Merinding Disko di Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust

Siapa tak kenal Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust?
Ketiga pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Pulau Kelor, beberapa tahun belakangan ini menjadi terkenal setelah dijadikan tempat resepsi pernikahan artis Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto.

Sudah lama saya ingin mengunjungi ketiga pulau tersebut karena lokasinya tak begitu jauh dari pusat kota. Untuk menuju ke tiga pulau ini, akses terdekat adalah Pasar Ikan Muara Kamal, Jakarta Utara.

Saya bersama 3 teman saya, Hima, Tony, dan Devi sepakat untuk mengikuti open trip 1 Hari 5 Pulau yang diselenggarakan oleh Travollution. Opsi yang ditawarkan adalah mengunjungi Pulau Kelor, Cipir, Onrust, Rambut, dan Untung Jawa.

Sekitar pukul 06.00 pagi kami berkumpul di pasar ikan. Bau amis, lalat, genangan air terlihat dimana-mana berpadu dengan riuhnya jalanan; angkot, motor, orang berseliweran di mana-mana. Ikan, udang, kerang, dan cumi-cumi segar hasil tangkapan nelayan banyak dijajakan di sekitar kanan dan kiri jalan. Untuk pengunjung yang membawa mobil, mobil dapat diparkirkan di area luar pasar (sebelah kiri jalan). Disana terdapat warga yang menyediakan lahan untuk parkir kendaraan bermotor. Kalau saya sih, kurang nyaman menaruh kendaraan pribadi seharian di tempat tersebut. Lebih baik naik kendaraan umum.

Trip ini lagi-lagi dipandu oleh Mas Seno dan Mas Rendy dari Travollution. Kali ini, terdapat 1 orang tour leader lagi yang ikut yaitu Mbak Oca. Semuanya ramah, seru, dan pastinya hobi memfoto-foto kami. Sekitar pukul 07.00, kami menyeberang menuju Pulau Kelor. Waktu yang ditempuh sekitar 30 menit. Kami melintasi keramba-keramba nelayan yang terbuat dari semacam bambu berwarna putih.

Dari kejauhan, terlihat sebuah pulau dengan benteng berwarna merah kecokelatan. Itulah Pulau Kelor.

Pulau Kelor ini sangat indah! Saya tidak menyangka masih ada pulau di sekitaran Jakarta yang memiliki pasir putih dengan laut biru. Rasanya ingin segera menceburkan kaki ke pinggiran pantai. Melihat Benteng Martello yang sangat keren, kami semua langsung menghambur untuk foto-foto.

Benteng Martello sendiri merupakan sebuah benteng yang dibangun oleh VOC pada abad ke-17 sebagai pertahanan untuk melawan Portugis. Benteng ini berdiri dengan kokoh di atas pasir putih, dengan jendela-jendela besar yang artistik. Untuk melindungi Benteng Martello, pengunjung dilarang naik ke jendela-jendela ini karena dikhawatirkan akan runtuh.

Sayang waktu kami di Pulau Kelor hanya sekitar 1 jam. Padahal kami masih ingin duduk-duduk menikmati semilir angin pantai di pulau ini. Tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Rambut. Pulau Rambut sendiri merupakan habitat untuk burung-burung sehingga sering disebut dengan Pulau Burung. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak menjumpai 1 ekor pun burung. Mungkin mereka takut dengan manusia.

Kami menjelajahi hutan di Pulau Rambut dan naik ke menara gardu pandang untuk menikmati pemandangan indah ini.

Dari Pulau Rambut, kami bertolak menuju Pulau Untung Jawa yang letaknya berdekatan. Pulau Untung Jawa ini sungguh ramai dengan wisatawan asal Jakarta. Atraksi utama yang ditawarkan oleh pulau ini adalah watersport. Di pulau ini, banyak warga yang menyediakan rumahnya untuk homestay. Banyak pula yang menjajakan makanan di warung-warung maupun bale-bale.

Hawa di Pulau Untung Jawa siang itu sungguh panas. Rasanya saya mau meleleh.
Uniknya, saya melihat booth Teh Poci (kalau tidak salah) yang menggratiskan minuman untuk anak yatim. “Anak Yatim: Gratis”. Subhanallah, dan booth ini terdapat beberapa buah di seluruh penjuru Pulau Untung Jawa.

Sementara peserta yang lain watersport, kami berjalan-jalan menjelajahi pulau. Di ujung pulau ini terdapat kawasan kuliner seafood. Hati-hati, harganya bisa cukup mahal. Satu porsi ikan bakar bisa dihargai hingga Rp 250.000,00. Mendingan saya makan Indomie.

Kami berbincang di bawah rindang pohon hingga waktu menunjukkan pukul 04.00 sore. Saatnya untuk menuju Pulau Cipir dan Pulau Onrust.

Di Pulau Cipir (baca: shay per) ini banyak terdapat reruntuhan bangunan yang diberi label nama seperti Karantina Haji, Rumah Sakit, Rumah Dokter, dan lain-lain. Pulau Cipir ini pada tahun 1911 – 1930an berfungsi sebagai tempat karantina bagi jemaah haji. Di Pulau Cipir dan Pulau Onrust terdapat artefak bersejarah peninggalan VOC, sehingga pengunjung dapat mengetahui sejarah kepemimpinan pemerintah Hinda Belanda dan hubungannya dengan pulau ini.

Suasana di Pulau Cipir dan Pulau Onrust cukup mencekam, menurut saya. Apalagi Pulau Cipir ini dulunya adalah tempat karantina bagi jemaah haji yang terkena penyakit menular. Apabila mereka meninggal, mereka juga dimakamkan di pulau tersebut. Puing-puing kamar mandi, penjara, dan rumah sakit menciptakan kesan angker, apalagi tidak banyak pengunjung pada saat itu. Belum lagi terdapat makam keramat yang nisannya terbungkus dengan kain kafan. Rasanya sedang berada di dalam set film Suzanna.

Di Pulau Onrust terdapat sebuah kompleks pemakaman Belanda yang cukup luas. Bentuk makamnya cukup unik, seperti atap rumah yang terbuat dari batu.
 
Tour guide kemudian menjelaskan mengenai kisah seorang noni Belanda bernama Maria Van De Valde. Maria meninggal di pulau ini dalam usia yang cukup muda, sekitar 20an tahun. Ia meninggal bunuh diri karena ketahuan berselingkuh (drama banget haha). Saya bertanya, “Bapak pernah bertemu dengan noni ini?”. Si Bapak Tour Guide menjawab singkat “Beberapa kali,” kemudian kami langsung disuruh bubar, membuat suasana horor semakin mencekam.
 

Sepulangnya kami dari sana, bayang-bayang kelam Pulau Cipir dan Onrust masih menghantui saya. Entah kenapa, mungkin karena kami berkunjung kesana ketika hari mulai gelap. Hawa di kedua pulau tersebut sungguh horor dan tidak nyaman. Saya heran banyak pekerja bangunan yang tinggal disini untuk menyelesaikan proyek pembangunan, apa tidak horor? Sementara, saya yang hanya berkunjung beberapa jam saja sudah merinding disko.

Leave a Reply