3 Hari Tanpa Sinyal di Tanjung Puting

Perjalanan saya dengan sahabat SMA saya, Kodil, berlanjut.
 
Setelah seminggu sebelumnya kami mangkel dengan tour leader yang membawa kami ke Pulau Peucang, longweekend Paskah kemarin kami meluncur menuju salah satu taman nasional paling eksotis di Indonesia, yaitu Taman Nasional Tanjung Puting. 
 
Taman Nasional Tanjung Puting merupakan tempat penangkaran yang dikhususkan untuk melestarikan satwa endemik Kalimantan, yaitu orang utan. Taman nasional ini terletak di provinsi Kalimantan Tengah. Tanjung Puting sendiri lebih terkenal di Eropa dibandingkan di Indonesia. Yang membanggakan, Tanjung Puting merupakan tempat penangkaran orangutan terluas di dunia.
 
Trip ini sudah direncanakan berbulan-bulan lamanya oleh saya dan Kodil. Dalam trip ini, total peserta yang ikut adalah 11 orang teman Kodil dan 2 orang stranger yang kami belum tahu wujudnya seperti apa. Sebelumnya, terlebih dulu saya memperkenalkan personil yang ikut. Saya pun baru berkenalan dengan mereka di bandara.
  • Saya dan Kodil
  • Andro, sahabat Kodil
  • Dana dan Dayu, teman kuliah Kodil
  • Evelyn, pacar Dana <3
  • Fajar, sahabat Kodil
  • Sandro, Ipey, dan Vania si anak ITB
  • Wulan, teman kerja Kodil

DAY 1
Kami berangkat dari Jakarta ke Pangkalan Bun jam 09.30 pagi. Perjalanan CGK – PKN ditempuh selama 60 menit dengan Trigana Air. Hanya ada 2 maskapai yang melayani penerbangan Jakarta – Pangkalan Bun yaitu Trigana Air dan Kalstar.
 
Sesampainya di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, kami dijemput oleh Mas Arie, tour guide kami. Disana juga kami bertemu 2 orang stranger dari Jakarta yang join trip kami yaitu Mami Joan dan Mas Josia. Mas Arie segera membawa kami menuju Pelabuhan Kumai. Jarak antara bandara dan Pelabuhan Kumai tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menit.
 
Sesampainya di Kumai, kami disambut oleh Mas Anas, guide kami dan belasan kapal ‘klotok’, yaitu alat transportasi utama yang digunakan untuk menjelajah Taman Nasional Tanjung Puting. Klotok ini akan menjadi rumah kami selama 3 hari ke depan. Oleh karena jumlah kami 13 orang, kami menggunakan 2 buah klotok. 1 klotok difungsikan sebagai kapal barang, dan 1 klotok untuk transportasi utama.
 
Varian klotok bermacam-macam, mulai dari yang mewah (ada AC, spring bed, TV, sofa, dan lain-lain) hingga klotok minimalis seperti yang kami gunakan. Selain menggunakan klotok, Tanjung Puting juga bisa dicapai menggunakan speedboat. Akan tetapi, pemandangan di Tanjung Puting lebih syahdu dinikmati perlahan-lahan menggunakan klotok. Klotok kami mulai berangkat menyusuri Sungai Sekonyer.
 
Kami berangkat dengan sekitar 8 ABK yang melayani seluruh urusan kami selama di Tanjung Puting, mulai dari memasakkan makanan, menyiapkan kasur dan kelambu untuk tidur, bebersih kapal, menimba air hingga membawakan air mineral selama tur darat. Full service!
 
Ini rata-rata gambaran menu makan kami selama di klotok. Nasi, ayam/ikan, tempe/tahu, sayur, dan buah. Bahkan untuk sarapan kami disiapkan roti panggang, jus, telor dadar, dan nasi goreng. Benar-benar makmur sentosa.
Memasuki wilayah dalam Tanjung Puting, sinyal HP perlahan-lahan menghilang. Kami banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol, tidur, dan menikmati pemandangan.Pemberhentian pertama kami adalah di Tanjung Harapan yang ditempuh 1,5 jam dari Kumai. Tanjung Harapan merupakan zona yang dikembangkan untuk pelestarian orangutan. Pejantan dominan di Tanjung Harapan adalah si Gundul. Di Tanjung Harapan, kami melihat proses feeding si Gundul dan teman – temannya. Sayang, kamera HP dan SLR saya kurang bagus menangkap ekspresi si Gundul.

 Sekedar saran, untuk menjelajahi Taman Nasional Tanjung Puting paling nyaman menggunakan sepatu kets (saya sendiri menggunakan running shoes), karena jalan setapak cukup berlumpur dan licin. Sepatu tertutup juga diperlukan untuk menghindari serangga-serangga hutan dan pacet.

Selesai dari Tanjung Harapan, kami menyusuri sisi sungai untuk melihat bekantan. Bekantan adalah sejenis monyet yang menjadi ikon Dufan. Mereka hidup berkelompok di pucuk-pucuk pohon. Melihat mereka berkejaran dan bergelayut diantara dahan-dahan pohon adalah pengalaman yang tidak mungkin saya dapatkan di Jakarta.


Hari mulai gelap, dan kami kembali ke Tanjung Harapan untuk sandar kapal. ABK menyiapkan makan malam, yaitu candle light dinner di pinggir dermaga. Menu yang disajikan enak banget.. ada cumi, ayam, ikan, sayur kangkung, sambil melihat gugusan bintang.. the best dinner in the middle of nowhere.


Saat kami kembali ke klotok, kasur-kasur untuk tidur sudah siap. Masing-masing dari kami diberikan 1 buah kasur, 1 bantal, dan  1 kelambu yang digunakan 2 orang. Kedua klotok kami diikat dan ditutupi semacam terpal di sisi luar. Voila! jadilah kamar ala kadarnya.


