Sempu Island: Beyond Expectation

Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka pada saat itulah kesigapan kita dalam menanggapi hal-hal yang tak terduga diuji. 
Berbekal persiapan minim, saya dan 9 orang sahabat berangkat menuju Pulau Sempu, Malang pada hari Jumat (30/12/2011) malam dengan niat merayakan tahun baru 2012 di sana. Rute menuju Pulau Sempu dimulai dari Jogjakarta – Solo – Sragen – Madiun – Kediri – Blitar – Malang – Sendang Biru, yang ditempuh selama kurang lebih 10 jam melalui jalur darat.
Tim Hore: Before
 
Selama perjalanan, kami tidak memiliki bayangan apapun mengenai medan yang akan ditempuh. Semua masih tertawa ceria, bercanda, dan bersemangat dalam menempuh perjalanan. Sekitar pukul 12.00 keesokan harinya, kami sampai di Sendang Biru. Sendang Biru merupakan sebuah pelabuhan yang digunakan untuk penyeberangan menuju pulau Sempu. Tampak banyak sekali kapal-kapal kayu yang diparkir maupun hilir mudik, sekelompok anak muda yang menenteng tas carrier sebagai persiapan camping (sama seperti kami), dan keluarga-keluarga yang berekreasi menikmati pantai.
Sendang Biru
 
Untuk menyeberang ke Pulau Sempu, kita harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari semacam badan pengawas pulau ini. Hal ini dikarenakan Pulau Sempu merupakan cagar alam yang masih dilindungi. Setiap kepala dikenai biaya Rp 2.000,00 saja, dengan biaya penyeberangan Rp 100.000,00 per kapal. Sekilas pandang, Sempu sendiri adalah sebuah pulau yang indah, dengan air berwarna biru kehijauan, karang-karang dan tumbuhan bakau yang menghiasinya.

 

 

 

Teluk Semut
 

Setelah menempuh perjalanan singkat selama 15 menit, kami merapat di Teluk Semut, Pulau Sempu. Disini perjuangan berat dimulai. Kami sama sekali tidak menaruh curiga pada rute awal yang becek, licin, dan berlumpur sampai kami menyadari perjalanan ini seperti tidak ada habisnya. Kubangan lumpur yang dalam akibat air hujan membuat sendal-sendal kami tidak dapat dipergunakan; akhirnya kami nyeker alias tanpa alas kaki. Terbayang sudah, bebatuan yang tajam, ranting berduri, dan batu karang dengan mudahnya menggores dan menusuk-nusuk telapak kaki kami. Perjalanan naik, turun bukit, jatuh terguling-guling, merangkak, memanjat, terpeleset, ditambah dinginnya hujan menjadi makanan kami selama kurang lebih 4 jam perjalanan. 1 jam terakhir kami habiskan dengan meniti tepian jurang yang licin dengan hanya penerangan senter.  Saya cuma bisa pasrah hingga pada akhirnya kami menjejakkan kaki di Segara Anakan, tempat kami camping pada jam 18.30 malam.

Segara Anakan adalah sebuah segara, atau laut kecil yang dikelilingi oleh perbukitan karang. Segara Anakan hanya bisa ditempuh melalui jalur darat, sebab jalur yang menghubungkannya dengan laut lepas terhalang oleh dinding-dinding karang. Ketika menjejakkan kaki di Segara Anakan, rasanya antara sedih dan senang. Sedih karena memikirkan bagaimana ini besok pulangnya, dan senang karena akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Kami berbagi tugas, laki-laki mendirikan dua buah tenda dan perempuan memasak untuk makan malam. Lihat tampilan kami di foto-foto berikut; mirip sekali dengan pengungsi.

 

 

Setelah makan malam, kami baru menyadari bahwa posisi tenda kami sangat dekat dengan bibir pantai. Ini disebabkan oleh pasang air laut. Dengan sigap, teman-teman lelaki memindahkan tenda ke tempat yang lebih aman. Namun, karena ramainya tempat, kami hanya bisa mendirikan satu buah tenda. Yang laki-laki? Mereka tidur di luar tenda. How sweet!

