedua tempat tersebut.

Pukul 6 pagi setelah mengambil stok gambar, kami dibawa masuk ke restricted area untuk menuju lokasi pengamatan gerhana tersebut. Kami diberikan vest kuning yang harus dipakai selama kami berada di airside bandara. Kemudian, mobil yang kami naiki digeledah dan diperiksa layaknya penumpang yang melewati Screening Check Point (pemeriksaan keamanan) bandara. Setelah itu, mobil kami perlahan-lahan melewati service road untuk menuju lokasi.

Service road adalah jalan di airside bandara, di sebelah apron (tempat parkir pesawat) yang berfungsi sebagai tempat melintasnya kendaraan penunjang kegiatan kebandarudaraan, seperti mobil AMC (Apron Movement Control), mobil groundhandling (kru yang menangani pesawat selama di darat), bagasi, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Kami melintas perlahan-lahan di service road sambil mengamati pesawat-pesawat yang tengah diparkir. Maksimal kecepatan mobil yang melintas di service road adalah 20 km/jam. Keamanan memang merupakan hal yang tidak bisa ditoleransi dan sangat diutamakan dalam pengoperasian bandara.

Melintas di service road juga harus berhati-hati. Kami tidak diperkenankan melintas ketika ada pesawat yang hendak lepas landas atau mendarat karena khawatir akan dampak jet blast. Yang dimaksud dengan jet blast yaitu efek yang timbul dari dorongan mesin jet pesawat ketika lepas landas dan mendarat.

Setelah kurang lebih 15 menit berkendara, sampailah kami di lokasi pengamatan. Lokasi pengamatan berada di pantai pembatas Bandara Balikpapan. Disana, telah disiapkan tenda khusus untuk pengamatan dan sholat gerhana. Teman-teman dari media TV langsung bersiap untuk live. Sayangnya, karena keterbatasan sinyal, rencana live tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Puncak Gerhana Matahari Total di Balikpapan berlangsung mulai pukul 08.35 WITA. Perlahan-lahan, bulan bergeser dan membentuk lingkaran cahaya. Tiba-tiba, langit yang terang benderang berubah menjadi gelap gulita seperti suasana di malam hari. Subhanallah! Atmosfir terasa agak aneh dan mencekam, seiring kami semua terpana menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini.

Suasana pada saat itu benar-benar tidak dapat saya deskripsikan dengan kata-kata. Rasanya seperti sedang berada di scene serial Marvel’s Agent of Carter. Begitu aneh, unik, tapi benar-benar saya alami sendiri. Ternyata, setelah bincang-bincang kanan kiri, banyak wisatawan domestik maupun asing yang sengaja datang ke Balikpapan untuk menyaksikan gerhana. Potensi wisata gerhana ini memang sudah jauh-jauh hari ditangkap dan dikampanyekan oleh Kementerian Pariwisata RI. Sungguh pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan.

N.B: Menyaksikan Gerhana Matahari Total tidak boleh dilakukan dengan mata telanjang karena dapat merusak mata. Gunakanlah kacamata khusus untuk melihat gerhana.

Leave a Reply