FYI, air yang digunakan di kamar mandi klotok dipompa langsung dari Sungai Sekonyer. Iya.. warnanya coklat-coklat begitu. Ketika buang air atau cuci muka pun saya berusaha tidak memperhatikan warna coklat air tersebut. Saya jadi rindu air bersih yang bisa didapatkan setiap hari di kosan.


Malam itu, kami tidur dengan nyenyak diombang-ambing arus sungai.


DAY 2

Setelah sarapan, kami menuju feeding station ke-2, yaitu Pondok Tanggui.
 
Sayang sekali, di Pondok Tanggui kami tidak menemui satu orangutan pun. Pawang berkali-kali mengeluarkan suara khusus untuk memanggil orangutan. Hingga 1 jam berlalu, kami memutuskan untuk bertolak ke lokasi lain.
 
Dari Pondok Tanggui kami menuju Camp Leakey. Di tengah jalan, kami melewati persimpangan Sungai Sekonyer yang berair cokelat dan hitam. Walaupun hitam, tetapi airnya sangat jernih. Mungkin warna hitam tersebut disebabkan oleh warna tanah. Ini merupakan lokasi paling epic untuk berfoto-foto sambil memandangi orang utan dan bekantan liar. I love Indonesia!


Setelah 3 jam berkendara dengan klotok, kami sampai di Camp Leakey.

Camp Leakey merupakan rumah dari Tom, the famous orangutan. Semenjak kecil, Tom sudah menjadi sorotan dunia. Ia merupakan pejantan dominan di Camp Leakey. Tom juga sudah pernah menjadi cover majalah National Geographic dan digendong aktris Julia Roberts ketika kecil.

Saat Tom muncul, tidak ada orangutan lain yang berani mendekat. Menurut cerita Mas Anas dan Mas Arie, Tom memiliki pasangan yang bernama Siswi. Siswi ini cukup posesif dan menyerang orangutan betina yang mencoba mendekati Tom. Kayak orang aja ya..
 
Sore hari tiba. Kami menunggu klotok yang tak kunjung datang.
Ternyata, mesin klotok kami rusak sehingga harus ditarik oleh kapal lain. Kami pun menikmati senja di klotok yang mogok sambil bercengkrama.

Hari mulai gelap.
Bintang-bintang mulai tampak. Kami semua tidur rebahan di dek depan klotok sambil mengamati bintang-bintang. Banyaaaak sekali.. Sesekali terlihat meteor yang jatuh. Romantis.

Samar-samar terdengar lagu Sky Full of Stars-nya Coldplay.


“‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I wanna die in your arms
‘Cause you get lighter the more it gets dark
I’m gonna give you my heart
 
I don’t care, go on and tear me apart
I don’t care if you do, ooh
‘Cause in a sky, ’cause in a sky full of stars
I think I see you
I think I see you”


Ini trip paling pecah yang pernah saya ikuti.


DAY 3

Ini merupakan hari terakhir kami di Tanjung Puting. Sarapan pagi itu rasanya nikmat sekali.
Di sepanjang perjalanan pulang, kami banyak mengobrol, tertawa, dan bermain permainan-permainan bodoh. Yang kalah mukanya dicoret-coret dengan pinsil alis. Ada yang digambar pegunungan, kembang, burung, jambang, jenggot, dan lain-lain. Bahkan, Mas Josia didandani dengan lipstik merah. Peraturan bersama memutuskan kami untuk tidak menghapus coretan tersebut sampai tiba di CGK. Sepasang turis asing pun sampai meminta foto bersama kami di kapal.

Sampai di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, kami menjadi pusat perhatian turis dan petugas airline. Yaudah lah, malunya rame-rame. Lagipula biar ada kenangannya.

Sampai di CGK, trip kami pun usai.

Kami yang tidak saling kenal ketika berangkat, pulang-pulang menjadi sahabat. Begitu besar arti kealpaan sinyal handphone dan senasib sepenanggungan di tengah hutan antah berantah.

Trip kali ini sangat berarti dan tidak mungkin saya lupakan.

BUDGET
  • Tiket Jakarta – Pangkalan Bun PP Rp 1.300.000,00/orang
  • Biaya trip Rp 1.600.000/orang. Saya sangat menyarankan untuk menggunakan Sake Trip. Guide-nya, Mas Arie dan Mas Anas sangat fun, care, dan asik. Highly recommended! Worth every penny. Biaya trip termasuk transportasi PP Bandara – Pelabuhan Kumai, sewa klotok, makan 3 kali sehari, air mineral, snack, softdrink selama trip, dan tiket masuk taman nasional.


TIPS
  • Bawa sunblock dan sunglass. Pangkalan Bun itu panas sekali.
  • Selalu pakai lotion anti nyamuk.
  • Minum obat anti malaria sebelum, selama, dan setelah trip.
  • Bawa baju secukupnya saja. Bakal jarang mandi.
  • Harus siap mental nahan pup kalau tidak biasa pup di alam liar.
  • Harus siap mental tidak mandi kalau kapal sandar di air payau (airnya lengket dan bau).
  • Bawa tissue basah yang banyak untuk ‘mandi’ (jadi ingat Samapta)
  • Bawa uang cash yang cukup untuk membeli oleh-oleh. Di pelabuhan Kumai, dijual boneka, kaos, badge, gantungan kunci, dan tas orangutan sebagai kenang-kenangan 🙂

PS: Thanks to Ipey, Vania, Mami Joan, dan Sandro untuk beberapa foto yang kucomot dari kamera kalian.

Bon voyage!!

Follow me on Instagram: dianisekaring 😉

 


Leave a Reply