Jelajah Medan dan Danau Toba, Horas!

Siapa tak kenal Medan? 
Sejak bangku sekolah dasar, kita telah diberi pengetahuan dasar mengenai ibu kota Sumatera Utara ini. Mulai dari sapaannya yang khas (Horas!),posisinya sebagai kota ke-4 terbesar di Indonesia, hingga ikon khasnya (dari Sumatera Utara) yaitu Danau Toba. Perjalanan kali ini, saya bermodal nekat mengunjungi sahabat saya Putri yang berdomisili di Medan.

Ini adalah kali ketiga saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Pertama kali saya menjejak Sumatera pada umur 10 tahun, untuk liburan keluarga ke Sumatera Barat. Kali kedua, saya bertandang ke Lampung untuk study tour SMA. Bagi saya, Sumatera memiliki kekhasan tersendiri, yaitu alamnya yang indah dan jalanannya yang sangat berkelok, hingga membuat pusing siapapun yang tak tahan. Sebagai orang Jawa yang berdomisili di daerah padat dan sibuk, perjalanan ke Sumatera menjadi salah satu oase yang menyenangkan, hingga akhirnya saya memilih Medan untuk kunjungan ketiga.

Hari Pertama
Ternyata, Medan jauh lebih padat dari yang saya kira!
Kendaraan berlalu-lalang dengan liarnya, ditambah dengan betor (becak motor -red.) yang seenaknya mengambil jalan kendaraan lain. Hampir di setiap perempatan saya menemukan deadlock, yaitu situasi dimana kendaraan di 4 arah ‘terkunci’ karena semuanya berebut ingin jalan terlebih dahulu. Lampu merah bagaikan hiasan di tiap jalan, dikalahkan ego pengendara. Polisi sangat jarang ditemui di pusat-pusat kemacetan. Kata Putri, “Nanti, yang ditilang lebih galak dari yang menilang. Ini Medan!” Oh baiklah.

Usai terhanyut dalam rimba lalu lintas Medan, saya langsung diboyong Putri untuk sarapan di Rumah Makan Sinar Pagi. Rumah makan ini selalu ramai dipadati oleh pengunjung, bahkan terkadang antriannya membludak.  Terletak di Jalan Sei Deli, Medan, RM. Sinar Pagi menyajikan soto Medan yang gurih, kental, dan berbumbu. Bentuknya seperti soto Betawi, tanpa emping dan tomat. Rasanya gurih, kental, dan agak pedas. Cukup kaget juga perut saya saat memakan soto ini. Soto Medan di rumah makan ini nikmat disantap dengan rempeyek udang. Harga seporsi soto Medan di rumah makan ini sekitar Rp 25.000. Dijamin gak rugi karena dagingnya banyak.

Saya dan Putri melanjutkan perjalanan dengan teman sekaligus tour guide kami pada hari itu, yaitu Bang Ipan. Tujuan pertama kami adalah Graha Maria Annai Vellangkani, sebuah gereja Katolik yang berbentuk seperti kuil India.

Graha Maria Annai Vellangkani
 
Terletak di daerah Sunggal, gereja ini merupakan salah satu hasil dari akulturasi budaya di Medan. Bergaya arsitektur India, gereja ini merupakan salah satu tempat ziarah religi yang cukup terkenal. Kami tidak berlama-lama di Graha Maria ini, dikarenakan waktu yang mepet dengan shalat Jumat dan tidak banyak objek yang dapat dilihat di sana. Mari cus!
 
Perhentian berikutnya, Istana Maimun.
Istana Maimun (Maimoon Palace) adalah salah satu objek historis di kecamatan Medan Maimun, kota Medan. Istana Maimun adalah peninggalan dari Sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah tahun 1888 (dikutip dari sini). Arsitektur Istana Maimun merupakan perpaduan antara Melayu, Spanyol, India dan Italia. 
 
