Experiencing Hong Kong & Macau (Part 2)

Hai!
Kisah perjalanan saya ke Hong Kong dan Macau berlanjut.

Setelah menyelesaikan serentetan pekerjaan dan bahan meeting, kami naik MTR dari Sheung Wan menuju pelabuhan. Inilah saat yang ditunggu – tunggu, menyeberang ke Macau! Sistem transportasi Hong Kong memang benar – benar terintegrasi dan rapi.

Kami segera sarapan lantas membeli tiket ferry dan menuju semacam boarding room layaknya saat hendak naik pesawat. Dengan PD-nya, kami berlari menuju dermaga karena waktu boarding sudah dekat. Namun ternyata kami menuju arah dermaga yang sebaliknya.

Perjalanan laut Hong Kong – Macau memakan waktu sekitar 2 jam. Saya dan rekan saya yang ngantuk lebih memilih untuk tidur. Fery yang dinaiki sangat nyaman, jangan bayangkan fery Merak – Bakaheuni yang kumuh.

Sesampainya di Macau, kami disambut oleh seorang perempuan muda cantik berambut panjang yang bernama Melody,  perwakilan dari DFS Group. DFS Group ini adalah perusahaan yang menjadi host  kami di Macau. Melody menyambut kami dengan ramah, dan tanpa berlama-lama kami langsung dibawa ke gerai DFS Group (duty free store) yang berada di daerah bintang lima, yaitu The Four Seasons Hotel untuk menunaikan pekerjaan.

Saya yang tidak biasa dengan perlakuan mewah langsung kikuk seketika. Kami dijamu layaknya tamu kehormatan (padahal cuma butiran debu begini), diantar jemput dengan Alphard, diajak berkeliling Macau, dan diantar pulang ke pelabuhan. Melody adalah tour guide yang sangat baik. Melody menjelaskan, bahwa Macau merupakan bekas jajahan Portugal, sehingga banyak sign dan nama-nama bangunan yang bernuansa Portugis.

Pada dasarnya, Macau hanya merupakan sebuah kota kecil, tidak banyak hal yang bisa dieksplor. Sebagai daerah perjudian nomor satu, Macau memiliki gedung-gedung pencakar langit dan kasino yang berwarna-warni. Dengan berjalan kaki, kami menyusuri tempat-tempat wisata di Macau. Asyik sekali!

Perjalanan kami lanjutkan ke A Lorcha, sebuah restoran khas Portugal yang terkenal di Macau. Ada untungnya kami memiliki tour guide orang lokal. Kalau tidak, mana kami mengerti hal-hal seperti ini. A Lorcha adalah sebuah restoran kecil yang terletak di 289 Rua do Almirante Sergio, Macau.

Restoran ini memiliki interior seperti kastil kecil yang homy dan nyaman sekali. Kami memesan semacam roti panggang, kerang bawang putih, risotto seafood, beef steak, dan portuguese styled chicken. Semuanya enak! Terutama risotto-nya. Kami benar-benar berterimakasih pada Melody karena membawa kami ke restoran ini.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan mengelilingi kota Macau di malam hari. Spektakuler! Kami merengek pada Melody untuk membawa kami ke depan Grand Lisboa demi foto-foto. Hehehe. Lumayan, saya pertama kalinya masuk kasino disini, walaupun cuma numpang ke toilet.

Keesokan harinya di Hong Kong, kami harus menunaikan satu pekerjaan lagi sebelum pulang, yaitu kunjungan kerja ke DFS Hong Kong. Karena itu hari Jumat, bos saya harus menunaikan shalat Jumat di Masjid Kowloon. Kami berpencar, saya dan rekan stand by di DFS sementara bos saya entah gimana caranya menuju ke Kowloon.

2 jam berlalu, si bos tak kunjung muncul.
Kami mulai berpikir, apakah dia tersasar? Salah naik MTR atau HPnya hilang di jalan? Flight kita ke Jakarta tinggal 4 jam lagi.

Di ujung penantian, tiba-tiba si bos muncul dengan sumringah. Ternyata, dia hanya sedikit tersesat. Setelah membeli buah tangan di DFS, kami makan siang di Nha Trang, sebuah restoran Vietnam yang berada di Harbour City, Tsimshatsui, Hong Kong. Kami memesan menu apa saja yang ada (setelah bertanya ini mengandung pork atau tidak). Karena lapar dan lelah, semua terasa nikmat.

Tak tunggu lama, kami langsung ngebut ke arah hotel untuk mengambil koper-koper kami dan menuju Hong Kong International Airport dengan tergesa-gesa.

Dan di sepanjang 5 jam flight Hong Kong – Jakarta, playlist saya memutar lagu Salvation – Gabrielle Aplin.

Terima kasih Hong Kong dan Macau untuk pengalaman yang sangat berharga. Can’t wait for my next trip overseas!

2 Comments

Leave a Reply