Cobaan belum berakhir. Menjelang jam 12 malam, hujan mulai turun. Kami yang berada di tenda perempuan panik karena bagian dalam tenda kami berubah menjadi kubangan air. Kami pontang-panting menyelamatkan barang. Saya panik dan entah bingung harus bagaimana lagi menyelamatkan harta saya yang paling berharga: kamera! Tas kamera saya sudah basah kuyup, sementara ransel sangat lembab. Tepat jam 12 malam, hujan berhenti dan perayaan tahun baru dimulai. Masing-masing rombongan adu kebolehan menyalakan kembang api masing-masing.

Sekali lagi, cobaan belum berakhir. Sekitar jam 2 pagi, hujan turun dengan sangat lebat. Saya dan teman-teman yang tertidur pulas sontak kaget karena kubangan air kembali menghiasi tenda. Ada yang cuek, tidur dalam kubangan air tersebut, ada yang tetap tertidur pulas, sementara saya dan sahabat saya Uut mematung memandangi hujan. Kesal, marah, lelah, dan gusar bercampur jadi satu. Kami jelas butuh banyak istirahat untuk menempuh perjalanan pulang esok hari. Para laki-laki berusaha melindungi tenda perempuan dengan berdiri memayungi tenda dan menutupnya dengan poncho. Bahkan sahabat saya si Dika sampai ketiduran hujan-hujanan di depan tenda perempuan dengan hanya menggunakan sarung.

Keesokan paginya, hujan masih saja turun di Segara Anakan.
Kami terbangun jam 5 pagi, melihat pemandangan indah di depan tenda. Bukit-bukit tinggi berwarna hijau dengan air segara yang bening kehijauan sangat memanjakan mata. Kami tidak punya banyak waktu untuk menghimpun tenaga. Segera setelah semuanya sarapan, kami mulai membereskan tenda dan packing.

Tepat jam 9 pagi, kami memulai perjalanan pulang ke Teluk Semut. Perjalanan pulang ternyata jauh lebih sulit. Lumpur-lumpur makin menggila dengan kubangan yang teramat dalam. Ranting berduri, bebatuan dan karang yang tajam belum bosannya menyakiti kaki dan tubuh kami. Perjalanan pulang ditempuh dalam waktu 6 jam. Bayangkan, 6 jam berjalan kaki, menempuh medan yang naik turun miring licin berbatu berlumpur berduri dalam keadaan hujan deras. Rasanya saya mau telepon helikopter saat itu juga untuk menjemput saya pulang. Di jam-jam terakhir, saya mulai oleng dan kehilangan konsentrasi, hingga sahabat  saya si Adip berbaik hati membawakan ransel. Rasanya saya mau menangis. Beban yang dibawa oleh teman laki-laki kami sangat berat. Entah carrier yang berisi tenda, kompor, botol minum itu berbelas-belas kilogram beratnya. Dalam keadaan segenting itu, mereka masih bisa menolong kami, perempuan-perempuan agar selamat dalam perjalanan.
Keadaan menjadi sangat emosional; saya mulai kehilangan kontrol dan berkali-kali terjatuh. Ketika melihat Teluk Semut, saya tidak pernah sebahagia itu melihat pantai. Saya sudah tidak peduli dengan rembesan darah dan luka-luka sobek di kaki, atau baju saya yang compang-camping karena tersangkut duri. Saya tidak peduli dengan hujan deras yang masih setia mengguyur Pulau Sempu pada saat itu. Saya tidak peduli pada badan yang mencapai batas toleransi maksimal. Yang saya pedulikan hanyalah: SAYA SELAMAT. KAMI BERHASIL. KAMI SEMUA BERHASIL.
 
WE ARE SURVIVOR!
Terima kasih untuk Adip, Uut, Dwipa, Yoshi, Breng, Arif, Shinta, Dika, dan Binar.
Terima kasih untuk liburan yang menyenangkan, pengalaman-pengalaman baru, dan segala hal yang kita bagi bersama.
Terima kasih untuk selalu peduli, sayang, saling menjaga, dan bertanggungjawab.
Terima kasih untuk selalu berbuat baik dengan penuh ketulusan.
Kisah tentang liburan tidak pernah seemosional ini.
Saya sayang kalian.

2 Comments

Leave a Reply