Saya dan Putri di Istana Maimun
 

Bagi teman-teman yang hendak berkunjung, jangan lupa untuk melepas alas kaki di tempat yang telah disediakan. Saat masuk, pengunjung akan disambut ramah oleh pengurus (mungkin juga kerabat dekat) dari istana ini. Di Istana Maimun, pengunjung dapat melihat singgasana dan peninggalan-peninggalan dari kerajaan. Sayang sekali, saat saya berkunjung tidak ada tour guide yang dapat dimintai keterangan mengenai sejarah istana ini. Selain itu, kebersihan istana sepertinya kurang terawat dengan baik.

Segera setelahnya, kami mengunjungi beberapa tempat wisata di Medan, yaitu Masjid Raya Medan, Kuil Shri Mariamman, dan akhirnya Merdeka Walk.

 


Ikon kota Medan: Masjid Raya Medan
 
Tentu sebagian besar teman-teman sudah pernah melihat gambar dari masjid ini bukan? Masjid Raya Medan adalah ikon yang sangat terkenal dari kota Medan. Masjid ini terletak satu kompleks dengan Istana Maimun, akan tetapi berbeda jalan. Dengan perpaduan arsitektur Mesir, Iran, dan Arab, Masjid Raya Medan berdiri kokoh diantara bangunan-bangunan modern yang mengelilinginya.
 
Tujuan berikutnya, yaitu Kuil Shri Mariamman terletak di daerah Kampung Keling, Medan. Daerah ini dinamakan Kampung Keling karena kita akan banyak menemukan orang-orang etnis India yang tinggal dan bekerja disana. Shri Mariamman adalah sebuah kuil India yang sangat cantik, penuh dengan ornamen dan patung berwarna-warni yang khas. Puncak kuil Shri Mariamman berbentuk ornamen-ornamen patung yang berwarna keemasan.
 
Lukisan di langit-langit Kuil Shri Mariamman


Puncak Kuil Shri Mariamman
 
Malam harinya, kami bertandang ke Merdeka Walk, sebuah pusat jajanan yang berlokasi di tengah kota Medan. Malam itu, saya bertemu dengan seorang sahabat spesial saya yang melanjutkan kuliah di Medan yaitu Iil! Iil adalah teman sekamar saya selama 1 tahun ketika SMU. Buat yang belum tahu, saya menghabiskan masa SMU saya di Asrama Insan Cendekia Boarding School, Serpong. Kami sangat dekat, dan yang menjadi surprise adalah saya datang ke Medan tepat pada hari ulangtahunnya. Ini sama sekali tidak direncanakan. Happy birthday Iil 😀
 
 
 
Hari Kedua
Hari kedua saya di Medan diawali dengan makan lontong sayur khas Medan. Sebagai perantau kota Jogja selama 4 tahun, rasa lontong sayur ini beda banget sama lontong sayur di Jogja. Rasanya pedas dan agak asin, dengan taburan keripik kentang manis dan bihun goreng. Agak aneh ya, bihun dimakan bersama lontong sayur. Tapi kata Putri, makanan di Medan umumnya  menggunakan bihun sebagai campurannya.
 
Setelah mengisi perut, kami bergegas ke sebuah vihara cantik di tengah kota Medan, yaitu Vihara Gunung Timur. Terletak di Jalan Hang Tuah, Vihara Gunung Timur merupakan klenteng Tionghoa tertua di kota Medan yang didirikan pada tahun 1962. 
 
Vihara Gunung Timur. Cantik ya?
 
Untuk masuk ke vihara ini, kami sama sekali tidak dikenakan biaya. Saat saya berkeliling vihara, tampak beberapa umat Konghucu sedang beribadah. Pada awalnya kami agak ragu untuk mengambil gambar di dalam vihara, sampai akhirnya seorang bapak-bapak Tionghoa dengan ramahnya mempersilakan kami untuk masuk. “Masuk saja, foto-foto, bebas!” ujar bapak tersebut sambil tersenyum. 
 
Sambil memotret, saya memperhatikan mereka beribadat. Satu persatu, mereka memberi penghormatan pada patung-patung besar yang ada di dalam vihara, membakar hio, dan membawa hio tersebut ke cerobong/tungku ini:
 
Bagus ya? Seperti sedang jalan-jalan ke China :p
Vihara Gunung Timur memiliki ornamen-ornamen yang tentunya sayang dilewatkan untuk berfoto. 
 
