Lombok Part 1: Malimbu, Benang Kelambu, dan Pink Beach

Apa yang membuat liburan begitu berkesan?

Tujuan wisata yang menantang? Mungkin. Sahabat dekat atau pasangan (uhuk!!) yang turut serta? Bisa jadi. Tapi kali ini, liburan saya begitu berkesan karena sama sekali tidak direncanakan. Hahaha.

Sebenarnya sudah lama saya ingin menjelajah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Melihat travel stories di internet dan foto-foto dari teman, sepertinya menarik sekali. Laut biru, pasir putih, pantai-pantai perawan yang tersembunyi di balik bukit.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sahabat saya, Pipit menawarkan diri untuk mengajak saya ke Lombok dan menginap di tempat temannya di Praya. “YA MAU LAH!” jawab saya dengan lantang.  Dengan impulsifnya, saya mem-book tiket  pesawat 2 hari sebelum keberangkatan.

I have no itineraries. 
Benar-benar buta blas tentang Lombok. Paling-paling cuma tahu Pantai Senggigi, Gili Trawangan dan Gunung Rinjani doang. Thanks to Pipit, saya memiliki teman sekaligus guide paling top se-Lombok, yaitu Agung.

“Kata temen nyokap gue, Lombok itu jelek dan makanannya gak enak,” ujar saya menirukan ucapan Ibu sebelum saya berangkat. Nah, statement inilah yang berusaha dipatahkan oleh Agung sehingga ia membawa saya ke tempat-tempat keren se-Lombok, bahkan yang belum ada di peta pariwisata! Uhuy! I’m so ready for Lombok!

Pantai Malimbu

Tujuan pertama saya adalah sebuah pantai yang terletak di Lombok Barat, yaitu Pantai Malimbu. Perjalanannya memakan waktu kira-kira 45 menit dari Praya dengan mobil. Pantai Malimbu ini terletak sederet dengan Pantai Senggigi yang terkenal itu. Bedanya, pasir Pantai Malimbu putih dan airnya biru, sementara Pantai Senggigi pasirnya hitam dan airnya agak butek.

Kami berhenti di sebuah bukit dan berjalan sedikit untuk bisa menikmati pemandangan indah ini. Karcis masuk? Rp 0,- alias tidak ada sama sekali. Menikmati hembusan angin pantai dan menyesap kelapa muda di pinggir Pantai Malimbu sungguh pengalaman yang mengasyikkan. Serunya lagi, tidak ada wisatawan di lokasi ini. Jadi pemandangan indah ini bisa saya nikmati sendiri tanpa khawatir terganggu kerumunan turis yang berisik.

Air Terjun Benang Kelambu 
Keesokan harinya, Agung dan teman-temannya mengajak saya dan Pipit untuk trekking ke air terjun. Wah, saya excited sekali, apalagi ada trekking-nya. Yah, walaupun saya punya pengalaman buruk waktu trekking  di Sempu, tapi saya belum kapok buat trekking. Setelah berkendara kurang lebih 1 jam (atau lebih) ke Batu Keliang, Lombok Tengah, kami sampai di objek wisata ini. Tiket masuk yang harus dibayar hanya Rp 5.000,00 saja perorang. Untuk menuju air terjun Benang Kelambu, wisatawan harus berjalan selama 30 menit menuju air terjun Benang Setokel, dan 30 menit berikutnya untuk menuju Benang Kelambu. Medannya sih nggak terlalu susah. Asyik lah pokoknya. Sepanjang jalan saya dihibur dengan sejuknya udara kaki Rinjani dan hijaunya pepohonan yang terhampar di kawasan wisata ini.

Benang Setokel, dalam bahasa Sasak berarti segumpal benang. Nama ini diberikan karena bentuk air terjun menyerupai segumpal benang yang diikat menyatu. Air terjun Benang Setokel ternyata memiliki legenda di balik keindahannya. Konon, Dewi Anjani, makhluk gaib yang dipercaya menunggu Gunung Rinjani pada waktu-waktu tertentu turun dari gunung dan membersihkan rambutnya disini. Masyarakat sekitar percaya bahwa mandi dan mencuci rambut di bawah air terjun Benang Setokel akan menghilangkan masalah rambut dan membawa keberkahan. Selain itu, banyak juga pengunjung yang mandi di sini untuk mencari keselamatan sebelum pendakian ke Gunung Rinjani (sumber).

Perjalanan 30 menit berikutnya menuju air terjun Benang Kelambu mulai terasa melelahkan. Tapi, semua lelah tersebut sirna setelah saya melihat penampakan air terjun yang sangat indah ini.

Airnya jernih dan dingin sekali. Derai-derai air terjun membasahi wajah saya, alangkah segarnya! Tak sia-sia saya berjalan kaki agak jauh demi bisa menikmati pemandangan indah ini. Andai teman-teman bisa ikut merasakan suasana di Benang Kelambu, damai dan tentram sekali. Saya ingin sekali menghabiskan waktu berjam-jam di sini untuk menikmati keindahan alam. Beberapa turis asing nampak berenang di kolam buatan yang airnya mengalir langsung dari air terjun. Suasana begitu senyap dan tenang. Cocok sekali bagi wisatawan yang ingin menghilangkan penat dan mencari kedamaian.

Pink Beach – Tangsi
Dari Lombok Tengah, kami bertolak ke Lombok Timur untuk menuju Pink Beach atau Pantai Tangsi. Pantai yang terletak di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur ini terkenal akan pasirnya yang berwarna merah muda, dan hanya terdapat di 6 tempat di dunia. Perjalanan menuju Pink Beach terasa sangat lama karena jarak yang ditempuh cukup jauh dan jalanan rusak parah. Kira-kira sejauh 5 Km kami menyusuri pedesaan, hingga akhirnya masuk ke dalam hutan dan sampai di lokasi. Jalanan hancur lebur dan berlumpur, lubang serta longsor dimana-mana. Medan yang dilalui cukup berat. Tanjakan dan turunan curam dimana-mana, ditambah lagi dengan lebar jalan yang tak seberapa. Bahkan, saat hampir sampai ke Pink Beach, mobil yang kami tumpangi hampir terguling saking ekstrimnya jalanan. Tentu dibutuhkan supir yang handal dan kondisi mobil yang prima untuk dapat mencapai lokasi ini.

Indahnya jangan ditanya. Indah bukan main! Meskipun saat saya disana gerimis turun rintik-rintik, Pink Beach masih memancarkan kecantikannya. Lagi-lagi, di pantai ini tidak ada wisatawan lain selain kami. Serasa private beach. Woohoo! Bagi saya, orang kota yang hampir tiap hari berurusan dengan jalanan macet dan sumpeknya Jakarta, suasana seperti ini tidak boleh disia-siakan.

Petualangan saya di Lombok belum selesai. Tunggu kisah selanjutnya!

Leave a Reply