Experiencing Hong Kong & Macau (Part 1)

Sebagai seorang staf humas di perusahaan BUMN, sangat memungkinkan bagi saya untuk melakukan perjalanan dinas dalam negeri. Walaupun cuma sebagai staf yang bantu-bantu ala kadarnya, ya lumayan lah untuk menambah pengalaman. Tercatat mulai dari bulan Maret, saya sudah pernah dinas ke Bali, Banjarmasin, dan Manado.

Bagaimana kalau perjalanan dinas luar negeri?
Whoa..

Tidak pernah terlintas sedikitpun di benak saya akan mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan dinas luar negeri. Alkisah, bulan Agustus lalu saya melakukan perjalanan dinas ke Hong Kong dan Macau bersama rekan kerja dan atasan saya. Keikutsertaan saya sangat tidak direncanakan. Saya baru tahu bahwa saya akan berangkat adalah H-1! Walhasil saya kelabakan mengurus tiket. Anyway, di tulisan ini saya tidak akan bercerita banyak mengenai pekerjaan saya, cukup jalan-jalannya saja. Hehehe.

Perjalanan Jakarta – Hong Kong memakan waktu sekitar 5 jam. Setibanya disana, kami turun dari pesawat dan berganti dengan kereta yang mengantar kami ke hall imigrasi. Sialnya, karena di foto paspor saya tidak memakai kacamata seperti sehari-hari (FYI: saya dengan dan tanpa berkacamata beda banget kata orang-orang), petugas imigrasi mencurigai saya. Saya diminta melepas kacamata dan dimintai beberapa keterangan.

Karena hari sudah larut, kami segera naik taksi menuju Sheung Wan, daerah tempat kami menginap. Saat itu sudah pukul 22:00 dan semua kios penjual makanan sudah tutup. Walhasil kami makan makanan microwave seperti ini.

Rasanya nggak enak.

Paginya, kami bergegas menuju Hong Kong International Airport untuk meeting. Yang saya kagumi dari bandara ini adalah semua begitu teratur dan rapi. Area komersial tertata dengan baik, fasilitas untuk penumpang tersedia dengan lengkap. Tidak ada kesan semrawut seperti halnya bandara-bandara di Indonesia. Tidak ada porter yang berebut menawarkan jasa. Tidak ada supir taksi yang merubung dan menggetok harga untuk penumpang asing. Semua menggunakan sistem antrian sehingga tertib.

Kami mampir ke area perkantoran untuk meeting selama beberapa jam. Saya terkagum-kagum melihat ruang meeting-nya. Dengan kaca besar, kami bisa melihat pemandangan Hong Kong dari ketinggian.

Meeting room impian saya

Setelah jamuan makan siang, kami bergerak ke City Gate Tung Chung, sebuah mall terkemuka di Hong Kong. City Gate ini bersebelahan dengan Disneyland. Ah.. kapan-kapan harus coba ke Disneyland-nya. Dari Tung Chung, kami naik bus ke Big Buddha, Ngong Ping, Lantau Island. Sebelum naik bus, kami membeli kartu prabayar yang bernama Octopus Card. Octopus dapat diisi ulang dan dipergunakan untuk berbagai pembayaran di Hong Kong, seperti MTR (kereta bawah tanah), bus, vending machine, dan masih banyak lagi. Praktis banget! Naik bus tinggal tap dan saldo otomatis berkurang. Bayangkan kalau kita naik Kopaja di Jakarta, harus urek-urek kantong untuk mengambil receh.

Yang saya kagumi dari Hong Kong, seluruh sign di bus, kereta, dan jalanan tersedia dalam bahasa Inggris. Saya sempat memperhatikan tulisan di bis “Talking to the driver is prohibited”. Bus disini juga tidak ada yang ugal-ugalan dan ngetem, mereka hanya berhenti di tempat yang telah disediakan.

Terminal bus di Hong Kong

40 menit berkendara, kami sampai ke Big Buddha, Ngong Ping. Big Buddha ini adalah sebuah areal wisata terkemuka di Hong Kong. Area ini mengharuskan pengunjung untuk menapaki ratusan anak tangga. Untungnya, karena saya terbiasa tinggal di lantai 4 di kos, mudah saja bagi saya. Saya lari sampai ke atas! Hehehe.

Big Buddha, Ngong Ping

 

Sesampainya di atas, pemandangan sangat indah. Sejuk dan damai sekali. Berbeda dengan sisi Hong Kong yang metropolitan. Di depan Big Buddha, banyak umat yang beribadah walaupun pada saat itu hujan turun cukup deras.
Suasana di puncak Big Buddha

Setelah puas menikmati suasana, kami menyusuri daerah wisata Ngong Ping dan kembali ke Tung Chung menggunakan Ngong Ping 360 Cable Car. Cable car ini semacam kereta gantung yang ada di TMII, tapi ini versi kerennya. Pengunjung dapat memilih crystal bottomed cable car (jadi bisa lihat pemandangan di bawah kaki kita) atau cable car biasa. Berhubung 2 orang rekan saya takut ketinggian, kami pakai yang biasa saja deh. Padahal seru sepertinya naik yang crystal bottomed.

Hari sudah malam ketika kami sampai di Tung Chung. Setelah mengisi perut, kami bertolak ke Ladies Market, sebuah area perbelanjaan kaki lima di Hong Kong dengan menggunakan MTR. Ladies Market ini bentuknya seperti pasar Blok M. Lumayan untuk beli oleh-oleh.

 

Makan malam saya. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp 150.000

 

Toko kosmetik paling nge-hip di Ladies Market
Jalur MTR. Harus hafal daripada kesasar.

Sheung Wan, daerah tempat saya menginap. Trotoarnya lebar, asyik sekali untuk jalan kaki.

To be continued…

Leave a Reply