Duo Garong


Lampion-Lampion Cantik

Mengelilingi kota Medan tentu tak lengkap tanpa mengunjungi museum terkenal Rumah Tjong A Fie. Tjong A Fie adalah seorang saudagar terkenal asal Tionghoa pada tahun 1800-an. Tjong A Fie menjadi saudagar terkaya di Sumatera pada jamannya. Tjong A Fie menikah sebanyak 3 kali (salah satunya dengan penduduk lokal) dan memiliki 7 keturunan. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 35.000/orang, kita sudah bisa mengelilingi Rumah Tjong A Fie sekaligus mendengarkan sejarahnya dari tour guide yang telah disediakan. 

Berkeliling rumah Tjong A Fie seperti kembali ke masa silam. Tour guide  kami menjelaskan bagaimana Tjong A Fie sangat menghormati tamu-tamunya, dengan dibuatnya satu ruang tamu khusus untuk Sultan Deli. Begitu banyak ornamen, perabotan, dan peninggalan masa lalu yang begitu indah lagi terawat. Sebagian sudah diperbaharui, dan sebagian lagi masih tetap dipertahankan seperti kondisi aslinya. 

Piano milik anak perempuan Tjong A Fie
 
Kamar tidur Tjong A Fie
 
Koran peninggalan masa silam

 

Favorit saya: ruang makan keluarga Tjong A Fie! Perabotan makannya sangat vintage. Indah sekali.
Baju milik Tjong A Fie dan istrinya
 
Teras untuk bersantai
 
Wah, rasanya tidak ada habisnya kekaguman saya terhadap Rumah Tjong A Fie. Bagi teman-teman yang berencana wisata ke Medan, terutama penggemar hal-hal vintage, tempat ini HARUS BANGET dikunjungi.

Hari Ketiga
Inilah hari yang paling saya tunggu-tunggu, karena hari ini saya akan mengunjungi ikon Sumatera Utara yang paling terkenal, yaitu Danau Toba. Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara. Jalan menuju Danau Toba cukup sulit ditempuh karena berkelok-kelok dan naik turun. Untungnya, keluarga Putri sangat baik karena mau mengantarkan tamu tak diundang ini ke sana.

Kami berangkat dari kota Tebing Tinggi melewati Pematang Siantar. Satu hal yang unik dari Pematang Siantar, di sini banyak betor (becak motor) yang digunakan untuk mengangkut babi! Babi-babi gendut berwarna pink berseliweran di jalan, dengan pemandangan kiri kanan daging babi yang digantung-gantung.

2 jam kemudian, kami tiba di Parapat, Danau Toba dan langsung disuguhi pemandangan seperti ini:

Baguuus banget! Saya sampai kesal karena kamera saya tidak bisa menangkap keindahannya secara menyeluruh. 
 
Biru
 
Pasang aksi. Kapan lagi ke Danau Toba?


Taman di resort tempat kami singgah
 
Dari Parapat, kami menyeberang ke Tomok, Pulau Samosir menggunakan kapal. Harga perorangnya cukup Rp 20.000 PP. Di sekitar dermaga, banyak bocah laki-laki telanjang berenang mendekati kapal. Oh, ternyata mereka mengharapkan koin dari para pengunjung. Beberapa pengunjung tampak melemparkan uang recehan ke dalam air, dan bocah-bocah ini segera mengejarnya dengan tangkas.
 
Bocah pengejar koin
Kapal mulai berlayar, angin bertiup sepoi-sepoi meniupkan angin Toba ke wajah saya. Sungguh, rasanya damai banget! Siang itu langit sangat biru dan ombak tidak terlalu kencang. Saya selalu menyukai perjalanan dengan kapal terbuka. Asyik sekali..
 
