Memantau Anak Krakatau

Krakatau adalah sebuah gunung api aktif yang terletak di Selat Sunda. Letusan Krakatau tahun 1883 adalah salah satu bencana alam terdahsyat sepanjang jaman, seperti yang dikutip dalam Kitab Ranggawarsita:

“Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin mengobarkannya; suaranya mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi,” demikian sepenggal isi Kitab Raja Purwa yang dibuat pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito. sumber

Berbekal rasa penasaran, saya dan 6 orang teman berangkat menuju meeting point kami dengan Sahabat Jalan. Ini adalah kali kedua saya ikut tour bersama random people, namun bedanya jumlah rombongan kami nanti akan cukup besar, sekitar 50 orang. Whoa…

Sampai di Pelabuhan Merak, kami agak bingung karena belum pernah naik ferry sendirian. Keadaan pelabuhan saat itu relatif sepi, semakin malam semakin ramai. Saya agak badmood karena koordinator tur kami baru datang jam 1 malam. Ngantuk banget dan bosan parah nunggunya. Rupanya mereka terlambat karena menunggu orang-orang yang terlambat datang ke meeting point di Terminal Kalideres dan Kampung Rambutan. Ya.. inilah resikonya ikut tur dengan banyak orang.

Perjalanan Merak – Bakauheni ditempuh dalam waktu 3 jam dan dilanjutkan dengan menumpang angkot yang sudah disewa untuk menuju Dermaga Canti, Kalianda, Lampung Selatan. Rupanya, angkot kami sangat ‘gaul’. Speaker di dalam angkot tak henti-hentinya mendendangkan lagu Melayu milik si abang angkot selama 1,5 jam perjalanan ke Dermaga Canti. Lucunya, lagu-lagu tersebut seperti direkam sendiri. Saya curiga ini abang-abang angkot punya akun SoundCloud *pffft*

Langit sangat mendung ketika kami tiba di Dermaga Canti. Langit ditutupi awan tebal, dan benar saja, tak lama kemudian gerimis tipis mulai turun. Setelah sarapan di warung setempat, kami berangkat menuju pulau Sebuku Kecil. Sebagai gambaran, inilah peta pulau-pulau yang akan kami kunjungi:

Perjalanan dari Canti menuju Pulau  Sebuku Kecil ditempuh dalam waktu 1 jam dengan kapal. Ombak saat itu cukup tinggi sehingga kami terombang-ambing di laut. Well.. hal yang saya herankan adalah perahu ini tidak memenuhi standard safety. Penumpang dibiarkan naik di atas kapal (literally di atas atau atap) tanpa menggunakan pelampung. Ketika saya tur ke Karimun Jawa, seluruh penumpang diwajibkan untuk mengenakan pelampung selama perjalanan laut. Hmm.. ya walaupun saya senang-senang aja duduk di atap tanpa pelampung, agak mikir juga sih kalau tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya perahu terbalik. Penumpang yang panik dipastikan dapat tenggelam.
Yeah, sampai juga di Sebuku Kecil!

Sebuku Kecil adalah sebuah pulau tak berpenghuni yang terletak di kawasan Selat Sunda. Pulaunya tidak terlalu besar (ya namanya juga Sebuku Kecil), dengan air jernih berwarna kehijauan. Pasirnya putih dan didominasi oleh bebatuan karang. Bersih sekali!

Di pulau ini, pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang karena ada Pig’s Hair alias the mighty bulu babi. Benar saja, ketika kami mendarat, banyak gundukan hitam runcing-runcing di dasar pantai. Hii.. saya bergidik melihatnya. Pasti sakit sekali kalau kaki kita tertusuk. Belum lagi, berdasarkan informasi yang beredar, infeksi bulu babi baru sembuh apabila.. dipipisin. Ya mending cari aman aja lah daripada saya harus dipipisin orang.

