Wisata ke Ciwidey: Kampung Cai, Rusa, dan Kawah Putih

“Camping yuk!”

Entah kenapa kata itu tiba-tiba terlontar dari pikiran saya kepada teman-teman. Sumpek dan jenuh dengan hawa Jakarta serta terlalu banyak berdiam diri di ruangan AC membuat saya ingin menikmati pemandangan alam. Sejenak melepas penatnya rutinitas di Jakarta. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpukan sekitar 10 teman SMU untuk ikut camping di kawasan Kampung Cai, Ranca Upas, Ciwidey yang terletak di Bandung Selatan.

Sebelumnya, saya sudah pernah berkunjung ke Kampung Cai dalam situasi yang tidak mengenakkan, yaitu pendidikan bela negara/ SAMAPTA ketika masa orientasi kantor. Bayangan akan nyebur ke comberan serta jatuh terguling-guling di kubangan lumpur sebenarnya masih membuat saya risih. Namun terlepas dari itu, Kampung Cai merupakan tempat yang asyik untuk camping bersama teman dan keluarga.

Hari Sabtu tepat pukul 07.00 pagi, kami berangkat dari Jakarta menuju Bandung. Rute yang kami lewati adalah Jakarta Outer Ring Road – Tol Purbaleunyi – kemudian exit di Kopo. Jalanan pada saat itu cukup lengang, namun mulai padat saat memasuki exit Kopo. Dari Kopo, kami mengikuti jalan ke arah Soreang kemudian Ciwidey. Jalan menuju Ciwidey menukik, sempit, dan berkelok-kelok. Disarankan untuk yang baru belajar naik mobil jangan coba-coba uji nyali kesini. Jalanan juga cukup macet karena menyempit di beberapa titik seperti pasar, pusat perbelanjaan, dan rumah makan.

Di kanan-kiri jalan, banyak terhampar ladang stroberi. Ya, Ciwidey memang terkenal akan wisata ‘petik stroberi’-nya. Namun melihat kami membawa rombongan laki-laki gahar kok sepertinya kurang pas aja kalau liburan diisi dengan memetik stroberi.

Sekitar pukul 02.00 siang, kami sampai di kawasan Kampung Cai Ranca Upas, Ciwidey. Kampung Cai terletak tidak jauh dari Kawah Putih sehingga mudah untuk dicari. Sesampainya disana, kami menghubungi pihak pengelola untuk menyewa tenda, matras, sleeping bag, dan membeli kayu bakar. Ternyata, di Kampung Cai sedang dilaksanakan gathering semacam komunitas kemah keluarga Indonesia. Seru banget! Banyak keluarga yang membawa peralatan camping lengkap, seperti coolbox, kursi dan meja lipat, persediaan makanan yang menggunung, dan lain-lain. Sementara kami cuma bawa Pop Mie.

Kami memilih untuk mendirikan tenda di dekat danau. Lokasinya strategis, tidak ramai dan cukup mudah akses untuk ke toilet. Sementara pak penjaga mendirikan tenda, kami menikmati makan siang yang dibawakan oleh mamanya Mila, teman saya. Tau aja si Tante kalau kita semua sedang kelaparan. Hehe.

Sore itu, Ciwidey gerimis rintik-rintik sehingga suasananya semakin sendu. Enak banget untuk sekedar leyeh-leyeh atau tidur beralaskan tikar. Udaranya segar, dan mata kita akan dimanjakan dengan hijaunya dedaunan. Di Kampung Cai sendiri ada beberapa hal yang bisa dilakukan selain camping, yaitu outbound, berenang di kolam air panas (hot water boom), trekking ke hutan, dan berkunjung ke penangkaran rusa. Seluruh lokasi tersebut bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Untuk masuk ke tempat penangkaran rusa, pengunjung tidak dipungut biaya lagi. Bagi yang ingin memberi makan rusa, dapat membeli seplastik wortel yang dihargai Rp 5.000,00. Tapi ingat, sampah plastiknya jangan dibuang ke kandang rusanya ya.