Perjalanan ke Tomok, Samosir memakan waktu sekitar 30 menit.  Pertama-tama, kami menuju objek wisata boneka menari “Si Gali-Gali”. Di Samosir, banyak rumah adat suku Batak yang masih asli dan eksotis. Seperti objek wisata Si Gali-Gali ini misalnya. Untuk dapat menonton pertunjukan ini, penonton dipungut biaya Rp 5.000/orang.
Si Gali-Gali. Kalau diperhatikan, mukanya creepy banget :s
 
Tiba-tiba, muncul anak-anak sekitar umur 7-12 tahun ke depan rumah panggung. Mereka tampak bingung, mulai menari ala kadarnya (terlihat sekali bahwa mereka tidak dilatih), dan menyampirkan songket ke leher pengunjung untuk ikut serta menari Tor-Tor.
 
Saya dan keluarga Putri digeret menuju depan rumah panggung, diajak menari, lalu satu persatu mulai beseru “Kak sawer kak!”
He?
Saya sempat bingung.
Anak perempuan di depan saya berteriak makin keras dan kasar, hingga beberapa kali. “Kak, sawer lah kak!”
 
Proses ‘penyaweran’
 
Putri menyerahkan selembar lima ribuan ke anak berbaju orange, dan anak berbaju ungu terus berteriak dengan kasar ke  arah saya, “Kak, sawer kak!”. Menurut saya, ini adalah hal yang sangat tidak sopan. I mean, mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa di depan sana. Mungkin sedikit masuk akal bagi penonton apabila mereka mempertontonkan tarian yang layak lalu meminta bayaran. 
 
Tapi ini?
Ini bukan kali pertama saya mendengar ada anak-anak lokal di objek wisata yang meminta uang kepada turis dengan cara paksa.
 
Ah, sudahlah.
Mendingan saya dan Putri foto-foto.
Usai urusan sawer menyawer, kami menuju Makam Raja Sidabutar. Pengunjung yang memasuki area makam raja diwajibkan untuk mengenakan songket seperti yang kami gunakan di bawah ini:
 
Tour guide mulai menjelaskan pada para pengunjung mengenai legenda Raja Sidabutar. Konon, Raja Sidabutar adalah orang pertama yang menjejakkan kaki di Pulau Samosir. Raja memiliki seorang panglima kepercayaan yang berasal dari negeri Aceh. Pada mulanya, panglima tersebut bermaksud untuk menyebarkan ajaran Islam di negeri tersebut. Akan tetapi, upaya tersebut gagal karena sebagian besar penduduk sudah memeluk agama lokal. Suatu ketika, panglima tersebut ditugaskan untuk memimpin perang melawan pasukan yang sangat besar jumlahnya. Melihat peluang kecil untuk menang, sang panglima memerintahkan prajuritnya untuk berperang dalam kondisi telanjang bulat! Musuh pun dibuat lari terbirit-birit. Dengan demikian, sang panglima berhasil memenangkan perang tanpa pertumpahan darah sedikit pun.
 
Usai sudah petualangan saya di Sumatera Utara. Dengan badan lelah, keesokan harinya saya dan Putri kembali ke Medan untuk melakukan ritual yang dulu kami sering lakukan bersama, yaitu jalan-jalan ke mall, dan hari berikutnya saya bertolak ke Jakarta.
 
Sungguh sebuah perjalanan yang tidak akan saya lupakan.
Menjelajah Sumatera Utara, khususnya Medan dengan segala keragaman budaya dan keindahan alamnya.


PS:
Ucapan terima kasih saya yang tak terhingga untuk sahabat saya, Sekar Putri Ningrum dan keluarga, semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Terima kasih telah menampung saya di rumah selama 5 hari, dan memberi saya makanan yang layak. Terima kasih sudah mau direpotkan oleh si anak rempong  ini :p
Terima kasih juga untuk teman dari Putri, Bang Ipan yang bersedia menyupiri dan menjadi tour guide kami saat seharian berkeliling kota Medan.
Terima kasih untuk Ayah dan Ibu yang rela melepas anak perempuannya berkeliling Sumatera Utara selama 5 hari.

Nantikan saya di liburan berikutnya. HORAS!

2 Comments

Leave a Reply