Sedikit Cerita di Akhir Maret: Pengalaman Operasi

Halo, lama sekali tak jumpa di blog ini! *tiup sarang laba-laba dan debu*
I’m back!
 
Saat ini, dengan berat hati saya nyatakan bahwa saya tidak tinggal di Yogyakarta lagi. Saya sudah lulus pada bulan November 2012 dan mendapat gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP). Yay!  Sebenarnya saya belum ingin pulang ke Tangerang. Rasanya aneh kembali tinggal di rumah setelah selama 3 tahun saya sekolah di asrama dan 4 tahun kuliah di Jogja. 
 
Baru 1 minggu di rumah, saya langsung di-opname di Eka Hospital BSD. Dokter menyatakan bahwa di payudara kiri saya terdapat tumor sebesar 4 cm dan harus diangkat. Sebenarnya tidak masalah apabila tidak diangkat, akan tetapi jaringan tumor akan terus membesar dan mendesak jaringan payudara. Dengan kata lain, ia bisa tumbuh lebih besar dari jaringan payudara sendiri. Apabila sudah mencapai tahap tersebut, maka jaringan payudara telah rusak dan harus diangkat total.
 
Untuk persiapan operasi, dokter meminta saya untuk mengumpulkan beberapa berkas, yaitu rontgen thorax, hasil cek darah, dan USG mammae. Melalui USG mammae inilah nanti akan diketahui letak dan ukuran tumor. Biaya yang saya keluarkan untuk  3 tes tersebut adalah  Rp 900.000,00. Untuk biaya operasi dan opname, saya kurang paham karena sebagian besar di-cover oleh asuransi.
 
Hari Sabtu saya ke dokter, dan hari Senin-nya saya langsung di-opname. Saya masuk jam 8 pagi dan dijadwalkan untuk operasi jam 16.00. Ini adalah pengalaman pertama saya di-opname. Sekalinya di-opname, langsung operasi pula. Kalian harus tau rasanya ketika perawat mengetuk pintu kamar, berkata “Ruang operasinya sudah siap”, lalu kalian dibawa ke ruang persiapan operasi, dan akhirnya masuk ke ruang operasi itu sendiri. Membayangkan kalau saya akan dibius total, saya sudah berpikir yang tidak-tidak, “Gimana kalau nanti terjadi komplikasi?” dan “Gimana kalau nanti gue gak bisa bangun lagi?”.
 
Oke, itu lebay.
Tapi memang begitulah rasanya.
Ruang operasi yang saya masuki sangat terang dan bersih, dengan lampu-lampu operasi seperti yang saya lihat di serial Grey’s Anatomy. Hal terakhir yang saya ingat adalah dokter anestesi menyuntikkan bius ke selang infus saya, dan saya tertidur.
 
Rasanya saya baru memejamkan mata sedetik saja. Ketika siuman, saya merasakan perih pada dada kiri saya, dan semua kerabat dekat sedang mengerubungi saya dan mengucapkan selamat. Di pojok ruangan, saya lihat Ibu tak hentinya mengucapkan puji syukur. Sementara itu Ayah menunjukkan foto tumor yang diangkat. Ada 2 buah, berwarna putih seperti gumpalan lemak. Tumor yang telah diangkat tersebut selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut.
 
Selama kurang lebih 2 hari, dada saya dibebat dengan perban semacam kemben yang sangat ketat. Selama itu pula para suster bergantian menyuntikkan obat penahan sakit dan vitamin ke dalam infus saya. Di hari ke-3, saya sudah boleh pulang dan beristirahat di rumah. Selama kurang lebih 1 minggu, saya istirahat total dan tidak banyak bergerak. Tiap minggu setelahnya, saya kembali ke dokter untuk kontrol, mengganti perban, dan suntik anti keloid. Suntik anti keloid? Ya, karena saya memiliki kecenderungan keloid. Keloid adalah semacam daging tumbuh di permukaan kulit apabila ada luka terbuka. Sekali kontrol, saya disuntik kurang lebih 5x di sepanjang sayatan operasi. Sayatan operasi saya tidak memiliki bekas jahitan untuk meminimalisir timbulnya keloid. Nah, saran saya untuk teman-teman yang memiliki bakat keloid, berkonsultasilah dengan dokter sebelum dimulai tindakan. Karena mencegah lebih mudah daripada mengobati, toh?
 
1 bulan kemudian, kontrol saya tuntas dan diwajibkan untuk kembali kontrol 3 bulan pasca operasi. Pasca operasi, banyak teman-teman perempuan yang bertanya kepada saya tentang gejala tumor payudara. Gejalanya adalah ketika diraba, terdapat benjolan. Tidak semua benjolan dapat terdeteksi dengan tangan, ada yang keberadannya baru diketahui setelah menjalani USG mammae. Saya pun terlambat menyadari. Dokter berkata bahwa umur tumor saya sudah sekitar 5 tahun.
 
Pasca operasi, saya memperbaiki pola makan dan meminum obat-obatan herbal. Saya sama sekali tidak mengkonsumsi mie instan dan menghindari MSG. Selain itu, saya sempatkan diri untuk olahraga (ketahuan malas olahraga :p). Untuk obat herbal, saya minum air rebusan daun sirsak dan kapsul Kunir Putih. Kunir atau kunyit putih adalah obat herbal untuk pengobatan kanker. Selain itu, ia juga berfungsi untuk memelihara organ kewanitaan. Saya memiliki riwayat nyeri haid yang parah, bisa sampai pingsan dan tidak dapat beraktifitas seharian. Setelah meminum Kunir Putih dan air daun sirsak, saya mengalami flek selama 2 minggu, kemudian saat tiba periodenya, sakit haid saya hilang. Ajaib, kenapa gak dari dulu aja taunya ya.. 
 
Oleh karena itu girls, apabila terdapat sesuatu yang tidak normal di badan kalian, segeralah berkonsultasi ke dokter. Tidak perlu takut dan tidak perlu malu, semakin cepat diketahui maka akan semakin mudah ditangani. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat. Cheers and have a nice day! 🙂

 

Leave a Reply