Agenda berikutnya adalah snorkeling di Pulau Sebuku Besar. Tidak terlalu spesial disini, hanya ada beberapa ikan kecil hilir mudik. Terumbu karangnya tidak utuh. Saya tidak terlalu kaget sih, karena setelah baca berbagai sumber sebelum berangkat, banyak yang bilang kalau di Sebuku Besar tidak ada apa-apa. Ternyata benar :p

Perjalanan kami berlanjut ke pulau yang akan menjadi tempat menginap kami, yaitu Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi ini cukup luas, bahkan terdapat gunung yang cukup tinggi di dalamnya. Di pulau ini, kami ditempatkan di rumah-rumah penduduk untuk mandi dan bermalam. Pemukiman cukup banyak di Sebesi, terdapat pula penginapan yang dikelola oleh warga setempat. Masyarakat Sebesi menggantungkan hidupnya dengan bertani kakao. Ternyata, di pedalaman pulau ini banyak terdapat pohon kakao. Di pinggir-pinggir jalan, banyak sekali warga yang menjemur biji kakao. Hal yang mengejutkan lainnya, tidak satupun penghuni Sebesi yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Sore harinya, kami diajak untuk tur mengelilingi Pulau Sebesi menggunakan pick-up. Kami menyusuri jalan-jalan paving dan melihat keseharian hidup warga Sebesi. Mayoritas dari mereka memiliki rumah yang cukup layak. Sore hari itu ibu-ibu banyak duduk dan mengobrol di depan rumah mereka, melambaikan tangan pada kami. Anak-anak berteriak girang dan bermain di pinggir jalan. Di perjalanan, kami melihat pembangkit listrik diesel. Ternyata inilah sumber listrik Pulau Sebesi. Dengan pembangkit yang begitu kecil, listrik di pulau ini hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam.

Setelah berjalan kaki selama 15 menit, kami sampai di sebuah pantai yang berada di sisi balik Pulau Sebesi. Di pantai ini, Anda dapat melihat Gunung Rakata, Anak Krakatau dan Pulau Panjang.

Di pantai inilah, teman kami bertemu dengan seseorang *uhuk*. Perkenalan yang begitu singkat sepertinya membawa kesan yang begitu mendalam, hihihi. Hingga akhir trip, mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Saya dan teman-teman lain sih cengar-cengir saja. Mungkin ini yang dinamakan cinlok liburan, seperti yang banyak ditayangkan di FTV-FTV.

Malam hari setelah barbeque, kami tidur cepat sebab esok hari harus bangun pukul 3 pagi untuk mengejar sunrise di Anak Krakatau. Nah, di malam hari itu ada kejadian lucu. Saat semua tidur lelap, tiba-tiba terdengar suara perempuan, “Assalamualaikum..” hening. Teman saya, Lala, panik, “Eh, itu ada yang assalamualaikum!” Siapa juga yang mau bertamu jam 12 malam? “Assalamualaikum..” suara tersebut kembali terdengar, lalu disambung dengan, “Eh sori gue ngigo..”. Siapa lagi kalau bukan si Kodil. Saat esok pagi kejadian tersebut diceritakan, kami tertawa terbahak-bahak.

Rencana untuk berangkat ke Anak Krakatau jam 3 pagi ternyata tinggal wacana. Kapal yang kami tumpangi rusak dan membutuhkan waktu untuk perbaikan. 2 jam setelahnya, kami baru benar-benar berangkat dan menikmati sunrise dari atap kapal.

Akhirnya kapal bersandar di Cagar Alam Krakatau setelah menempuh perjalanan 1,5 jam. I’m very excited karena ini adalah puncak dari tur kami. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari ranger Anak Krakatau, terakhir kali gunung ini erupsi adalah 1 tahun yang lalu. Beberapa pengunjung nakal, menurut ranger kami, senang berburu burung di Anak Krakatau, padahal hal tersebut dilarang. “Kami tegaskan lagi bahwa Krakatau adalah cagar alam, bukan tempat wisata.”

Kami menyusuri hutan dengan jalan setapak, tumbuhan hidup dengan cukup subur di sana. Suara burung merdu bersahutan, tapi sialnya saya tidak dapat menemukan satupun sosok mereka. Setelah menembus hutan selama 15 menit, kami baru benar-benar mendaki untuk mencapai puncak.

Mungkin terlihat mudah pada awalnya, akan tetapi lama kelamaan sulit juga. Hal ini disebabkan oleh kemiringan lereng yang cukup tajam dan pasir yang selalu jeblos ketika dipijak. Pengunjung perlu sangat berhati-hati. Beberapa kali saya mencium bau belerang, namun tidak begitu menyengat. Ranger kami berpesan bahwa ketika mencium bau belerang, jangan berhenti bergerak, kita harus tetap berjalan. Baiklah, mari berjuang!

