Jelajah Dieng, Negeri Di Atas Awan

Dieng adalah sebuah kawasan dataran tinggi yang terletak di dua kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Dieng terkenal akan sunrise  di atas awannya yang maha dahsyat dan Telaga Warna yang indah. Suhu udara di Dieng pun relatif dingin, sekitar 15-20 derajat Celcius di siang hari dan 10 derajat Celcius di malam hari (sumber).

Hari Minggu malam, saya berangkat ke Dieng bersama 4 sahabat saya, yaitu Pipit, Otoy, Breng, dan Adip. Kami berangkat melalui rute Jogja – Magelang (lewat Candi Borobudur) – kota antah berantah – dan tiba-tiba sampai di Wonosobo. Hanya memakan waktu sekitar 2,5 jam saja, namun jalanan cukup kecil dan rusak di beberapa tempat.

Dari Wonosobo, kami bertolak ke Dieng menuju lokasi Puncak Sikunir yang menjadi tempat pemberhentian pertama kami.

Setengah jam kemudian, kami sampai di Puncak Sikunir dan menunggu sunrise. Pagi itu, kabut cukup tebal menyelimuti wilayah Dieng. Pemandangan pun tak secerah biasanya. Beberapa pendaki sudah ancang-ancang mengambil posisi untuk menikmati sunrise. Perlahan-lahan sang mentari mulai menyibakkan tirainya.

Taraa, sunrise di atas awan!
Huah.. bagus banget! Suasananya sangat damai dan tentram. Karena saya belum pernah naik gunung, pengalaman seperti ini sangat berarti. Biasanya saya bisa lihat sunrise/sunset di atas awan hanya dari pesawat, hehehe.
Kiri-kanan: Pipit, Breng, Otoy, Adip, saya.
Dari atas, kita dapat melihat hamparan pegunungan yang indah.
 
Kami mengambil banyak sekali foto, sambil sesekali duduk dan menyeruput teh panas yang disajikan oleh pedagang. Kami sempat mengobrol dengan beberapa pendaki, sekedar beramah-tamah dan bertemu dengan orang-orang baru. Pemandangan sepanjang jalur trekking bagus sekali. Ternyata, di samping kami benar-benar jurang yang sangat dalam. Jadi, kalau tadi malam lengah bisa dipastikan kami tidak akan selamat.
Berfoto di lereng gunung
 
Di kanan-kiri jalur awal trekking adalah ladang pertanian sayur mayur. Jauh di bawah adalah Telaga Cebongan, tempat kami memarkir mobil dan beristirahat.
 

Selesai dari Puncak Sikunir, kami sarapan di warung sekitar rest area, menikmati segelas Pop Mie, kopi, dan teh. Kami juga menikmati ‘tepung ditempein’, saking banyaknya tepung yang menyelimuti tempe goreng tersebut.

Sambil tak henti menikmati pemandangan, saya menuntaskan sarapan dan berjalan di sekitar Telaga Cebongan.

Tujuan kami selanjutnya adalah Telaga Warna, ikon dari Dieng.
Setelah tidur selama kurang lebih 1 jam di pelataran parkir (Breng dan Adip belum tidur dari semalam), kami bergegas untuk masuk ke lokasi Telaga Warna. Ternyata, tiket di-bundling untuk lokasi Telaga Warna dan Telaga Pengilon sebesar Rp. 10.000.

Inilah penampakan dari Telaga Warna.

Telaga Warna
 
Bau belerang menyeruak diantara birunya air Telaga Warna. Menurut penjaga, ada satu rute trekking yang bisa ditempuh untuk melihat Telaga Warna dari atas bukit. Mengingat masih ada tempat yang belum dituju, kami menolak opsi tersebut.
Rehat sejenak di Telaga Pengilon
Dari Telaga Warna, kami bergerak menuju Telaga Pengilon. Telaga Pengilon hanya berjarak 10 menit saja dengan berjalan kaki. Telaga Pengilon seperti telaga pada umumnya, tidak berbau belerang. Kami memutuskan untuk rehat sesaat disini.
 
Puas berwisata di Telaga Warna dan Pengilon, kami menuju Kompleks Candi Arjuna yang terkenal itu. Harga tiket masuknya sekitar Rp 10.000/orang, sudah termasuk dengan tiket wisata ke Kawah Sikidang.
Kompleks Candi Arjuna
 
Fotografer jarang punya foto diri sendiri yang bagus. Iya atau iya?
 
The happy team
 
Kompleks Candi Arjuna dikelilingi oleh pohon Pinus dan lapangan rumput yang hijau. Dengan latar belakang pegunungan dan kabut yang turun, lokasi ini benar-benar tempat yang pas untuk memuaskan hasrat berfoto ria.

 

Bersantai di hamparan rumput yang indah

Nah, tujuan wisata terakhir nih, Kawah Sikidang!

Sepanjang perjalanan menuju Kawah Sikidang, saya melihat ladang sayuran di kanan kiri jalan, pipa-pipa geotermal yang besar, dan pipa-pipa air yang menggantung melintasi jalanan. Warga sekitar tampak berjalan kaki, memanggul hasil panen mereka. Saya juga melihat perkebunan carica, buah lokal yang menjadi oleh-oleh khas Dieng.

Begitu turun dari mobil, kami langsung diserbu oleh para penjual masker. “Untuk di kawah mbak, biar aman” ujar mereka. Kami berjalan kaki menuju Kawah Sikidang. Tanah terasa cukup panas di beberapa titik, dan ada titik-titik tertentu yang mengeluarkan air panas berbunyi blubuk blubuk. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Bisa untuk merebus telur ayam hingga matang.

Saya sendiri tidak mengambil gambar karena trauma kamera rusak akibat uap belerang.

Mendekati Kawah Sikidang, bau belerang semakin menusuk dan membuat sesak. Rasanya seperti dibunuh perlahan di kamar gas kentut. Tak berlama-lama, kami segera mengambil beberapa gambar.

di depan Kawah Sikidang
Berfoto di depan uap panas
 

Saran saya, bila ke sana perhatikanlah arah angin.

Uap putih di belakang kami tersebut suhunya cukup panas, dan baunya cukup membuat sesak napas. Pakailah masker dan jangan terlalu lama berada di area tersebut. Hati-hati kamera!

Usai sudah petualangan kami di Dieng. Sepanjang perjalanan pulang, saya tak hentinya mengamati pemandangan. Dieng benar-benar berada di tempat yang sangat tinggi (namanya juga dataran tinggi). Pegunungan menjulang dengan indahnya di kiri jalan, dengan jalanan kecil yang berkelok-kelok. Kabut tipis menyelimuti puncak-puncak pegunungan.

Akhir kata, inilah perhitungan kasar saya untuk trip ke Dieng:

  • Sewa mobil Rp 200.000
  • Bensin Rp 150.000
  • Tiket masuk tempat wisata untuk 5 orang +- Rp 100.000
  •  Makan/minum/obat-obatan untuk 5 orang Rp 150.000

PS:

– Terima kasih untuk Breng dan Adip atas kesediannya menyetir dan membantu kami mendaki dalam keadaan kurang tidur. Terima kasih karena kalian baiiiiik sekali.
– Terima kasih pada Otoy dan Pipit karena telah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan (walaupun terkadang nyebelin).
– Terima kasih pada kalian yang sudah membaca dan mengapresiasi blog saya 🙂 I’ll keep the updates coming. See you in next trip <3

Leave a Reply