Pasar Terapung, Alternatif Wisata Baru di Lembang

 Siapa tak kenal Bandung dan Lembang?

Kota wisata yang terletak di jantung provinsi Jawa Barat ini memiliki pesona yang tiada habisnya. Bandung, bagi orang Jakarta dan sekitarnya seperti saya identik dengan FO-hopping (meloncat dari satu factory outlet ke factory outlet lainnya untuk belanja), wisata alam, dan pastinya wisata kuliner. Wisata ‘materialis’ (begitu saya menyebutnya) di Bandung akan lebih lengkap jika ditambah dengan wisata alam di Lembang.

Setelah puas membeli panganan dan oleh-oleh di toko kue legendaris Kartika Sari, kami langsung bertolak ke arah Kota Lembang menuju pasar terapung alias Floating Market. Untuk menuju Floating Market, cukup menyusuri jalan dari Bandung menuju Jalan Raya Lembang, kemudian berbelok di Jalan Grand Hotel. Jalur menuju Floating Market relatif mudah untuk dicapai, hanya sekitar 40 menit dari pusat kota Bandung. Sayangnya, saya dan keluarga tersesat. Dengan sok tahunya, kami menyusuri Dago Atas kemudian bingung karena jalan semakin menyempit. Dengan tanjakan dan turunan curam, serta jurang di kanan-kiri jalan, perjalanan menuju Lembang menjadi menegangkan. Berkali-kali saya menahan napas karena mobil kami kesulitan menanjak. Thanks to  Google Maps, kami berhasil mendarat dengan sempurna di Lembang.

Gerbang masuk Floating Market samar-samar terlihat di pinggir jalan, tidak terlalu besar. Objek wisata ini baru buka pada jam 9 pagi. Tiket masuk yang ditawarkan pun cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 10.000 saja perorang. Tiket masuk tersebut dapat ditukarkan dengan welcome drink yang dapat diambil di lobby atau di area floating market.

Ta-da! Inilah penampakan Floating Market:

 

 

Kesan pertama saya ketika memasuki area ini, waduh gersang banget! Apalagi matahari bersinar dengan teriknya pada pagi hari itu. Pokoknya kalau tidak membawa topi atau sunglasses, dijamin gosong dan menderita karena sepanjang jalan harus menyipitkan mata. Floating Market memiliki beberapa spot untuk foto-foto, dan favorit saya adalah ini:

 

 

Sebenarnya Floating Market itu apanya sih?
Nah, jadi kawasan ini memiliki 1 area tempat makan yang semua penjualnya menggunakan perahu untuk menjajakan dagangan mereka. Pilihan menunya sangat beragam, ada sate ayam, mie jawa, siomay, es pisang ijo, hingga kentang alay. Lumayan lengkap lah. Untuk dapat membeli makanan tersebut, pengunjung diwajibkan menukar uang yang akan dibelanjakan dengan sejumlah koin dengan berbagai nominal, mulai dari Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000 dan Rp 50.000. Nggak enaknya, harga makanan relatif menjadi lebih mahal, contohnya seperti seporsi sate ayam yang dihargai Rp 25.000.

Intinya, kawasan Floating Market ini asik buat foto-foto dan duduk-duduk menikmati angin semilir. Waktu saya kesana, angin berhembus cukup kencang dan kami masih harus menempuh perjalana pulang selama 3,5 jam dengan kondisi full-ac. Walhasil sepulang dari sana satu persatu saya dan keluarga mulai tumbang. Ada yang diare, masuk angin, dan flu.

2 Comments

Leave a Reply