Penjelajahan Baru

Halo!
*tiup sarang laba-laba di blog*
Apa kabar semuanya? Akhirnya saya kembali menulis setelah kurang lebih 4 bulan vakum. Waktu yang cukup lama untuk melunturkan kemampuan saya untuk menulis. Sudah 4 bulan juga berarti saya tidak pelesir ke tempat-tempat baru.

Sebenarnya, yang terjadi selama 4 bulan tersebut adalah saya bekerja.
Saat ini saya bekerja di salah satu BUMN pengelola bandar udara kawasan tengah dan timur Indonesia. Ayo tebak, dimanakah saya bekerja? Buat yang jawab Bandara Soetta, Anda salah besar.

Di BUMN tersebut, saya bekerja sebagai Corporate Communication Officer di unit Corporate Secretary. Pekerjaan saya melingkupi bidang kehumasan, seperti media monitoring (pengamatan pemberitaan mengenai perusahaan di media), meng-handle konferensi pers, melakukan dokumentasi dan peliputan kegiatan, mengelola website dan akun sosmed perusahaan, berkontribusi dalam media internal perusahaan, dan lain-lain (lain-lainnya banyak banget). Di sini, saya berpartner dengan Dika, teman sealmamater saya di Komunikasi UGM 2008.

Saya berangkat ke kantor pada pukul 07:30 pagi dan baru sampai kos lagi kira-kira jam setengah 7 malam dengan kondisi lelah. Lalu saya makan, nonton TV, mandi, dan tidur. Rasanya sudah malas sekali untuk membuka laptop dan sekedar bercerita di blog. Weekend saya pulang ke rumah (di rumah tidak ada komputer) untuk bercengkerama dengan keluarga atau sekedar menumpang beristirahat.

Begitu terus siklus yang terjadi selama 4 bulan ini.
Buat blogger, jangan ditiru ya.

Hal-hal berubah dengan cepat semenjak saya mulai bekerja.
Saya menemukan sahabat-sahabat baru di tempat saya bekerja. Sebagian besar dari kami tinggal di tempat kos paling hits seantero Jakarta Pusat, yaitu Kos Pencakar Langit. Kenapa namanya Kos Pencakar Langit? Karena bentuk kos kami seperti apartemen 5 lantai. Saya kadang kalau lagi iseng suka mengamati matahari terbenam di lantai 5 bersama jemuran-jemuran.

Seperti halnya BUMN lain, kami wajib mengikuti program Kesamaptaan.

Apa itu Kesamaptaan? Semacam wajib militer gitu deh. Selama 1 minggu, kita dididik oleh tentara. Bangun jam setengah 3 pagi, mandi (biar nggak ngantri), senam jam 4 pagi (sambil merem), lalu sarapan. Semua lauk wajib diambil dan tidak boleh mengambil dalam jumlah sedikit. Sarapannya dihitung dengan waktu mundur. Dalam hitungan 10, semua harus sudah selesai makan. Bagi saya penderita asam lambung, this tortures me the most.

Acara dilanjutkan dengan apel pagi dan materi sampai sore. Materi yang disampaikan bermacam-macam, seperti P3K, navigasi, simulasi penggunaan senapan dan rudal, serta penyelamatan di air, jungle survival, dan semacamnya. Setiap hari kami dijemur sampai kering dan gosong.

Malamnya, acara masih berlanjut sampai jam 24:00.
Setiap malam, kami harus berkompromi dengan dinginnya Ciwidey yang menusuk.

Rekor saya gak ganti seragam selama 5 hari karena malas mencuci (selain karena ngantri dan gak sempat karena waktu luang hanya seuprit). Bau comberan, lumpur, air hujan, dan keringat campur menjadi satu.

Yang cukup menyiksa dari Kesamaptaan adalah atribut tentara yang wajib digunakan setiap saat. Topi, kopel (sabuk), karet betis (yang bikin kaki gatel-gatel), dan sepatu tentara yang susahnya minta ampun untuk dipakai. Ya penyiksaannya mirip-mirip The Hunger Games lah.

Setelah Samapta selesai, saya lega banget. Sungguh, cukup 1x seumur hidup saja saya mengalami yang beginian. Lepas dari Samapta, kami diberi libur 2 hari dari kantor. Langsunglah kami jalan-jalan ke Dufan dan Taman Safari.

Semoga, dalam waktu dekat saya bisa traveling ke tempat-tempat baru.

Leave a Reply