Lombok Part 3: Pantai Sekotong dan Gili Trawangan

Keindahan Lombok belum habis saya jajaki.

Langit biru, pasir putih, dan jernihnya laut tak henti membuat saya berdecak kagum.
Ditambah dengan sepinya wisatawan membuat Lombok benar-benar tentram dan damai, jauh dari riuh dan bisingnya kendaraan bermotor, jauh dari polusi yang menyesakkan dada.

Bepergian ke Lombok layaknya sebuah detoks untuk jiwa.

Kembali ke alam, menghirup dalam-dalam segarnya angin laut dan pegunungan.

Menikmati sapuan ombak di ujung kaki.

Pantai Sekotong

Kalau ditanya apa pantai favorit saya di Lombok, saya akan menjawab Pantai Sekotong. Pantai Sekotong sepertinya kurang familiar di kalangan wisatawan. Selain karena letaknya yang jauh di ujung barat Lombok (70 Km atau 2 jam tempuh dengan mobil dari Praya, Lombok Tengah), di Pantai Sekotong ini tidak terdapat hotel maupun rumah makan.

Untuk menuju Pantai Sekotong, jalan yang ditempuh cukup menukik dan berliku, akan tetapi jalanan sangat halus sehingga nyaman untuk dilewati. Mendekati Pantai Sekotong, indera saya dimanjakan dengan birunya lautan di kanan jalan.

Terakhir saya melihat birunya laut yang seperti ini adalah saat saya ke Karimun Jawa. Dari bibir pantai, saya dapat melihat Gili-Gili (pulau) yang terletak tak terlalu jauh dari bibir pantai. Yang agak menyulitkan dari Pantai Sekotong adalah sulitnya mencari tempat perhentian, karena hanya sedikit lahan yang digarap. Satu-satunya bangunan yang saya lihat di pinggir pantai adalah Pusat Budidaya Laut Sekotong, yang siang itu sangat sepi.

Setelah meminta ijin pada petugas setempat, kami memarkir mobil dan menuju dermaga. Dari dermaga ini, birunya laut dapat terlihat dengan jelas. Jernihnya air laut memungkinkan saya untuk melihat hingga ke dasar. Ah.. this is definetely my favorite beach! Jangan lupa untuk menggunakan sunblock dan sunglasses untuk kenyamananmu sendiri.

Usai bertandang ke Sekotong, kami menuju sebuah resto lesehan di kota Mataram, yakni Lesehan Gading. Lesehan Gading terletak di Jl. Ahmad Yani, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Restoran ini menyajikan bermacam sajian khas Lombok yang pastinya endess dan pedes banget. Sayang, saya tidak sempat untuk memotret ataupun menanyakan nama sajian yang tersaji di atas meja karena semuanya langsung ludes dalam sekejap. Saya sangat menyarankan teman-teman yang ingin mencicipi sajian khas Lombok untuk mampir ke restoran ini. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal, sekitar Rp 50.000,00/orang sudah kenyang sekali. Ngomong-ngomong soal kuliner, so far nggak ada yang nggak enak (kecuali cacing sih) hehehe. Saya sudah menyicipi plecing kangkung, sate bulayak, ikan bakar madu, sampai ayam taliwang, semuanya enak-enak.

Gili Trawangan
Nah, ini dia yang saya tunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan Gili Trawangan. Kata orang, apalah artinya wisata ke Lombok tanpa ke Gili Trawangan. Gili Trawangan dapat diakses melalui Pelabuhan Bangsal, Pemenang, Lombok Utara yang terletak 77 Km dari Praya. Selama berkendara kurang lebih 2 jam menuju Pelabuhan Bangsal, di daerah pegunungan banyak monyet-monyet liar yang berjajar di pinggir jalan. Tiket untuk menyeberang dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan hanya Rp 12.000,00 saja perorang. Lucunya, kapal tersebut sekaligus mengangkut suplai makanan, minuman, dan perabotan ke Gili Trawangan. Jadinya beginilah, rupa kami seperti pengungsi yang mencari suaka.

Gili Trawangan is such a magical island!
Tidak ada kendaraan bermotor di sini. Turis berlalu-lalang menggunakan sepeda, berjalan kaki, atau mengendarai Cidomo (andong). Di sepanjang jalan bertebaran kafe, pub, restoran, dan tempat massage yang bagus-bagus. Tempat massage tersebut terdiri dari beberapa tempat tidur kecil (seperti di tempat facial) dan ditutupi dengan kelambu-kelambu cantik. Ah, mewahnya! Suatu saat nanti saya ingin mencoba massage di pinggir pantai Gili Trawangan.