Setelah melalui perjuangan berat (secara saya belum pernah naik gunung), finally!! Saya berhasil menginjakkan kaki di puncak Anak Krakatau! Well, sebenarnya bukan puncak karena ini adalah batas teraman untuk didaki. Pemandangannya menakjubkan.

Sungguh, merupakan kebanggaan tak terkira saat berhasil menginjakkan kaki di puncak Anak Krakatau.
Saya kira saya tidak akan berhasil mendaki. Capek banget. Saya mendadak salut dengan teman-teman yang hobi naik gunung. Pokoknya saya tidak menyesal sudah pernah kesini. Keren banget.
Tibalah di agenda terakhir trip, yaitu snorkeling di Lagoon Cabe, Pulau Rakata. Spot snorkeling di Rakata jauh lebih bagus dibandingkan Pulau Sebuku Besar. Airnya begitu bening dengan terumbu karang yang beraneka macam. Bagus sekali. Saya mulai snorkeling bersama ikan-ikan kecil. Sayang sekali mereka pemalu, mereka kabur apabila saya terlalu dekat.
 

Senang sekali rasanya bisa melihat ikan-ikan kecil menutulkan moncong mereka di terumbu karang. Jumlah mereka cukup banyak dan beragam. Saya meluncur dari satu spot ke spot lainnya, dan berhenti berenang saat peluit dibunyikan, pertanda kami harus pulang.

1,5 jam berikutnya kami habiskan di atas kapal menuju Pulau Sebesi. Semua tampak mengantuk. Saya tidak membayangkan apabila ada penumpang yang terjatuh ke laut karena mengantuk. Haha. Lelah sekali.. tapi ini adalah lelah yang menyenangkan. Badan saya lengket oleh pasir dan air lalut, ingin segera mandi dan bilas. Sesampainya di Sebesi, saya, Kodil, dan Sausan berjalan cepat menuju penginapan, dan tak sia-sia karena kami mendapat giliran mandi pertama! Lega. Maklum, 1 kamar mandi di rumah kami digunakan oleh sekitar 10 orang, Apabila tidak dulu-duluan, ya cukup apeslah menunggu giliran mandi terakhir.

Perjalanan kami belum selesai. Masih ada 1,5 jam berikutnya yang harus ditempuh ke Dermaga Canti, 1,5 jam berikutnya ke Pelabuhan Bakauheni, 3 jam berikutnya ke Pelabuhan Merak, dan 2 jam berikutnya ke Jakarta. Dengan ransel yang beratnya serasa berton-ton, saya menjalaninya satu persatu. Perjalanan Canti – Bakauheni cukup melelahkan, karena jalanan macet berkilo-kilo saat hendak memasuki pelabuhan. Supir angkot kami cukup pengertian karena tidak memutar lagu-lagu Melayu, namun dia mengemudi dengan sangat beringas. Berusaha menembus kemacetan dengan cara yang sangat tidak sangat wajar. Saya agak panik karena sepertinya angkot tersebut tidak cukup kuat untuk menanjak. Badan kami sudah bau, kanan kiri bunyi klakson kendaraan, udara sangat panas dan pengap. Inilah pengalaman backpacker.. hahaha. Penderitaan belum berakhir karena kapal yang kami tumpangi cukup panas dan terus menerus memutar DVD dangdut grup “Sonata” yang terkenal dengan goyang esek-esek *oh God why*. 

Kami dijadwalkan untuk sampai di Merak pukul 10.00 malam, namun apa daya kami baru sampai pukul 12.00 malam. Bergegaslah kami untuk pulang, karena esok Senin masih banyak kegiatan. Sampai jumpa lagi Krakatau, senang bisa bertemu denganmu!

PS:
Rincian paket yang saya ambil:
– Rp 398ribu + 65 ribu sewa alat snorkeling
upgrade kelas AC di kapal Rp 8ribu
– Transport Tangerang – Merak dengan mobil Elf 60ribu/orang
Apabila membutuhkan info lebih lanjut silahkan menghubungi Sahabat Jalan di Facebook. Salam jalan-jalan!

Leave a Reply