Satu rule yang harus diingat oleh pengunjung saat mengunjungi penangkaran rusa ini adalah: jangan sekali-kali turun ke kandang dan berada terlalu dekat dengan rusa. Saya melihat dengan mata dan kepala sendiri seorang mbak-mbak yang diseruduk rusa karena berada terlalu dekat. Tak lama kemudian, giliran teman saya Sayyid yang diseruduk 😀

Lokasi ini beberapa waktu belakangan memang hip sekali untuk dijadikan foto prewedding. Tapi hati-hati diseruduk rusa ya. Sakitnya lumayan soalnya katanya.

Puas memberi makan rusa, kami tadinya hendak ke hutan untuk trekking. Tapi apa daya, lumpur yang dalamnya sedengkul menghalangi niat kami.

Malamnya, hujan turun cukup deras. Ternyata  tenda yang kami gunakan bocor di beberapa titik sehingga barang-barang berharga harus segera diselamatkan. Masalah berikutnya adalah, bagaimana cara menyalakan api unggun?

Walaupun kami sama-sama senang traveling, tapi untuk pengetahuan survival kami nol besar. Segala cara dicoba, mulai dari pakai api kompor, pakai bensin, kertas, api tetap tidak mau menyala. Setelah penuh perjuangan, api unggun berhasil dinyalakan, dan sedikit menghangatkan badan kami di tengah dinginnya Ciwidey.

Malam itu, saya tertidur sangat nyenyak (kayaknya kapanpun dimanapun saya selalu bisa tidur nyenyak). Pukul 06.00 kami mulai keluar tenda dan mencari sarapan. Tak perlu khawatir kelaparan ketika camping di Kampung Cai. Segala macam tukang jualan ada, mulai dari bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning, jagung rebus, Indomie, dan lain-lain.

Sementara para laki-laki berenang di kolam air panas, kami para perempuan berkunjung ke penangkaran rusa lagi dan kembali untuk mengepak barang. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami berangkat menuju Kawah Putih Ciwidey.

Siapa yang tidak kenal Kawah Putih Ciwidey?
Nama Kawah Putih Ciwidey menjadi terkenal setelah menjadi lokasi syuting film Heart yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Tiket masuk ke Kawah Putih adalah Rp 18 ribu perorang, dan biaya parkir mobil sebesar Rp 6 ribu (parkir bawah). Terdapat 2 buah lokasi parkir di Kawah Putih, yaitu parkir atas dan parkir bawah. Parkir atas biayanya relatif cukup mahal, yaitu Rp 150 ribu permobil. Lebih baik, pengunjung memarkir mobil di bawah dan menuju lokasi Kawah Putih dengan menaiki ontang-anting, kendaraan angkot yang dimodifikasi untuk mengangkut penumpang dari parkir bawah menuju lokasi. Biayanya Rp 18 ribu perorang, dan rasakan sensasi naik jet coaster di pegunungan.

Memasuki lokasi Kawah Putih, pengunjung disarankan untuk menggunakan masker agar tidak keracunan gas belerang. Setiap beberapa menit sekali, petugas mengumumkan batas waktu maksimal kunjungan ke kawah adalah 15 menit untuk menghindari resiko keracunan.

Sekitar pukul 12.00 siang, kami turun dari Ciwidey dan sampai di bawah pada pukul 02.00 siang. Sepanjang jalan, kemacetan mengular di jalur utama Ciwidey yang sempit. Bis-bis besar, motor, dan mobil pribadi berdesakan untuk menuju Ciwidey. Untung saya sudah mau pulang. Saran saya, naiklah ke Ciwidey pada pagi hari untuk menghindari macet.

Untuk yang ingin mencari suasana lain dari Bandung, boleh lah berkunjung ke Ciwidey 🙂

Keterangan:

  • Perlengkapan yang perlu dibawa untuk camping: pakaian ganti, sweater, payung, kaus kaki, obat-obatan dan perlengkapan pribadi, senter, power bank, tisu basah.
  • Sewa tenda: Rp 250.000/malam.
  • Sewa sleeping bag dan matras Rp 25.000/orang.

Leave a Reply