Selamat Datang di Pulau Peucang!

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan sebuah taman nasional yang terletak di ujung Barat pulau Jawa. Taman nasional seluas 122.956 Ha ini merupakan salah satu warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO. Didalamnya hiduplah berbagai jenis flora dan fauna yang dilestarikan, salah satunya adalah badak jawa yang kini populasinya semakin menyusut.

Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon, khususnya Pulau Peucang setelah melihat review dari Trinity Traveler. Dalam bukunya, ia mengatakan bahwa Pulau Peucang memiliki salah satu pantai terindah di Indonesia. Berangkatlah saya bersama dengan sahabat SMA saya Kodil.

Saya mencoba kontak rekan travel yang sempat menjadi provider untuk trip saya ke Krakatau, akan tetapi menjelang hari-H ia mengabari bahwa trip Ujung Kulon ini tidak memenuhi kuota. Rekan saya tersebut menyarankan untuk dioper ke travel lain dengan biaya yang lebih murah. Saya dan Kodil mengiyakan.

Seperti trip sebelumnya, trip yang saya ikuti ini merupakan open trip. Dengan kata lain, semua orang dapat join. Lumayan, tambah-tambah teman baru. Biaya open trip Ujung Kulon ini dibanderol harga Rp 700.000,00/orang. Kodil sendiri mengajak 3 orang temannya untuk join trip ini, yaitu Dyas, Calvari, dan Sone.

Tibalah hari yang kami tunggu-tunggu!

Jumat (27/03) malam, kami berkumpul di meeting point Plaza Semanggi untuk selanjutnya berangkat dengan bis menuju Sumur, pintu masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon. Perjalanan Jakarta – Sumur kami tempuh sekitar 7 jam. Jangan harap bisa tidur nyenyak di sepanjang perjalanan. Kondisi jalan yang rusak parah membuat kepala kami terantuk kesana-kemari. Kecuali, Dyas dan Calvari yang sudah menenggak Antimo banyak – banyak sebelum perjalanan dimulai.

Jam 05.00 subuh, kami sampai di Sumur dan singgah di rumah warga. Kami disuguhi teh hangat dan sarapan sebagai persiapan untuk 3 jam perjalanan laut ke Pulau Peucang. Sekitar pukul 06.00 kami bertolak ke Pulau Peucang, dan kami ketambahan 2 orang anggota gank yaitu Andie dan Lingga.

Perjalanan dimulai!
Kami naik semacam kapal klotok (kapal wisata standar yang bunyinya klotok-klotok) dan duduk di sisi kapal menikmati pemandangan serta membenamkan kaki di riak ombak.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan sempat tertidur beberapa kali, kami sampai di Pulau Peucang.
Saya langsung melongo melihat hamparan pasir putih berpadu dengan laut berwarna biru kehijauan. Keren banget!  Rasanya mau langsung nyebur dan berenang.
 

Saya dan teman – teman langsung menghambur keluar kapal untuk berfoto – foto. Saya tidak bohong, Pulau Peucang itu indah sekali..

Setelah puas mengeksplor sisi pantai, kami kembali ke dermaga.
Tebak, rombongan kami sudah menghilang!

Kami tanya kepada guide lokal dan ia berkata bahwa rombongan kami terpecah menjadi 2 bagian, satu masuk ke dalam hutan dan satu snorkeling. Gak jelas banget. Kami tidak diinformasikan apa – apa ketika kami sampai. Kodil dan beberapa rekan lain melengos.

Kami memutuskan untuk mengeksplor hutan lindung dengan menyewa 1 orang ranger. Biaya masuk ke dalam hutan lindung adalah Rp 10.000,00 perorang. Hutan lindung di Pulau Peucang terdiri dari pohon-pohon tua yang berumur ratusan tahun. Di dalam hutan tersebut, kami bertemu dengan babi hutan dan beberapa rusa.

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju Pusat Pengembalaan Banteng Cidaon, kemudian menuju Pulau Handeuleum untuk bermalam.

Di Pulau Handeuleum banyak sekali rusa!
Mereka biasanya menyambangi pondokan untuk meminta makanan dari manusia.

Saya memang tidak berekspektasi banyak ketika tiba di Pulau Handeuleum. Seperti Pulau Sebesi, di Handeuleum ini tidak ada apa – apa. Hanya terdapat 1 buah kantor, 2 pondokan, dan 1 bangunan toilet. Saya, Kodil, dan Dyas tidur di ruang tamu pondokan dengan beralaskan tikar. Untungnya, saat malam hari ada yang berbaik hati menyumbangkan kasur.

Malam harinya, saya, Kodil, Dyas, Calvari, Sone, Lingga, dan Andie mengobrol di pondokan sambil makan mie rebus. Cukup menarik bertukar pikiran dengan teman – teman baru sambil sesekali memberi makan rusa yang mampir.

Suasana malam di Pulau Handeuleum cukup panas dan banyak nyamuk. Bermodalkan kipas angin seadanya, saya, Kodil, dan Dyas tertidur karena lelah plus mangkel dengan si tour leader. Malam harinya, saya dapat jackpot diare yang menyiksa saya selama 3 hari ke depan.

Agenda kami di pagi hari adalah berkano di Sungai Cigenter.

Sungai Cigenter ini merupakan sungai yang membelah pulau menjadi 2 bagian.
Sudah ada yang pernah menonton serial The River? Kira-kira seperti itu gambarannya. Kami menerabas sungai yang kanan-kirinya hutan lindung. Cukup seru sih.. apalagi di beberapa tempat kano kami sempat oleng dan menubruk pinggiran sungai.
Usai berkano, kami bersiap pulang dan menyeberang dari Pulau Handeuleum ke Sumur selama 2 jam. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat menuju Jakarta.
Tips berwisata ke Pulau Peucang:
  • Tidak perlu bawa pakaian banyak – banyak! 3 stel pakaian cukup.
  • Cuaca di Pulau Peucang cukup panas. Wajib bawa sunglasses.
  • Sunblock is a must. Kami beruntung karena Calvari bawa perlengkapan sunblock dan aftersun yang lengkap :p
  • Jangan lupa pakai lotion anti nyamuk
  • Jangan berekspektasi bahwa liburan ini akan mewah, karena di Pulau Peucang dan Handeuleum memang tidak ada apa – apa. Kamar mandi hanya sedikit dan digunakan untuk beramai – ramai.
  • Bawa makanan yang banyak! Karena kami sempat kelaparan dan menyesal tidak membawa snack yang cukup.
  • Kalau bisa bawa kain pantai. Multifungsi! Selain bisa menghalau panas, juga bisa menghalau dinginnya semburan AC bus dan menjadi alas tidur.
  • Sinyal HP sangat sulit ditemukan di sini. Sinyal provider paling kuat adalah XL, sementara provider lainnya butiran debu.
Enjoy your trip!
 
P.S: To Kodil, Dyas, Calvari, Sone, Lingga & Andie, thanks for making this trip memorable!

Instagram: dianisekaring

Leave a Reply