Hal yang menarik bagi saya di Gili Trawangan adalah kafe-kafenya yang indah. Kafe tersebut dilengkapi dengan sunbed sehingga pengunjung bisa berjemur sambil menikmati makanan dan minuman. Such a paradise…

Gili Trawangan dapat dijelajahi dengan berjalan kaki atau naik sepeda (yang banyak disewakan). Homestay, mulai dari yang murah hingga yang mahal bertaburan di pulau ini.

Kami berhenti di sebuah restoran bernama Paradise Sunset and Grill untuk makan siang. Rasanya sebenarnya biasa aja, tapi karena makannya di Gili Trawangan, rasanya jadi nikmat! Menurut saya, harga makanan di Gili Trawangan masih lebih terjangkau dibandingkan di Legian atau Kuta, Bali.

Gili Trawangan juga menawarkan banyak spot diving dan olahraga air. Wisatawan tinggal mendatangi tempat-tempat yang menawarkan paket tertentu. Untuk soal uang, jangan khawatir. Di Gili Trawangan ATM lengkap, jadi tidak perlu khawatir kehabisan uang cash. Disini, saya menemukan sebuah gift shop yang lucu banget, namanya Another Day in Paradise (seperti lagunya Phil Collins).  Meskipun harganya agak mahal, tapi barangnya tidak saya temukan di gift shop lain.

Bagi teman-teman yang ingin berwisata ke Lombok, berikut tips dari saya:

  1. Kalau bisa punya teman orang Lombok. Bukannya apa-apa, Lombok tidak seperti Jawa yang apa-apanya dekat dan mudah. Disini, jalanan seperti hutan belantara karena jarang terdapat papan arah. Selain itu, punya teman orang Lombok (dan bisa bahasa Sasak) menguntungkan kita dalam menawar harga barang.
  2. Sebisa mungkin sediakan banyak uang cash. Seperti yang saya bilang, tidak seperti di Jawa yang tiap ujung jalan ada minimarket dan ATM, di sini jarak antar satu ATM ke ATM lainnya cukup jauh.
  3. Kalau terpaksa harus pergi dengan travel, googling-lah banyak-banyak tentang tempat tujuan.
  4. Harga standar tiket pesawat Garuda Indonesia untuk rute CGK-LOP (tanpa transit) adalah Rp 950,000 sekali jalan . Perhatikan detail penerbangan! CGK-LOP dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam tanpa transit, namun dengan transit 1 atau 2 kali, lama penerbangan bisa sampai 3-4 jam.
  5. Untuk akomodasi dan transportasi, mohon maaf saya tidak bisa memberikan rekomendasi karena saya tinggal di tempat teman.
  6. Oleh-oleh khas Lombok adalah mutiara. Harap diingat, mutiara terbagi jadi 2 jenis yaitu mutiara air laut dan air tawar. Mutiara air laut cukup mahal, dibanderol harga Rp 75.000,00/gram sehingga harga sebuah kalung dapat mencapai Rp 3 juta. Sementara itu, mutiara air tawar cukup terjangkau, untuk 1 kalung (yang harus dirangkai terlebih dahulu) harganya sekitar Rp 250.000,00 (jangan lupa ditawar). Ada juga mutiara imitasi yang lebih murah. 1 set perhiasan mutiara imitasi harganya Rp 50.000 (kalung, gelang, anting).
  7. Bahasa standar pergaulan di Lombok adalah “Saya” dan “Anda”, mungkin sedikit kaku dan formal, tapi itu lazim layaknya “Gue” dan “Lo” atau “Aku” dan “Kamu” di Jakarta.
  8. Makanan di Lombok sebagian besar pedas dan berbumbu. Buat yang nggak doyan pedas, ya siap-siap aja lah.
  9. Jangan kebanyakan mikir, udah liburan aja!

NB:
Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada:

  • Tuhan YME dengan segala keagungannya, menciptakan alam Indonesia yang begitu indah.
  • Ayah dan Ibu yang memberikan restu untuk putrinya berkelana hingga Nusa Tenggara Barat.
  • Agung Prahara beserta keluarga. Terima kasih sudah menjadi host yang sangat baik, memberikan sokongan transportasi dan akomodasi, dan menjadi teman mengobrol yang asyik selama 6 hari yang indah ini.
  • Pipit, meskipun nyebelin dan tukang bajak HP orang, tapi gue nggak bisa ke Lombok senekat ini tanpa lo, Pit. Haha.
  • Teman-teman Agung: Bao, Nyimut, Bagus, Agung, Didit, dan lain-lain. Terima kasih sudah bersedia menemani tamu dari jauh ini untuk menjelajah Lombok.

Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya!

Leave a Reply