Mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran, Asyik Sekali!

Akhirnya saya kembali ke Jogja!

Setelah menyelesaikan tujuan awal saya ke Jogja, yaitu tes kerja, saya memiliki beberapa hari waktu luang untuk jalan-jalan. Menurut informasi, Gunung Api Purba Nglanggeran ini pernah aktif puluhan juta tahun yang lalu. Gunung api ini berbentuk bongkahan-bongkahan batu raksasa.

Karena kami mengejar sunrise, saya dan teman-teman berangkat dari Jogja pada tengah malam. Perjalanan dari Jogja ke Pathuk, Gunung Kidul memakan waktu sebentar saja, hanya sekitar 20 menit. Dari Yogyakarta, melalui Ring Road kami menyusuri Jl. Wonosari, melewati Bukit Bintang, dan berbelok ke kiri setelah gapura “Selamat Datang di Gunung Kidul”.

Dari jalan raya, lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran dapat dicapai dalam waktu sekitar 15-20 menit.

Berbekal senter, kami perlahan-lahan mendaki satu demi satu bebatuan dan anak tangga yang licin. Di jalur pendakian terdapat setidaknya 5 pos yang bisa digunakan pendaki untuk beristirahat.

Dasar saya memang jarang olahraga, baru mendaki sebentar sudah kehabisan napas! Kaki gemeteran dan badan lemas. Keringat mengucur deras. Bahkan teman saya si Ima sampai muntah-muntah saking capeknya! Hahaha.

Sebetulnya jalur pendakian cukup enak, bila tidak dilewati pada malam hari. Dengan pandangan terbatas, kami memanjat bebatuan licin, melipir di celah-celah bebatuan, melintasi semak-semak dan pepohonan yang horor abis.

Yosef, teman saya yang menjadi pemandu, berkali-kali mengingatkan kami untuk tidak melamun atau menyorot senter ke arah atas. Istirahat tidak boleh dilakukan terlalu lama agar badan tidak menjadi dingin kembali.

Setelah 1 jam mendaki (padahal rasanya lama banget), kami sampai di puncak. Ternyata malam itu Nglanggeran cukup ramai, beberapa kelompok pendaki sudah mendirikan tenda di puncak gunung. Kabut malam itu tebal sekali, dengan angin kencang yang menusuk tulang. Brrrr.

Kami menggelar jas hujan ponco yang dialihfungsikan menjadi tikar dan beristirahat.

Malam itu bintang-bintang menjadi pemalu karena awan tebal yang menyelimuti Yogyakarta. Di atas sini rasanya damai sekali. Saya bersandar pada ransel, menikmati dinginnya kabut yang mulai turun. Dari sini, saya bisa melihat gemerlap kota Yogyakarta. Sungguh suasana yang tidak tergantikan!

Satu persatu kami mulai terlelap, kecuali Yosef yang entah kenapa memilih untuk duduk menerawang menikmati pemandangan.

Azan Subuh terdengar.
Kami bangun dengan selimut di atas tubuh masing-masing. Ternyata Yosef yang menyelimuti kami waktu kami tidur, so sweet banget sih! Hahaha. Padahal dia sendiri nggak tidur. Setelah menunaikan ibadah shalat Subuh, kami bersiap untuk menikmati sunrise dengan tubuh menggigil.

Perlahan-lahan, matahari keluar dari balik peraduan.

Tim hore kali ini! Kiri-kanan: Latif, Lina, Hima, Ima, Yosef.
 

Hingga akhirnya keluar dengan sempurna.
Langit semakin cerah, semburat kuning keemasan terukir dengan sempurna di langit.
Priceless.

Setelah matahari terbit, kami baru dapat mengamati dengan jelas pemandangan sekitar. Pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran sangat indah. Saya takjub dengan bebatuan super raksasa yang membentuk pegunungan ini.

Menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas.
  

Sekitar pukul 06.00 pagi kami beranjak menuruni puncak. Saat itulah, kami baru bisa menikmati indahnya pemandangan di sepanjang jalur trekking Nglanggeran.

                                   Pemandangan ke jurang di pinggir jalur pendakian.

Bebatuan besar yang membentuk gunung.
The girls: Lina, Ima, dan saya.

 

Wajah sumringah karena berhasil mendaki dan menikmati suasana Nglanggeran.
Melintasi celah sempit diantara bongkahan bebatuan raksasa.
 

Perjalanan turun terasa sangat mudah dan menyenangkan. Kami menyusuri hutan, menikmati sejuknya embun pagi. Lelah perjalanan semalam terbayar dengan pengalaman yang menyenangkan. Bagi yang hendak berwisata ke Nglanggeran, berikut ini adalah barang-barang yang wajib dibawa:

  • jaket
  • senter
  • ransel yang nyaman
  • air minum dan makanan
  • sandal/sepatu gunung dan kaus kaki. Jangan memakai sendal jepit, sepatu cantik, atau sepatu kets biasa! Ditanggung jebol.
  • kamera
  • obat-obatan pribadi
  • ponco, dapat digunakan untuk mengantisipasi hujan atau untuk menjadi alas duduk.
  • dry bag bagi yang membawa barang elektronik (kamera) seperti saya. Belajar dari pengalaman, hal ini untuk mengantisipasi rusaknya kamera karena terpapar air hujan, embun, keringat, pasir, atau tanah berlumpur.

Untuk budget, saya hanya mengeluarkan sekitar Rp 30.000 untuk bensin motor, makanan, dan tiket masuk kawasan wisata. Cukup terjangkau bukan?

PS:
terima kasih untuk sahabat-sahabat saya Lina, Ima, Hima, Yosef, dan Latif yang bersedia menemani bocah petualang ini berkelana ke Nglanggeran! We’ll meet again soon.

Leave a Reply